Leluhur Nusantara ternyata sudah membangun sistem sanitasi, irigasi, dan tata kota yang sangat maju jauh sebelum istilah smart city lahir. Majapahit, Sriwijaya, Bali, hingga Mataram Kuno memahami bagaimana air, lingkungan, dan manusia harus hidup selaras, bukan saling menghancurkan. Ironisnya, kota-kota modern sibuk mengejar konsep sustainability, tetapi masih gagal memahami cara hidup selaras dengan alam seperti yang pernah dilakukan peradaban Nusantara ratusan tahun lalu.
Tabooo.id: Ada ironi yang sering luput dibicarakan.
Hari ini, kota-kota modern sibuk bicara smart city, green infrastructure, sampai sustainability. Tapi ratusan tahun lalu, leluhur Nusantara ternyata sudah membangun sistem yang jauh lebih selaras dengan alam yaitu tanpa beton brutal, tanpa teknologi digital, bahkan tanpa jargon “ramah lingkungan”.
Majapahit punya jaringan kanal raksasa.
Sriwijaya membangun tata kota rawa berbasis ekologi.
Bali menciptakan sistem distribusi air demokratis lewat Subak.
Mataram Kuno memahami mitigasi lereng vulkanik jauh sebelum istilah disaster management lahir.
Ini bukan sekadar sejarah romantis.
Ini bukti bahwa Nusantara pernah punya pengetahuan teknik, sanitasi, dan tata ruang yang sangat maju.
Kota Majapahit Tidak Dibangun Asal Jadi
Di Trowulan, pusat Kerajaan Majapahit, para arkeolog menemukan sistem kanal yang membentuk pola kisi-kisi raksasa. Kanal ini bukan hanya saluran air biasa. Ia berfungsi sebagai drainase kota, transportasi internal, sekaligus pengendali banjir.
Bayangkan ini:
abad ke-13, ketika banyak kota dunia masih berkutat dengan sanitasi buruk, Majapahit sudah membangun:
- kanal terintegrasi,
- waduk penampung,
- sistem pipa bawah tanah,
- hingga pengatur debit air otomatis.
Kolam Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder bukan sekadar tempat tampung air. Mereka adalah reservoir ekologis untuk menjaga kelembaban tanah saat kemarau panjang melanda.
Para arkeolog menemukan pipa-pipa terakota kuno tersebar di kawasan Trowulan sebagai bagian dari sistem distribusi air Majapahit. Para perancangnya sudah merancang bentuk pipa itu untuk mengatur tekanan air dan mendistribusikan aliran secara stabil. Beberapa menggunakan sambungan berbentuk huruf “T” layaknya sistem plumbing modern.
Lucunya?
Hari ini banyak kota modern masih gagal urus drainase sederhana.
Candi Tikus Bukan Sekadar Tempat Ritual
Banyak orang melihat situs kuno hanya dari sisi spiritual.
Padahal para peneliti menduga Candi Tikus juga berfungsi sebagai sistem pengatur air. Ketika debit air tanah meningkat akibat hujan ekstrem, saluran bawah tanah akan otomatis membuang kelebihan air ke sungai sekunder.
Artinya:
bangunan suci sekaligus berfungsi sebagai infrastruktur mitigasi banjir.
Di titik ini, batas antara spiritualitas, teknik, dan lingkungan nyaris hilang.
Leluhur Nusantara tampaknya tidak memisahkan alam dari kehidupan sosial. Mereka membangun kota dengan memahami cara alam bekerja, bukan melawannya.
Sanitasi Nusantara Ternyata Sangat Maju
Salah satu temuan paling menarik adalah Sumur Jobong.
Para arkeolog menemukan sumur ini di kawasan Peneleh, Surabaya, sebagai peninggalan era Majapahit. Dindingnya menggunakan silinder terakota tebal untuk mencegah longsor tanah sekaligus menyaring air limbah permukaan.
Dengan kata lain:
mereka sudah memahami konsep filtrasi alami dan perlindungan air bersih.
Sementara di lereng Gunung Penanggungan, Petirtaan Jolotundo memperlihatkan teknologi pemurnian air berbasis akuifer vulkanik alami. Air melewati penyaringan alami melalui batuan andesit gunung sebelum masyarakat mengalirkannya ke kolam suci dan area persawahan warga.
Air bersih, sanitasi publik, ritual, dan irigasi berjalan dalam satu sistem terpadu.
Ini bukan sekadar teknologi.
Ini filosofi hidup.
Bali dan Demokrasi Air yang Bertahan Ribuan Tahun
Kalau hari ini para elite sering menguasai distribusi sumber daya, masyarakat Bali justru membangun sistem pengelolaan air berbasis musyawarah bernama Subak.
Subak bukan cuma irigasi.
Ia adalah organisasi sosial.
Petani menentukan jadwal tanam bersama, membagi air secara proporsional, dan menggunakan sistem cakangan untuk memastikan distribusi tetap adil.
Tanpa sensor digital.
Tanpa AI.
Bahkan tanpa dashboard.
Tapi presisinya luar biasa.
Yang menarik, masyarakat Bali mempertahankan sistem Subak selama lebih dari seribu tahun dengan membangunnya di atas prinsip harmoni sosial dan ekologis.
Bukan eksploitasi maksimal.
Sriwijaya Sudah Memahami Ekologi Rawa
Kerajaan Sriwijaya menghadapi tantangan berbeda.
Wilayah Palembang memiliki hamparan rawa pasang surut yang membuat kawasan itu rentan mengalami banjir dan intrusi air laut. Tapi alih-alih mengeringkan rawa, Sriwijaya justru menyesuaikan tata ruang kota dengan dinamika air.
Mereka membangun:
- kanal besar,
- pulau buatan,
- kolam retensi,
- dan sistem pengendali pasang surut alami.
Prasasti Talang Tuo bahkan menunjukkan adanya kebijakan konservasi lingkungan sejak abad ke-7. Raja Sri Jayanasa memerintahkan penanaman pohon yang berfungsi menjaga ekosistem gambut dan ketahanan pangan.
Jadi ketika hari ini dunia sibuk bicara ecological restoration, Nusantara sebenarnya pernah melakukannya berabad-abad lalu.
Leluhur Kita Sudah Bicara Mitigasi Bencana
Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro memperlihatkan bagaimana masyarakat Mataram Kuno memahami risiko vulkanik.
Mereka membangun:
- terasering batu,
- drainase lereng,
- rumah fleksibel tahan getaran,
- hingga sistem penyimpanan pangan tahan lembab.
Semua dibuat untuk hidup berdampingan dengan gunung api.
Bahkan prasasti-prasasti kuno seperti Prasasti Tugu, Harinjing, dan Kamalagyan mencatat proyek pengendalian banjir dan rekayasa sungai yang sangat kompleks.
Artinya:
mitigasi bencana bukan konsep baru di Nusantara.
Yang baru justru amnesia kita terhadap pengetahuan itu.
Ini Bukan Sekadar Sejarah. Ini Kritik untuk Kota Modern
Hari ini, banyak kota dibangun dengan logika melawan alam:
- sungai dibeton,
- rawa ditimbun,
- ruang hijau dipadatkan,
- air dipaksa mengalir secepat mungkin.
Hasilnya?
Banjir makin brutal.
Krisis air makin dekat.
Suhu kota makin gila.
Ironisnya, leluhur Nusantara justru membangun sistem yang lebih adaptif, lebih ekologis, dan lebih manusiawi.
Mereka memahami satu hal penting:
alam bukan musuh pembangunan.
Dan mungkin, di situlah peradaban modern mulai kehilangan arah. @waras





