Tabooo.id: Edge – Kalau kamu anak sulung, pasti pernah dengar kalimat sakti: “Kamu harus jadi contoh!” atau “Kamu yang harus ngalah, adikmu masih kecil.” Sekilas terdengar wajar, bahkan penuh kasih. Tapi, kalau ditarik lebih jauh, inilah akar dari beban emosional yang diwariskan turun-temurun: kutukan anak sulung.
Anak Sulung = Mesin Tanggung Jawab?
Dalam banyak keluarga Indonesia, anak sulung otomatis diposisikan sebagai “orang kedua” setelah orangtua. Harus matang lebih cepat, harus sukses lebih dulu, harus jadi penopang keluarga. Bahkan, kalau orangtua kesulitan ekonomi, anak sulunglah yang sering dipaksa mengorbankan cita-cita demi adik-adiknya.
Pertanyaannya: apakah ini pilihan, atau tekanan budaya yang dilegitimasi?
Patriarki dan Legitimasi Budaya
Budaya patriarki di Indonesia sering jadi dalih. Anak laki-laki sulung diharapkan meneruskan nama keluarga, jadi tulang punggung, sekaligus simbol kehormatan. Anak perempuan sulung? Bebannya dobel: harus mandiri, jadi pengasuh cadangan, tapi tetap “menjaga nama baik” dengan standar moral yang kaku.
Di Jawa, ada pepatah halus: “Sing gede ngalah.”
Di Batak, istilah “Si Abang” atau “Si Ito” sarat tanggung jawab keluarga.
Di Minang, yang matrilineal sekalipun, anak sulung perempuan tetap dibebani ekspektasi mengurus rumah, tanah, dan adik-adiknya.
Semua ini terdengar mulia, tapi di baliknya ada harga mahal: kesehatan mental dan kesempatan personal yang terampas.
Trauma yang Dinormalisasi
Berapa banyak anak sulung yang tumbuh dengan identitas “selalu kuat”, tapi diam-diam menyimpan luka?
- Mereka jarang menangis, karena dianggap lemah.
- Mereka jarang protes, karena harus jadi teladan.
- Mereka sering menekan mimpi pribadi, karena harus mendahulukan keluarga.
Dalam psikologi keluarga, ini disebut parentifikasi: anak dipaksa mengambil peran orangtua. Dampaknya? Burnout, depresi, bahkan krisis identitas ketika dewasa.
Namun anehnya, semua ini dianggap “normal”. Seolah-olah pengorbanan anak sulung adalah harga wajib demi keluarga utuh.
Kutukan Terbesar: Perempuan Sulung
Kalau laki-laki sulung diikat oleh ekspektasi prestasi dan ekonomi, perempuan sulung menanggung dua lapis tekanan.
Mereka jadi “ibu kedua” di rumah, tapi juga harus tetap “berprestasi” di luar. Dan ketika gagal? Stigma sosial jatuh lebih keras: “Kamu anak pertama kok nggak bisa jadi contoh?”
Banyak perempuan sulung akhirnya kehilangan kebebasan diri. Karier, pernikahan, bahkan pilihan hidup mereka sering ditentukan oleh beban moral keluarga.
Saatnya Bicara, Bukan Ngalah Terus
Tabu terbesar soal anak sulung adalah ini: kita terlalu sering menormalisasi beban emosional mereka sebagai “tugas mulia”. Padahal, yang mulia itu adalah pilihan sadar, bukan paksaan sistem.
Mungkin sudah waktunya berhenti menyamakan sulung dengan “sumber daya keluarga”. Mereka manusia, bukan mesin tanggung jawab.
Kalau kamu anak sulung, pertanyaannya sederhana: selama ini kamu hidup untuk dirimu sendiri, atau untuk memenuhi ekspektasi patriarki? Dan untuk para orangtua: kapan terakhir kali kamu bilang ke anak sulungmu, “Kamu berhak bahagia tanpa harus jadi penopang semua orang?” @tabooo




