Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kekeringan Ekstrem di Gunungkidul, Warga Jual Ternak Demi Air

by dimas
Juli 28, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Kekeringan ekstrem di Gunungkidul memaksa warga menjual ayam dan kambing demi membeli air bersih. Krisis kemarau kembali mengungkap rapuhnya akses air di wilayah karst.

Tabooo.id: Gunungkidul – Musim kemarau belum mencapai puncaknya. Namun, bagi sebagian warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, krisis sudah datang lebih dahulu. Di Dusun Kemesu, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, air bersih kini menjadi barang yang nilainya melampaui hasil ternak yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Saat hujan berhenti turun, tandon mulai mengering, dan sumur tak mampu menyediakan air, warga tidak lagi memiliki banyak pilihan. Mereka menjual ayam, bahkan kambing, demi membeli satu tangki air bersih agar keluarga tetap dapat bertahan hidup.

Kemarau Menguras Tandon, Air Menjadi Barang Mewah

Dusun Kemesu berada di kawasan perbukitan karst yang selama bertahun-tahun mengandalkan tampungan air hujan. Wilayah ini tidak memiliki sungai maupun sumur yang mampu memasok kebutuhan air warga sepanjang tahun.

Sutopo (46), warga Kemesu, mengatakan hujan terakhir turun pada April 2026. Air yang tersimpan di tandon hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga hingga sekitar satu bulan.

“Memasuki Mei, kebanyakan stok sudah habis dan warga harus mulai membeli air,” kata Sutopo, Selasa (28/7/2026).

Ini Belum Selesai

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

“Jurnalis Bukan Londo Ireng”, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

Pemasok air menjual satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter seharga Rp120.000. Volume tersebut memang dapat memenuhi kebutuhan satu keluarga selama kurang lebih dua pekan. Namun, biaya itu menjadi beban berat bagi warga yang kehilangan penghasilan selama musim kemarau.

Menjual Ternak Demi Air, Bukan Lagi Demi Keuntungan

Sebanyak 90 persen dari 68 kepala keluarga di Dusun Kemesu bekerja sebagai petani tadah hujan. Ketika kemarau datang, mereka menghentikan aktivitas bertani sehingga sumber pendapatan ikut terputus.

Dalam kondisi tersebut, warga tidak lagi memandang ternak sebagai tabungan keluarga. Mereka menjadikan ayam dan kambing sebagai alat untuk memperoleh air bersih.

“Untuk membeli air, kebanyakan warga harus menjual sebagian ternak ayamnya. Ada juga yang sampai menjual kambing,” ujar Sutopo.

Harga seekor ayam kampung berukuran besar berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000. Sutopo mengaku harus menjual dua ekor ayam kampung untuk membeli satu tangki air.

Peristiwa itu bukan terjadi sekali. Hampir setiap musim kemarau, warga kembali menghadapi situasi yang sama.

Bantuan Datang, Tetapi Belum Menjawab Persoalan

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah membangun tiga titik sambungan air komunal di Dusun Kemesu. Namun, selama musim kemarau, air hanya mengalir satu kali dalam sepekan.

Pemerintah daerah bersama perusahaan swasta, yayasan, dan komunitas sosial juga rutin mengirimkan bantuan air bersih. Hingga akhir Juli, mereka telah mengirim sekitar 50 tangki air ke Dusun Kemesu.

Bantuan tersebut memang mengurangi beban warga. Namun, bantuan itu hanya menjadi solusi jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan yang terus berulang setiap tahun.

Karena itu, warga berharap pemerintah dan lembaga terkait segera mencari sumber air bawah tanah serta membangun sumur bor permanen. Langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap distribusi air bantuan setiap musim kemarau.

El Nino Memperpanjang Derita Kemarau

Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta BMKG, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa wilayah DIY mulai memasuki musim kemarau sejak April hingga Mei 2026.

BMKG memperkirakan puncak kemarau akan berlangsung sepanjang Agustus hingga awal November. Fenomena El Nino berkategori kuat juga memperparah kondisi tersebut dan diprediksi bertahan hingga akhir tahun.

Akibatnya, curah hujan diperkirakan tetap rendah sehingga musim kemarau berlangsung lebih lama dibandingkan pola normal.

Data BMKG menunjukkan Kecamatan Rongkop di Gunungkidul masuk dalam kategori kekeringan ekstrem, yaitu mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan. Kondisi serupa juga muncul di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul. Sementara itu, sebagian besar wilayah DIY telah memasuki kategori siaga kekeringan dengan rentang 31–60 hari tanpa hujan.

BMKG juga memperkirakan musim hujan baru akan tiba pada Januari 2027. Jadwal tersebut lebih lambat dibandingkan pola normal yang biasanya dimulai pada Oktober atau November.

Kekeringan Tak Lagi Sekadar Soal Cuaca

Krisis yang melanda warga Kemesu menunjukkan bahwa kekeringan bukan semata-mata persoalan cuaca. Kondisi ini juga mencerminkan belum kuatnya infrastruktur dasar untuk menjamin akses air bersih.

Selama pemerintah belum menyediakan sumber air permanen, setiap musim kemarau akan terus memaksa warga menjual aset produktif demi memenuhi kebutuhan paling mendasar, seperti minum, memasak, dan mandi.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, sebagian warga Gunungkidul masih berjuang memperoleh hak paling dasar sebagai manusia, yaitu akses terhadap air bersih. Bagi mereka, kemerdekaan tidak diukur dari kemeriahan upacara atau perayaan. Kemerdekaan terasa nyata ketika air dapat mengalir dari keran tanpa harus lebih dulu menjual ternak. @dimas

Tags: Air BersihGunungkidulKekeringan EkstremKrisis Air

Kamu Melewatkan Ini

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

by dimas
Juli 26, 2026

El Nino ekstrem diperkirakan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan, kekeringan, kebakaran hutan, dan...

Veda Ega Siap Bangkit: Saat Anak Gunungkidul Menantang Aspal Eropa

Veda Ega Siap Bangkit: Saat Anak Gunungkidul Menantang Aspal Eropa

by teguh
April 21, 2026

Kadang kekalahan bukan akhir lomba, melainkan awal cerita baru. Itulah momen yang kini dibawa pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama,...

Petani Punk: Saat Anak Jalanan Menanam Harga Diri di Tanah Sendiri

Petani Punk: Saat Anak Jalanan Menanam Harga Diri di Tanah Sendiri

by teguh
April 16, 2026

Tabooo.id: Deep - Di Padukuhan Kalangan, Gunungkidul, pagi bergerak pelan seperti biasa. Matahari naik perlahan. Jalan kampung masih lengang. Namun,...

Next Post
Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id