Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gunung Ile Lewotolok Kembali Erupsi, Warga Diminta Waspada

by dimas
Januari 5, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, meletus sebanyak 110 kali pada Minggu (4/1/2026). Pengamatan berlangsung mulai pukul 00.00 Wita hingga 24.00 Wita. Setiap letusan terdengar disertai gemuruh. Data seismograf mencatat amplitudo 9,4–31,6 mm dengan durasi gempa antara 46 hingga 238 detik.

Stanislaus Ara Kian, petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, menjelaskan bahwa letusan disertai gemuruh lemah. Namun, ia mengimbau masyarakat tetap waspada.

“Tinggi kolom abu mencapai 200-300 meter dengan warna putih dan kelabu,” jelasnya. Warna abu tersebut menandakan aktivitas vulkanik yang meningkat.

Aktivitas Gunung yang Masih Fluktuatif

Sejak akhir 2020, Gunung Ile Lewotolok sering mengalami letusan eksplosif. Material pijar, abu vulkanik, dan aliran lava kerap keluar dari kawah puncak. Aktivitas ini menimbulkan hujan abu di wilayah sekitar. Warga terdampak gangguan aktivitas sehari-hari, dan lahan pertanian banyak yang rusak. Pemerintah pun beberapa kali menetapkan status gunung pada level siaga hingga awas.

Stanislaus menekankan, masyarakat tidak perlu panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman. Suara itu merupakan ciri khas fase erupsi yang masih berada pada level II waspada.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

“Kami imbau warga tetap tenang, tetapi jangan lengah. Terutama bagi mereka yang tinggal dalam radius rawan bencana,” tegasnya.

Dampak Langsung bagi Warga

Warga yang tinggal dekat gunung menanggung dampak langsung abu vulkanik. Lahan pertanian rusak, hasil panen menurun, dan mata pencaharian petani terganggu. Selain itu, aktivitas di zona rawan bencana terbatas. Sekolah, pasar, dan transportasi lokal terkadang harus menyesuaikan jadwal.

Kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian serius. Abu vulkanik meningkatkan risiko iritasi mata dan gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan termasuk yang paling rentan. Petugas kesehatan setempat terus mengimbau warga menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah saat abu menebal.

Catatan Reflektif

Gunung Ile Lewotolok mengingatkan bahwa alam tidak mengenal kompromi. Meski pemerintah menetapkan status waspada, erupsi bisa muncul sewaktu-waktu. Aktivitas vulkanik menegaskan satu hal: risiko bencana bukan sekadar angka di seismograf, tapi kehidupan nyata masyarakat yang bergantung pada tanah, udara, dan keamanan lingkungan mereka.

Dalam situasi seperti ini, bersiap bukan berarti panik. Alam sering lebih perkasa daripada rencana manusia. Abu yang jatuh di lahan petani lebih nyata daripada kata “waspada” yang tertulis di layar monitor. @dimas

Tags: bencanaBencana AlamerupsiGunung ApiIle LewotolokKesehatanLembataLetusanLingkunganNusa Tenggara TimurPVMBGSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Banjir Kiriman Lagi: Kenapa Warga Hilir Selalu Jadi Korban?

Banjir Kiriman Lagi: Kenapa Warga Hilir Selalu Jadi Korban?

by teguh
Mei 15, 2026

Pukul 01.30 WIB, sebagian warga Desa Kutorenon masih tertidur. Jalanan tampak lengang, sementara lampu rumah menyala redup di tengah malam...

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

by teguh
Mei 15, 2026

Saat sebagian besar warga masih tertidur lelap, air tiba-tiba masuk ke rumah-rumah di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa...

Desa Dibiarkan Mengurus Sampah Sendiri, Lalu Negara Mengurus Apa?

Desa Dibiarkan Mengurus Sampah Sendiri, Lalu Negara Mengurus Apa?

by teguh
Mei 8, 2026

Pagi di Jalan Raya Dusun Seruni, Desa Banjartanggul, selalu datang bersama bau menyengat. Sebelum kendaraan melintas ramai, tumpukan sampah sudah...

Next Post
“Ini Rumah Saya”: Nenek Elina dan Pertarungan Hukum di Surabaya

Kasus Erlina Jadi Contoh, Kemenkum Jatim Perkuat Pengawasan Ormas

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id