Laporan kekerasan di kampus terus meningkat. Bukan cuma korban yang terluka, tapi juga kepercayaan mahasiswa terhadap ruang pendidikan yang seharusnya aman.
Tabooo.id – Lampu-lampu kampus masih menyala sampai malam. Ruang kelas tetap penuh diskusi. Poster tentang kebebasan berpikir menempel di dinding fakultas. Namun, di balik suasana akademik yang terlihat ideal itu, banyak mahasiswa hidup dengan rasa takut yang tidak pernah benar-benar hilang.
Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman justru terus memelihara kekerasan.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek Beny Bandanadjaja menyebut kekerasan di kampus sebagai fenomena gunung es. Banyak korban memilih diam karena takut kehilangan posisi sosial, takut menerima stigma, atau takut orang lain menyalahkan mereka.
Ironisnya, kampus sering membiarkan kekerasan tumbuh lewat hal-hal yang terlihat biasa.
Ketika Tradisi Kampus Menormalisasi Luka
Candaan seksual saat ospek masih muncul di banyak kampus. Senior sering mempermalukan junior atas nama tradisi. Beberapa dosen memanfaatkan relasi kuasa secara tidak sehat. Grup percakapan mahasiswa pun kadang berubah menjadi ruang pelecehan digital.
Sebagian orang menganggap semua itu sekadar dinamika kampus. Padahal, banyak mahasiswa memendam luka karena pengalaman tersebut.
Masalah terbesar bukan hanya tindakan pelaku. Budaya diam ikut memperpanjang umur kekerasan di lingkungan akademik.
Korban sering menyimpan cerita sendiri karena kampus lebih sibuk menjaga nama institusi daripada membangun rasa aman mahasiswa. Saat korban melapor, mereka harus mengulang pengalaman traumatis berkali-kali. Situasi itu membuat banyak mahasiswa memilih mundur sebelum proses berjalan.
Persoalan ini akhirnya bergerak lebih jauh dari sekadar tindakan individu. Relasi kuasa yang tidak sehat ikut membentuk lingkungan yang memberi ruang aman bagi pelaku.
Satgas Hadir, Tetapi Ketakutan Masih Bertahan
Kemendiktisaintek terus mendorong pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT). Seluruh perguruan tinggi negeri kini sudah memiliki satgas. Sementara itu, sekitar separuh perguruan tinggi swasta mulai membangun lembaga serupa.
Namun, keberadaan satgas belum sepenuhnya mengubah rasa aman mahasiswa.
Sebagian mahasiswa masih belum memahami bahwa penghinaan verbal termasuk kekerasan psikis. Banyak orang membungkus kontrol berlebihan dalam relasi dengan alasan perhatian. Sebagian mahasiswa juga menganggap pelecehan digital bukan masalah serius karena terjadi lewat layar.
Padahal, trauma tetap meninggalkan luka meski tidak muncul dalam bentuk fisik.
Kemendiktisaintek kini memasukkan edukasi soal kekerasan ke dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Langkah itu penting karena banyak mahasiswa baru datang tanpa pemahaman tentang batas relasi sehat dan bentuk kekerasan nonfisik.
Kekerasan Digital Membuka Luka Baru
Kasus dugaan kekerasan seksual berbasis elektronik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia memperlihatkan bagaimana teknologi mengubah bentuk kekerasan di lingkungan kampus. Tim pemeriksa kini memeriksa korban, saksi, dan pihak terlapor. Mereka juga menelusuri bukti percakapan digital dari rentang 2024 hingga 2026.
Kasus itu memperlihatkan satu kenyataan penting: teknologi membuat kekerasan bergerak lebih cepat sekaligus meninggalkan luka yang lebih panjang.
Kekerasan digital memang tidak selalu meninggalkan bekas fisik. Namun pengalaman itu mampu menghancurkan rasa aman, kesehatan mental, bahkan masa depan korban. Sebagian mahasiswa kehilangan percaya diri. Sebagian lain menjauh dari lingkungan sosial. Ada juga mahasiswa yang memilih pindah kampus demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Kampus perlahan kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang tumbuh.
Mahasiswa datang untuk belajar berpikir kritis, membangun masa depan, dan menemukan identitas diri. Namun sebagian justru pulang membawa trauma yang diam-diam mengubah hidup mereka.
Kampus Tidak Bisa Hanya Menjaga Reputasi
Persoalan ini bukan sekadar soal naiknya angka laporan kekerasan. Masalah ini menyangkut generasi muda yang mulai mempertanyakan apakah ruang pendidikan benar-benar peduli pada manusia atau hanya sibuk menjaga citra institusi.
Banyak kampus bangga berbicara tentang prestasi, akreditasi, dan ranking dunia. Namun ukuran paling dasar pendidikan sebenarnya sederhana: apakah mahasiswa merasa aman untuk hidup dan bertumbuh di dalamnya?
Pendidikan kehilangan makna ketika rasa takut lebih besar daripada rasa ingin belajar.
Dan mungkin, luka paling sunyi di kampus bukan nilai buruk atau tugas yang menumpuk. Luka itu muncul ketika seseorang merasa sendirian di tempat yang seharusnya menjadi rumah intelektual. @dimas



