Tabooo.id: Nasional – Presiden kembali terbang ke Aceh, daerah yang kini berubah menjadi hamparan lumpur dan serpihan rumah warga. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa presiden mengajak banyak menteri untuk memastikan penanganan bencana di tiga provinsi “dapat dipercepat.”
Menurut Prasetyo, keputusan membawa rombongan besar menunjukkan bahwa pemerintah ingin menggerakkan seluruh mesin birokrasi.
“Beliau ingin mempercepat penanganan. Karena itu, banyak menteri ikut serta,” ujarnya, Minggu (7/12/2025) sore.
Rapat Darurat
Tak berhenti pada kunjungan lapangan, presiden langsung memanggil para menteri ke rapat koordinasi lintas kementerian. Rapat itu berlangsung malam ini untuk menetapkan langkah-langkah percepatan penanganan bencana.
“Bapak Presiden ingin memimpin rapat secara langsung. Kita akan meng-update situasi dan memutuskan langkah-langkah percepatan,” jelas Prasetyo.
Dengan kata lain, malam ini para pejabat berkumpul di ruangan berpendingin untuk memetakan ulang strategi, sementara di luar sana warga Aceh masih menggigil menunggu kabar tentang rumah, keluarga, dan masa depan mereka.
Gotong Royong Masih Menjadi Tulang Punggung
Di tengah kekacauan, bantuan terus mengalir. Pemerintah mengapresiasi masyarakat dari berbagai daerah yang ikut membantu. Prasetyo menyebut semangat gotong royong sebagai alasan mengapa korban bencana tidak sepenuhnya merasa berjalan sendiri.
“Itulah semangat bangsa kita. Ketika satu daerah mengalami kesusahan, yang lain bergerak ikut membantu,” tambahnya.
Namun, di balik pujian itu, publik tetap bertanya mengapa masyarakat selalu bergerak lebih dulu, sementara negara baru berlari ketika kamera menyala?
Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan
- Diuntungkan:
Pemerintah pusat mendapatkan momentum untuk menunjukkan kecepatan respons, apalagi setelah kritik mengenai keterlambatan penanganan sebelumnya. Momen ini juga memperkuat citra bahwa presiden turun langsung ke lapangan. - Dirugikan:
Warga tetap menanggung beban paling berat. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, dan rasa aman. Koordinasi pemerintah yang seringkali berlapis dari pusat ke daerah membuat bantuan tak selalu tiba secepat narasi yang disampaikan ke publik.
Reflektif atau Sindiran Halus
Rakyat Aceh kini menunggu lebih dari sekadar rapat. Mereka menunggu tindakan nyata. Karena pada akhirnya, air bah selalu datang lebih cepat dibanding keputusan pejabat yang harus melewati lima pintu birokrasi.
Ketika bencana menghantam, alam tak menunggu briefing. Pertanyaannya: kapan pemerintah belajar bergerak setangguh warga yang tak punya pilihan selain bertahan? @dimas





