Tabooo.id: Health – Pernah nggak sih kamu lagi muter lagu favorit, terus tiba-tiba ngerasa hidup kayak sedikit lebih gampang? Kayak Dewa 19 bisa bikin kamu lebih waras saat kerjaan numpuk, atau playlist galau bikin kamu merasa “dipahami” walau sebenarnya cuma lagi bengong di kamar? Nah, kabar baiknya efek musik yang bikin hati adem itu nggak cuma terjadi di kamu. Pada lansia, musik bahkan bisa jadi “tameng” untuk risiko demensia. Iya, beneran dan ini bukan teori random dari grup WhatsApp keluarga.
Sebuah studi terbaru dari Monash University, Australia, bilang bahwa rutin mendengarkan musik bisa menurunkan risiko demensia pada lansia hingga 39 persen. Angkanya lumayan bikin kaget, tapi juga bikin kita bertanya-tanya… kok bisa?
Musik sebagai “Gym” buat Otak Tanpa Keringat
Dalam penelitian besar dengan lebih dari 10.800 peserta lansia usia 70+, para peneliti mengecek kondisi kesehatan dan fungsi kognitif mereka setiap tahun. Hasilnya lumayan mind-blowing mereka yang rutin mendengarkan musik menunjukkan manfaat paling kuat nggak cuma risiko demensia turun 39 persen, tapi risiko gangguan kognitif pun turun 17 persen.
Kalau kamu pikir mendengarkan musik cuma kerjaan santai, ternyata justru otakmu lagi “ngebut”. Penelitian dari Music Cognition Lab di Princeton University menunjukkan bahwa ketika kita mendengarkan musik, hampir seluruh bagian otak aktif bagian yang ngatur emosi, gerakan, sensorik, sampai area yang bertugas buat mikir dan berimajinasi.
Bayangkan aja: satu lagu bisa menyalakan seluruh “lampu ruangan” dalam otak secara bersamaan. Itulah kenapa musik disebut media yang sangat kuat untuk menjaga kesehatan otak, terutama di usia lanjut.
Kenapa Musik Bisa Sebegitu Ampuh?
Kalau dipikir-pikir, musik tuh memang punya efek ajaib. Kamu sedih musik ngertiin. Kamu semangat musik ngepump mood kamu. Kamu lelah musik bikin otak diem dulu sebentar. Dalam konteks lansia, musik berfungsi sebagai pengingat masa muda, pereda stres, dan stimulus mental yang stabil.
Joanne Ryan, peneliti senior dari studi Monash University bilang bahwa musik membuat berbagai area otak “berkomunikasi” secara harmonis. Artinya, mendengarkan musik bukan sekadar aktivitas pasif. Itu latihan mental.
Dan bukan cuma mendengarkan. Bermain alat musik juga punya efek dahsyat menurunkan risiko demensia hingga 35 persen. Bahkan, gabungan mendengarkan + bermain musik bisa menurunkan risiko demensia 33 persen dan gangguan kognitif 22 persen.
Kalau kamu punya kakek-nenek yang dulu pernah main gitar, keyboard, atau angklung di kampung yep, itu ternyata “aset kesehatan” yang luar biasa.
Tapi, Ini Penting: Musik Bukan Obat Ajaib
Meski hasilnya manis, penelitian ini tetap studi observasional. Artinya, para peneliti nggak bisa memastikan musik adalah penyebab langsung turunnya risiko demensia. Mungkin ada faktor lain seperti gaya hidup yang lebih aktif, kesehatan mental yang lebih terjaga, atau lingkungan sosial yang lebih positif.
Tapi hal yang pasti musik berpengaruh. Bahkan, kata Elizabeth Margulis dari Princeton, musik itu seperti “jembatan” yang menghubungkan berbagai bagian otak agar bekerja bareng dengan harmonis. Di saat otak manusia makin rentan karena usia, koneksi-koneksi itu jadi sangat berharga.
Musik, Memori, dan Kita yang (Kadang) Overthinking
Kalau dipikir lagi, musik juga punya peran besar buat kita yang belum lansia, tapi sering merasa “tua di kepala”. Banyak dari kita yang pakai musik buat bertahan hidup dari ngerjain skripsi, healing pas patah hati, sampai menenangkan diri ketika anxiety datang tiba-tiba.
Musik menata emosi, bantu kita fokus, bahkan bikin dunia terasa lebih rapi dari kenyataannya. Jadi ketika penelitian bilang musik melindungi lansia dari penurunan kognitif, rasanya masuk akal banget. Musik adalah sahabat psikologis kita sejak lama.
Jadi… Apa Dampaknya Buat Kamu?
Pertanyaan besar harus nunggu umur 70 dulu biar mulai dengerin musik tiap hari?
Tentu tidak, bestie.
Kalau musik terbukti menjaga kesehatan otak, mood, dan emosi di usia lanjut, berarti kebiasaan kecil kita hari ini bisa jadi investasi mental jangka panjang. Playlist yang kamu putar setiap pagi itu bukan sekadar pengusir sepi tapi juga olahraga untuk otakmu.
Dan mungkin, ini juga pengingat buat generasi kita bahwa merawat diri nggak selalu harus ribet. Kadang, cukup pasang headset, putar lagu yang bikin hati damai, dan biarkan otakmu “bernapas”.
Jadi lain kali kalau orang rumah bilang kamu kebanyakan dengerin musik, jawab aja.
“Ini investasi masa depan, Bu. Biar umur 70 nanti masih ingat password e-wallet.” @dimas





