Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Yusril: Pilkada via DPRD Lebih Mudah Diawasi, Pilkada Langsung Berbiaya Tinggi

by sigit
Januari 9, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra kembali memantik perdebatan lama soal demokrasi lokal. Ia menilai pemilihan kepala daerah melalui DPRD lebih mudah diawasi daripada pilkada langsung yang melibatkan jutaan pemilih.

“Lebih mudah mengawasi anggota DPRD yang jumlahnya terbatas, dibandingkan mengawasi jutaan pemilih dalam pilkada langsung,” kata Yusril, Jumat (9/1/2026).

Pernyataan ini datang di tengah sorotan publik terhadap mahalnya ongkos politik dan maraknya praktik politik uang dalam pilkada langsung.

Biaya Tinggi, Godaan Korupsi Mengintai

Menurut Yusril, pilkada langsung menyimpan lebih banyak mudarat daripada manfaat. Salah satu biang masalahnya adalah biaya politik yang melambung tinggi, mulai dari logistik kampanye hingga “biaya tak terlihat” di lapangan.

Biaya mahal itu, kata Yusril, sering kali mendorong kepala daerah terpilih untuk menyalahgunakan kekuasaan demi mengembalikan modal politik. Dampak kebijakan ini tidak hanya menggerus APBD, tetapi juga menurunkan kualitas pelayanan publik yang pemerintah korbankan.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Singkatnya, rakyat memilih langsung, tapi rakyat pula yang menanggung akibatnya.

DPRD Diuntungkan, Rakyat Dikesampingkan?

Yusril menilai pemilihan melalui DPRD membuka peluang lebih besar bagi calon kepala daerah yang berkapasitas dan berintegritas. Menurutnya, sistem langsung kerap memberi karpet merah bagi kandidat bermodal besar atau sekadar populer, bukan yang benar-benar kompeten.

Dalam skema ini, partai politik dan elite DPRD memperoleh keuntungan karena mereka memegang kendali penuh atas proses pemilihan . Sebaliknya, kebijakan ini berpotensi mencabut hak rakyat untuk memilih secara langsung hak yang selama ini menjadi inti demokrasi pascareformasi.

Tak Hitam-Putih, Suara Rakyat Tetap Penentu

Meski mengkritik pilkada langsung, Yusril menegaskan bahwa masyarakat dan pemerintah tidak boleh menyikapi perdebatan ini secara hitam-putih. Ia menyebut, kondisi saat ini menuntut perbaikan sistem, bukan sekadar mengganti mekanisme.

Ia mendorong penataan pembiayaan politik, penguatan pengawasan politik uang, serta perbaikan kaderisasi calon kepala daerah oleh partai politik. Yusril juga mengakui adanya aspirasi dari sejumlah partai yang ingin mengembalikan pilkada ke DPRD.

Namun, ia menekankan satu hal: suara rakyat tetap harus menjadi rujukan utama.

“Suara rakyat yang menghendaki pemilihan tidak langsung atau tetap menghendaki pemilihan langsung, wajib disimak secara adil dan bijaksana,” ujarnya.

Catatan Akhir

Pilkada lewat DPRD memang menjanjikan efisiensi dan pengawasan yang lebih mudah. Tapi di sisi lain, demokrasi berisiko menyempit ke ruang-ruang elite. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: ingin pilkada murah dan terkendali, atau tetap mahal tapi memberi rakyat rasa memiliki? Demokrasi, tampaknya, selalu meminta harga tinggal siapa yang harus membayar paling mahal. (red)

Tags: biayadprdHAMimigrasiPilkada

Kamu Melewatkan Ini

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

by dimas
Mei 10, 2026

Kejahatan siber di Indonesia kian terorganisir dan lintas negara. Namun di balik penggerebekan besar jaringan judi online di Jakarta dan...

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

by teguh
Mei 8, 2026

Kamu pasti pernah berharap kuota internet tidak hangus. Tanpa masa aktif. Bisa dipakai kapan saja. Kedengarannya ideal. Tapi operator seluler...

May Day: Benarkah Buruh Sudah Menang atau Hanya Pindah Medan Perang?

May Day: Benarkah Buruh Sudah Menang atau Hanya Pindah Medan Perang?

by dimas
April 23, 2026

Dunia kembali dipaksa menatap satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai: apakah Hari Buruh benar-benar menandai kemenangan pekerja atau hanya...

Next Post
Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Ayah dan Dua Anak di Lombok Barat

Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Ayah dan Dua Anak di Lombok Barat

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id