• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Global

China Cermati Operasi Militer AS di Venezuela, Ungkap Celah Pertahanan Udara

Januari 8, 2026
in Global, News
A A
Konsep Otomatis

Kontainer kontainer di Pelabuhan La Guaira terlihat hangus setelah serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela, Sabtu (3/1/2026). (Foto: AFP/JUAN BARRETO)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – China langsung mencermati operasi militer Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026). Operasi kilat itu tidak hanya mengguncang Caracas, tetapi juga mendorong Beijing menghitung ulang cara Washington mengeksekusi serangan presisi hingga ke jantung kekuasaan sebuah negara.

Sejumlah analis militer China menilai operasi tersebut sebagai peringatan serius. Mereka melihat AS secara sistematis mengeksploitasi titik lemah utama Venezuela, yakni sistem pertahanan udara yang rapuh dan lambat merespons. Padahal, Venezuela selama ini mengandalkan teknologi militer buatan Rusia dan China.

Operasi Kilat AS: Cepat, Sunyi, dan Terukur

Pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS memimpin langsung operasi yang berlangsung sekitar dua jam 20 menit. Mereka menggabungkan serangan siber, pengintaian elektronik, dan manuver taktis di lapangan. Tanpa perlawanan berarti, pasukan AS menculik Maduro dan istrinya dari kediaman resmi di Caracas.

Selanjutnya, helikopter membawa keduanya ke kapal perang AS USS Iwo Jima. Dari sana, AS menerbangkan Maduro ke New York. Kecepatan dan presisi operasi ini menegaskan tingginya koordinasi militer AS sekaligus membuka kelemahan fatal pertahanan Venezuela.

“Operasi ini dapat menjadi studi kasus tambahan bagi China,” ujar Fu Qianshao, analis militer China sekaligus mantan anggota Angkatan Udara, seperti dikutip South China Morning Post, Selasa (6/1/2026).

Pertahanan Rusia dan China Gagal Menahan Serangan

Venezuela sebenarnya mengoperasikan sistem pertahanan udara berlapis. Negara itu menggunakan S-300VM dan Buk-M2 buatan Rusia, serta radar JY-27A produksi China yang diklaim tahan gangguan elektronik. Namun, AS melumpuhkan seluruh sistem tersebut melalui serangan siber dan perang elektronik canggih.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan melontarkan sindiran terbuka terhadap kemampuan teknologi Rusia.

“Sepertinya sistem pertahanan udara Rusia itu tidak berfungsi dengan baik, bukan?” ujarnya dalam pidato militer, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan klaim Pemerintah AS, militer AS mengerahkan lebih dari 150 pesawat tempur, pembom, dan pesawat pengintai ke wilayah udara Venezuela. Armada itu membuka jalur aman bagi helikopter sekaligus menyerang radar dan baterai rudal secara bertahap dan terukur.

Fu menduga militer AS sengaja mengacaukan suplai listrik dan jaringan komunikasi Venezuela. Akibatnya, sistem radar dan komando lumpuh. Bahkan jika sistem S-300 sempat aktif, radar tersebut tetap berpotensi gagal mendeteksi helikopter AS yang terbang rendah, sekitar 30 meter di atas permukaan laut.

Sistem Ada, Kesiapan Tetap Lemah

Fu juga menyoroti radar JY-27A buatan China yang digunakan Venezuela. Meski bersifat portabel dan diklaim tahan gangguan, radar itu tidak terhubung langsung dengan unit penembak rudal. Selain itu, medan perkotaan Caracas menyulitkan radar mendeteksi target secara akurat.

“Pengawasan udara tidak bisa bergantung pada satu radar saja, Sistem Venezuela penuh kekurangan. Respons militernya lambat dan tidak terkoordinasi. Kondisi ini mencerminkan kesiapan tempur yang sangat rendah.” tegas Fu.

Analisis tersebut menegaskan satu pelajaran penting: kepemilikan senjata canggih tidak otomatis menjamin keamanan jika negara gagal menyiapkan sistem terpadu dan personel yang siap bertindak.

Beijing Ambil Pelajaran, Namun Tetap Jaga Jarak

Di China, operasi AS itu memicu diskusi panas di media sosial. Banyak warganet mendesak pemerintah memperkuat ekonomi dan militer nasional demi menjaga kedaulatan negara.

“Negara yang tidak kuat pasti akan ditindas,“Venezuela kaya sumber daya alam, tetapi kini justru masuk jajaran negara termiskin di dunia.” tulis seorang pengguna media sosial.

Meski begitu, tidak semua analis China melihat operasi tersebut sebagai ancaman langsung. Xie Maosong, peneliti senior Institut Studi Strategis Nasional Universitas Tsinghua, menilai perbandingan China dan Venezuela tidak sepadan.

RelatedPosts

Sopir Diduga Mengantuk, Mikrobus Rombongan Wisata Kecelakaan di Banten

Penyiraman Aktivis KontraS, Empat Personel BAIS TNI Jalani Pemeriksaan

“China dan Venezuela sangat berbeda. Dari sisi kekuatan militer dan pertahanan, posisi China jauh lebih kuat dan relatif seimbang dibandingkan AS,” kata Xie. Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan ibu kota dan perlindungan pemimpin China tergolong sangat ketat.

Pandangan serupa disampaikan Li Wei, pakar anti-terorisme dari Institut Hubungan Internasional Kontemporer China. Menurutnya, ketimpangan kekuatan militer dan konflik internal membuat Venezuela sangat rentan.

“Kita tidak melihat respons balik yang efektif dari militer Venezuela, Masalah internal, kegagalan intelijen, dan dugaan kolusi memainkan peran besar.” ujar Li.

Pesan Global: Teknologi Bukan Segalanya

Meski tidak memperkenalkan taktik baru, operasi AS di Venezuela menyampaikan pesan global yang keras. Perang modern tidak lagi bertumpu pada jumlah pasukan, melainkan pada integrasi teknologi, intelijen, dan kecepatan eksekusi.

Bagi China dan negara lain pelajarannya jelas: sistem pertahanan tidak cukup dipamerkan, tetapi harus selalu siap digunakan. Dalam geopolitik, negara yang lengah sering kali baru menyadari kelemahannya ketika semuanya sudah terlambat. @dimas

Tags: Amerika SerikatchinaGeopolitikGlobalIntelijenInternasionalKeamananMiliterModernNicolas MaduroOperasiperangpertahananPolitikStabilitasUdaraVenezuela
Next Post
Matahari Buatan China Tembus Batas Plasma, Energi Bersih Lebih Dekat

Matahari Buatan China Tembus Batas Plasma, Energi Bersih Lebih Dekat

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.