Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu lagi scroll WhatsApp, tiba-tiba muncul chat grup “Mas Menteri Core” yang penuh strategi digitalisasi pendidikan. Tapi tunggu dulu, ini bukan chat biasa percakapan itu bakal dibawa ke persidangan. Serius. Versi Indonesianya “Black Mirror” tapi pakai laptop Chromebook.
Selasa (23/12/2025), Penasihat Hukum Nadiem Makarim, Ari Yusuf, mengumumkan secara dramatis bahwa timnya akan menghadirkan seluruh isi chat grup WA, termasuk “Mas Menteri Core”, di persidangan mendatang.
“Semua grup yang Nadiem ikuti, kami punya chatnya lengkap dan akan ditampilkan di persidangan,” ujar Ari.
Ini bukan sekadar gossip kantor, melainkan bagian dari kisah digitalisasi pendidikan yang katanya revolusioner. Nadiem membuat chat grup itu sebelum resmi menjabat Mendikbudristek, sekitar Agustus 2019. Anggotanya? Teman-teman dekat dari Yayasan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), termasuk Jurist Tan, Najeela Shihab, dan Fiona Handayani. Mereka membahas rencana pengadaan laptop berbasis Chromebook yang kemudian memicu kontroversi publik.
Drama Grup WA yang Bisa Jadi Meme
Ide membawa chat grup WA ke persidangan memang absurd tapi lucu. Bayangkan hakim, jaksa, dan publik menatap layar menampilkan chat “Mas Menteri Core”, lengkap dengan stiker, emoji, dan typo lucu ala grup kantor. Sidang yang biasanya serius mendadak punya vibe seperti episode pertama serial Netflix.
Masalah muncul ketika chat yang semula produktif kini berubah menjadi alat bukti dugaan korupsi. Sebelumnya, jaksa telah membacakan dakwaan tiga terdakwa lain eks konsultan teknologi, direktur SMP, dan direktur SD dengan kerugian negara mencapai Rp 2,1 triliun. Jadi, chat yang tadinya cuma “plan digitalisasi” kini menjadi kunci drama hukum.
Digitalisasi atau Serial Sitkom?
Absurditasnya tidak berhenti di chat grup. Publik menyaksikan teknologi yang seharusnya mempermudah pendidikan kini menjadi bahan cerita hukum. Laptop Chromebook, grup WA, stiker, dan emoji semua menjadi “plot twist” yang bikin masyarakat garuk-garuk kepala.
Akibatnya, kepercayaan publik terhadap digitalisasi pendidikan bisa turun, sementara drama internal kementerian malah menjadi tontonan yang menghibur sekaligus membingungkan. Sementara itu, siswa dan guru yang seharusnya menikmati fasilitas digital, tetap menunggu laptop yang entah kapan sampai.
Sidang WA: Ketika Chat Jadi Bukti
Jika Nadiem dan tim benar-benar membuka chat WA di persidangan, publik bakal belajar satu hal di Indonesia, bahkan grup WhatsApp pun bisa punya ending tragis. Ironis? Tentu. Tapi begitulah dunia digital-politik kita setiap klik, setiap chat, bisa tiba-tiba masuk ke ranah hukum.
Pesan paling pentingnya jangan sembarangan forward chat kantor, siapa tahu besok malah jadi bukti di persidangan. @dimas




