Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Zaman Survival Mode, Kelas Menengah Indonesia Masih Ada?

by Waras
Mei 20, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Dulu, kelas menengah identik dengan hidup yang “aman”. Punya kerja tetap. Bisa cicil rumah. Nongkrong sesekali tanpa harus cek saldo dulu. Liburan setahun sekali masih terasa realistis. Sekarang?

Tabooo.id: Sadar gak kalau generasi sekarang sedang hidup dalam fenomena yang disebut lipstick effect?

Fenomena ini muncul ketika orang tidak lagi mampu membeli kemewahan besar, lalu mulai mencari kebahagiaan kecil yang masih bisa dijangkau.

Karena di tengah hidup yang makin mahal, self reward kecil terasa seperti cara paling murah untuk menjaga kewarasan.

Dan generasi hari ini hidup di era yang aneh.

Beli rumah terasa mustahil.
Kerja stabil makin langka.
Tabungan sering kalah cepat dengan biaya hidup.

Ini Belum Selesai

Reformasi Gagal, Mengapa Sekarang Kembali Digelorakan?

Kebangkitan Nasional di Era Algoritma dan Perlawanan Digital

Akhirnya, banyak orang berhenti mengejar hidup ideal dan mulai fokus bertahan sampai akhir bulan.

Mereka tidak membeli lip tint karena merasa kaya.

Mereka membeli sesuatu kecil karena hidup terlalu sering terasa kosong.

Produktif di Luar, Kelelahan di Dalam

Hidup saat ini seperti survival mode berkedok produktif.

Gaji masuk, lalu langsung pecah jadi tagihan. Harga makan naik. Biaya hidup naik. Tapi anehnya, checkout skincare tetap jalan. Matcha tetap dibeli. Coffee shop tetap penuh.

Lalu muncul komentar klasik:
“Katanya susah, kok masih nongkrong?”

Masalahnya mungkin bukan masyarakat yang terlalu konsumtif.

Mungkin masyarakat memang sedang terlalu lelah.

Karena setelah hari panjang yang menguras tenaga dan pikiran, manusia tetap mencari cara untuk menghadiahi dirinya sendiri—walau cuma lewat kopi dingin dan paket diskon tengah malam.

Kelas Menengah atau Kelas Bertahan Hidup?

Ini pertanyaan yang mulai terasa relevan:

Apakah kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?

Karena banyak orang hari ini terlihat “baik-baik saja” di media sosial, tapi perlahan hidup mereka dari payday ke payday.

Mereka kerja full time.
Punya laptop.
Akses internet.
Punya lifestyle urban.

Tapi satu keadaan darurat saja bisa menghancurkan stabilitas finansial mereka.

Ironisnya, kelas menengah sekarang justru sering tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.

Mereka hidup di zona abu-abu:
terlihat stabil, padahal rapuh.

Ketika Masa Depan Terasa Terlalu Mahal

Fenomena lain mulai muncul: doom spending.

Belanja impulsif karena masa depan terasa terlalu suram untuk direncanakan.

Kalimat seperti:
“Rumah aja nggak kebeli, yaudah nikmatin kopi dulu.”
atau
“Hidup udah capek, masa nggak boleh checkout satu barang?”

pelan-pelan berubah jadi budaya.

Bukan karena generasi sekarang malas menabung.

Tapi karena banyak yang mulai kehilangan hubungan emosional dengan masa depan.

Kalau kerja keras saja belum tentu cukup untuk hidup aman, orang akhirnya mencari bahagia dalam bentuk paling kecil dan paling cepat.

Mungkin Kita Tidak Boros. Kita Cuma Capek

Masyarakat sering menyalahkan generasi muda karena dianggap terlalu konsumtif.

Padahal realitanya lebih kompleks.

Orang membeli hal kecil bukan selalu karena ingin pamer.

Kadang mereka cuma ingin merasa hidupnya masih punya sedikit rasa senang di tengah tekanan yang tidak berhenti datang.

Dan mungkin, satire paling menyakitkan hari ini adalah:

Generasi sekarang tidak lagi belanja untuk terlihat kaya.

Mereka belanja supaya tidak merasa hidupnya sepenuhnya hancur.

Lalu menurutmu, kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?
Atau sekarang semuanya cuma sedang berusaha terlihat baik-baik saja? @waras

Tags: budaya konsumtifdoom spendingkesehatan mental gen zlipstick effectTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Cara Modern Membeli Sedikit Kewarasan Untuk Dopamine Sesaat

Cara Modern Membeli Sedikit Kewarasan Untuk Dopamine Sesaat

by Waras
Mei 20, 2026

Akhir bulan datang. Saldo mulai tipis, harga hidup terus naik. Tapi anehnya, checkout skincare tetap jalan dan parfum kecil tetap...

Ironi Kerja Kayak Budak, Hidup Tetap Minus

Ironi Kerja Kayak Budak, Hidup Tetap Minus

by Waras
Mei 19, 2026

Upah kerja masuk tiap awal bulan. Lalu hilang pelan-pelan sebelum tanggal tua datang. Harga kebutuhan naik tanpa rasa bersalah, sementara...

Negara Bilang Ekonomi Aman, Kenapa Belanja Mingguan Makin Menyeramkan?

Negara Bilang Ekonomi Aman, Kenapa Belanja Mingguan Makin Menyeramkan?

by dimas
Mei 17, 2026

Pemerintah bilang ekonomi aman. Namun, rakyat merasakan harga kebutuhan pokok terus naik akibat rupiah melemah dan biaya hidup membengkak. Tabooo.id...

Next Post
Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Pacitan Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Berkekuatan 6,4 Magnitudo Guncang Pacitan

Februari 6, 2026

KPK Tetapkan Reza Maullana Sebagai Tersangka Suap Proyek Kereta Api

Februari 3, 2026

Dari Desa ke Karung: Jejak Uang Korupsi Bupati Pati

Januari 22, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id