Tabooo.id: Regional – Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, meletus sebanyak 110 kali pada Minggu (4/1/2026). Pengamatan berlangsung mulai pukul 00.00 Wita hingga 24.00 Wita. Setiap letusan terdengar disertai gemuruh. Data seismograf mencatat amplitudo 9,4–31,6 mm dengan durasi gempa antara 46 hingga 238 detik.
Stanislaus Ara Kian, petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, menjelaskan bahwa letusan disertai gemuruh lemah. Namun, ia mengimbau masyarakat tetap waspada.
“Tinggi kolom abu mencapai 200-300 meter dengan warna putih dan kelabu,” jelasnya. Warna abu tersebut menandakan aktivitas vulkanik yang meningkat.
Aktivitas Gunung yang Masih Fluktuatif
Sejak akhir 2020, Gunung Ile Lewotolok sering mengalami letusan eksplosif. Material pijar, abu vulkanik, dan aliran lava kerap keluar dari kawah puncak. Aktivitas ini menimbulkan hujan abu di wilayah sekitar. Warga terdampak gangguan aktivitas sehari-hari, dan lahan pertanian banyak yang rusak. Pemerintah pun beberapa kali menetapkan status gunung pada level siaga hingga awas.
Stanislaus menekankan, masyarakat tidak perlu panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman. Suara itu merupakan ciri khas fase erupsi yang masih berada pada level II waspada.
“Kami imbau warga tetap tenang, tetapi jangan lengah. Terutama bagi mereka yang tinggal dalam radius rawan bencana,” tegasnya.
Dampak Langsung bagi Warga
Warga yang tinggal dekat gunung menanggung dampak langsung abu vulkanik. Lahan pertanian rusak, hasil panen menurun, dan mata pencaharian petani terganggu. Selain itu, aktivitas di zona rawan bencana terbatas. Sekolah, pasar, dan transportasi lokal terkadang harus menyesuaikan jadwal.
Kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian serius. Abu vulkanik meningkatkan risiko iritasi mata dan gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan termasuk yang paling rentan. Petugas kesehatan setempat terus mengimbau warga menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah saat abu menebal.
Catatan Reflektif
Gunung Ile Lewotolok mengingatkan bahwa alam tidak mengenal kompromi. Meski pemerintah menetapkan status waspada, erupsi bisa muncul sewaktu-waktu. Aktivitas vulkanik menegaskan satu hal: risiko bencana bukan sekadar angka di seismograf, tapi kehidupan nyata masyarakat yang bergantung pada tanah, udara, dan keamanan lingkungan mereka.
Dalam situasi seperti ini, bersiap bukan berarti panik. Alam sering lebih perkasa daripada rencana manusia. Abu yang jatuh di lahan petani lebih nyata daripada kata “waspada” yang tertulis di layar monitor. @dimas




