Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kekerasan di Kampus Naik: Yang Rusak Bukan Hanya Korban, Tapi Kepercayaan

by dimas
Mei 20, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Laporan kekerasan di kampus terus meningkat. Bukan cuma korban yang terluka, tapi juga kepercayaan mahasiswa terhadap ruang pendidikan yang seharusnya aman.

Tabooo.id – Lampu-lampu kampus masih menyala sampai malam. Ruang kelas tetap penuh diskusi. Poster tentang kebebasan berpikir menempel di dinding fakultas. Namun, di balik suasana akademik yang terlihat ideal itu, banyak mahasiswa hidup dengan rasa takut yang tidak pernah benar-benar hilang.

Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman justru terus memelihara kekerasan.

Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan laporan kekerasan di perguruan tinggi meningkat tajam dalam empat tahun terakhir. Pada 2021, kampus hanya mencatat 19 laporan. Jumlah itu melonjak menjadi 155 kasus pada 2022, naik lagi menjadi sekitar 500 kasus pada 2023, lalu mencapai 909 kasus pada 2024.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek Beny Bandanadjaja menyebut kekerasan di kampus sebagai fenomena gunung es. Banyak korban memilih diam karena takut kehilangan posisi sosial, takut menerima stigma, atau takut orang lain menyalahkan mereka.

Ironisnya, kampus sering membiarkan kekerasan tumbuh lewat hal-hal yang terlihat biasa.

Ini Belum Selesai

Kenapa Guru Harus Demonstrasi untuk Didengar?

Fransisca: Anak 11 Tahun yang Tubuhnya Dihancurkan Kerusuhan

Ketika Tradisi Kampus Menormalisasi Luka

Candaan seksual saat ospek masih muncul di banyak kampus. Senior sering mempermalukan junior atas nama tradisi. Beberapa dosen memanfaatkan relasi kuasa secara tidak sehat. Grup percakapan mahasiswa pun kadang berubah menjadi ruang pelecehan digital.

Sebagian orang menganggap semua itu sekadar dinamika kampus. Padahal, banyak mahasiswa memendam luka karena pengalaman tersebut.

Masalah terbesar bukan hanya tindakan pelaku. Budaya diam ikut memperpanjang umur kekerasan di lingkungan akademik.

Korban sering menyimpan cerita sendiri karena kampus lebih sibuk menjaga nama institusi daripada membangun rasa aman mahasiswa. Saat korban melapor, mereka harus mengulang pengalaman traumatis berkali-kali. Situasi itu membuat banyak mahasiswa memilih mundur sebelum proses berjalan.

Persoalan ini akhirnya bergerak lebih jauh dari sekadar tindakan individu. Relasi kuasa yang tidak sehat ikut membentuk lingkungan yang memberi ruang aman bagi pelaku.

Satgas Hadir, Tetapi Ketakutan Masih Bertahan

Kemendiktisaintek terus mendorong pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT). Seluruh perguruan tinggi negeri kini sudah memiliki satgas. Sementara itu, sekitar separuh perguruan tinggi swasta mulai membangun lembaga serupa.

Namun, keberadaan satgas belum sepenuhnya mengubah rasa aman mahasiswa.

Sebagian mahasiswa masih belum memahami bahwa penghinaan verbal termasuk kekerasan psikis. Banyak orang membungkus kontrol berlebihan dalam relasi dengan alasan perhatian. Sebagian mahasiswa juga menganggap pelecehan digital bukan masalah serius karena terjadi lewat layar.

Padahal, trauma tetap meninggalkan luka meski tidak muncul dalam bentuk fisik.

Kemendiktisaintek kini memasukkan edukasi soal kekerasan ke dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Langkah itu penting karena banyak mahasiswa baru datang tanpa pemahaman tentang batas relasi sehat dan bentuk kekerasan nonfisik.

Kekerasan Digital Membuka Luka Baru

Kasus dugaan kekerasan seksual berbasis elektronik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia memperlihatkan bagaimana teknologi mengubah bentuk kekerasan di lingkungan kampus. Tim pemeriksa kini memeriksa korban, saksi, dan pihak terlapor. Mereka juga menelusuri bukti percakapan digital dari rentang 2024 hingga 2026.

Kasus itu memperlihatkan satu kenyataan penting: teknologi membuat kekerasan bergerak lebih cepat sekaligus meninggalkan luka yang lebih panjang.

Kekerasan digital memang tidak selalu meninggalkan bekas fisik. Namun pengalaman itu mampu menghancurkan rasa aman, kesehatan mental, bahkan masa depan korban. Sebagian mahasiswa kehilangan percaya diri. Sebagian lain menjauh dari lingkungan sosial. Ada juga mahasiswa yang memilih pindah kampus demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Kampus perlahan kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang tumbuh.

Mahasiswa datang untuk belajar berpikir kritis, membangun masa depan, dan menemukan identitas diri. Namun sebagian justru pulang membawa trauma yang diam-diam mengubah hidup mereka.

Kampus Tidak Bisa Hanya Menjaga Reputasi

Persoalan ini bukan sekadar soal naiknya angka laporan kekerasan. Masalah ini menyangkut generasi muda yang mulai mempertanyakan apakah ruang pendidikan benar-benar peduli pada manusia atau hanya sibuk menjaga citra institusi.

Banyak kampus bangga berbicara tentang prestasi, akreditasi, dan ranking dunia. Namun ukuran paling dasar pendidikan sebenarnya sederhana: apakah mahasiswa merasa aman untuk hidup dan bertumbuh di dalamnya?

Pendidikan kehilangan makna ketika rasa takut lebih besar daripada rasa ingin belajar.

Dan mungkin, luka paling sunyi di kampus bukan nilai buruk atau tugas yang menumpuk. Luka itu muncul ketika seseorang merasa sendirian di tempat yang seharusnya menjadi rumah intelektual. @dimas

Tags: Kekerasan KampusKekerasan Seksual KampusRuang Aman MahasiswaSatgas PPKPT

Kamu Melewatkan Ini

Mahasiswa UIN Walisongo Geram: Ruang Aman Jangan Berhenti Jadi Slogan

Mahasiswa UIN Walisongo Geram: Ruang Aman Jangan Berhenti Jadi Slogan

by dimas
Mei 12, 2026

Mahasiswa UIN Walisongo menuntut transparansi penanganan dugaan kekerasan seksual oleh dosen. Kasus viral ini membuka krisis kepercayaan terhadap sistem kampus....

Next Post
Tabooology Melawan Pikiran yang Masih Berlutut

Tabooology Melawan Pikiran yang Masih Berlutut

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026

Wacana Beras Satu Harga, Bulog Buka Kartu Soal Rugi

Desember 30, 2025

Kota Sehat, Papua Sekarat: Ironi Layanan Kesehatan Indonesia

November 27, 2025
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id