BEM UI membubarkan aksi di Sudirman dengan lagu yang terus menggema. Delapan tuntutan mahasiswa tetap menjadi pesan yang menunggu jawaban pemerintah.
Tabooo.id – Massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mulai meninggalkan kawasan Gedung UOB, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026) petang.
Sekitar pukul 18.10 WIB, rombongan mahasiswa bergerak meninggalkan lokasi aksi. Mereka terbagi dalam dua kelompok yang berjalan mengapit mobil komando di bagian tengah.
Barisan depan membuka jalan. Mobil komando kemudian bergerak perlahan, sementara kelompok mahasiswa lainnya mengikuti dari belakang. Lagu-lagu aksi terus terdengar melalui pengeras suara ketika rombongan meninggalkan Jalan Jenderal Sudirman.
Suasana perlahan berubah setelah massa bergerak menjauh dari titik aksi. Jalan yang sebelumnya dipenuhi mahasiswa mulai kembali kosong, meski ruas Sudirman menuju Bundaran HI masih ditutup.
Delapan Tuntutan yang Dibawa ke Jalan
Aksi BEM UI hari ini membawa persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar demonstrasi di pusat Jakarta.
Mahasiswa menyampaikan delapan tuntutan yang mencakup ekonomi, korupsi, reforma agraria, kebijakan pemerintah, hubungan pusat dan daerah, bencana, hingga ruang sipil.
Tuntutan pertama meminta penghentian apa yang mereka sebut sebagai penjajahan negara atas rakyat sendiri. Mereka juga mendesak pemerintah menghentikan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Pada sektor agraria, BEM UI meminta pemerintah mewujudkan reforma agraria sejati. Sementara dalam persoalan ekonomi, mereka mendesak penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).
Kritik kemudian diarahkan pada sejumlah program pemerintah. BEM UI meminta evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN) serta penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Hubungan pemerintah pusat dan daerah juga menjadi perhatian. Mahasiswa meminta penghentian pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), sekaligus mengembalikan otonomi daerah.
Dua tuntutan lainnya berkaitan dengan bencana dan ruang sipil. BEM UI meminta penetapan bencana di Sumatra dan Flores sebagai bencana nasional serta percepatan pemulihan wilayah terdampak.
Mereka juga menuntut penghentian represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta pembubaran YON TP.
Aksi Berawal dari Pencegatan
Rangkaian demonstrasi tersebut sebelumnya menghadapi persoalan lokasi.
Massa BEM UI sempat dicegat aparat di Jalan Sudirman ketika hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Mahasiswa kemudian melakukan long march untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan aksi.
Situasi itu membuat demonstrasi tidak hanya menjadi arena penyampaian tuntutan. Perjalanan massa menuju lokasi juga memperlihatkan tarik-menarik antara hak menyampaikan pendapat, pengaturan ruang publik, dan kepentingan menjaga aktivitas masyarakat.
Kini, beberapa jam setelah aksi berlangsung, rombongan memilih meninggalkan kawasan Sudirman.
Sementara itu, ruas Jalan Sudirman menuju Bundaran HI masih ditutup. Jalur dari arah berlawanan terpantau ramai lancar.
Jalanan Kembali Sepi, Tuntutan Belum Usai
Pembubaran massa menandai berakhirnya aksi BEM UI pada hari itu. Namun, delapan tuntutan yang mereka bawa tidak otomatis selesai ketika mahasiswa meninggalkan jalan.
Persoalan harga kebutuhan pokok dan BBM masih menjadi bagian dari tekanan ekonomi masyarakat. Agenda pemberantasan KKN juga berkaitan dengan persoalan tata kelola negara yang lebih panjang.
Begitu pula tuntutan reforma agraria, evaluasi PSN, penghentian MBG dan KDMP, serta pengembalian otonomi daerah. Isu bencana Sumatra dan Flores juga menyangkut proses pemulihan masyarakat terdampak.
Di sisi lain, tuntutan mengenai represivitas dan keterlibatan TNI-Polri dalam ruang sipil menyentuh perdebatan yang lebih mendasar tentang batas kewenangan aparat dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, berakhirnya aksi tidak serta-merta mengakhiri persoalan yang mereka angkat.
Ketika Mahasiswa Pulang
Sore itu, dua kelompok mahasiswa berjalan beriringan meninggalkan Jalan Jenderal Sudirman. Mobil komando berada di tengah barisan. Dari pengeras suara, lagu-lagu masih terdengar ketika rombongan semakin jauh dari titik aksi.
Pemandangan tersebut menjadi penutup demonstrasi yang sejak siang menghadirkan ketegangan di pusat Jakarta.
Massa akhirnya pulang. Jalan perlahan kembali menjadi ruang lalu lintas warga. Namun, delapan tuntutan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Demonstrasi boleh berakhir ketika massa membubarkan diri. Akan tetapi, kritik yang mereka bawa tidak ikut pulang. @dimas








