Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tenggat 18 Hari untuk Rupiah, Mahasiswa Bawa Ancaman Reformasi

by dimas
Juni 8, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Mahasiswa memberi tenggat 18 hari kepada pemerintah untuk menguatkan rupiah. Di baliknya, muncul ancaman Reformasi Jilid 2.

Tabooo.id – Menjelang senja, lembaran-lembaran uang beterbangan di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah. Namun itu bukan rupiah sungguhan. Itu uang mainan. Simbol. Pesan. Sekaligus peringatan yang sengaja mereka kirim ke pusat kekuasaan.

Di atas spanduk bertuliskan “RIP. Rupiah Sekarat”, mahasiswa menaburkan bunga layaknya mengantar jenazah ke pemakaman. Beberapa menit kemudian, mereka membakar tumpukan uang mainan itu. Asap tipis naik ke langit Semarang sambil membawa pertanyaan yang semakin sering muncul di ruang publik seberapa buruk kondisi ekonomi hingga mahasiswa mulai menyebut Reformasi Jilid 2?

Pada Jumat (5/6/2026), mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jawa Tengah turun ke jalan. Mereka datang dari Semarang dan Surakarta. Selain membawa poster dan pengeras suara, mereka juga membawa ultimatum.

BEM SI Jateng memberi pemerintah waktu 18 hari.

Jika pemerintah gagal menunjukkan langkah nyata untuk memperkuat rupiah dan menstabilkan ekonomi, mahasiswa mengancam menggelar demonstrasi besar bertajuk “Reformasi Jilid 2.”

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Kalimat itu bukan slogan biasa.

Di Indonesia, reformasi bukan sekadar istilah politik. Kata itu menyimpan memori kolektif tentang krisis ekonomi, kemarahan publik, dan runtuhnya legitimasi kekuasaan.

Rupiah yang Menjelma Kecemasan

Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang, Kevin Priambodo, mengatakan aksi tersebut lahir dari keresahan yang terus menumpuk.

Baginya, pelemahan rupiah sudah melampaui persoalan angka di layar perdagangan valuta asing. Nilai tukar kini berubah menjadi simbol ketidakpastian yang mulai menghantui masyarakat.

Kemarahan mahasiswa tidak semata-mata muncul karena kurs dolar. Mereka menilai pemerintah terlalu sering menunjukkan optimisme, sementara publik melihat tanda-tanda tekanan ekonomi yang semakin nyata.

Dalam orasinya, Kevin melontarkan kritik keras terhadap pemerintah yang dianggap lebih fokus mempertahankan program-program besar ketimbang menjawab kegelisahan masyarakat.

Mahasiswa tidak membakar uang mainan untuk menghina rupiah. Sebaliknya, mereka ingin menunjukkan bahwa mata uang nasional sedang kehilangan daya tahannya.

Melalui aksi simbolik itu, mereka menggambarkan ekonomi yang tampak stabil dari luar tetapi menyimpan kecemasan di dalam.

Bukan Sekadar Soal Nilai Tukar

Persoalan yang mereka soroti jauh lebih besar daripada kurs dolar.

Sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi jarang bermula dari angka statistik. Krisis biasanya lahir saat masyarakat kehilangan kepercayaan.

Rasa tidak aman muncul ketika warga mulai khawatir harga kebutuhan pokok dapat melonjak kapan saja. Kekhawatiran yang sama muncul saat mahasiswa melihat masa depan semakin mahal dan sulit dijangkau.

Pada titik tertentu, publik tidak lagi mempertanyakan angka pertumbuhan ekonomi. Mereka mulai mempertanyakan arah perjalanan negara.

Karena itu, demonstrasi ini tidak cukup dibaca sebagai protes terhadap pelemahan rupiah.

Aksi tersebut mencerminkan keresahan sosial yang lebih dalam.

Generasi muda mulai mengirim sinyal bahwa mereka tidak puas dengan respons pemerintah terhadap tekanan ekonomi yang berkembang.

Bom Waktu Bernama Kepercayaan

Kevin menggambarkan situasi saat ini sebagai bom waktu yang terus berdetak.

Menurutnya, stabilitas harga BBM masih bergantung pada subsidi negara. Di saat yang sama, pemerintah terus menjalankan berbagai program prioritas yang membutuhkan anggaran besar.

Jika tekanan fiskal semakin berat, ruang pemerintah untuk mempertahankan subsidi akan semakin sempit.

Dampaknya mudah diprediksi.

Harga BBM berpotensi naik.

Biaya distribusi ikut meningkat.

Harga kebutuhan pokok terdorong naik.

Daya beli masyarakat melemah.

Kelompok berpenghasilan rendah menjadi pihak pertama yang menanggung beban tersebut.

Inilah kekhawatiran utama mahasiswa.

Mereka tidak sedang memperdebatkan angka kurs semata. Mereka memperingatkan efek berantai yang dapat menghantam kehidupan masyarakat luas.

Reformasi Jilid 2 atau Alarm Bahaya?

Ketua BEM Universitas Sebelas Maret, M Kailani Rizqi Pratama, menegaskan bahwa mahasiswa sebenarnya tidak ingin melihat Reformasi Jilid 2 terjadi.

Pernyataan itu justru memperlihatkan ironi yang menarik.

Mahasiswa tidak menginginkan gejolak besar. Namun mereka merasa perlu mengucapkan kata reformasi agar pemerintah menangkap pesan yang mereka kirim.

Tujuan mereka bukan merayakan kemungkinan kekacauan politik.

Mereka ingin memperingatkan bahwa ketidakpuasan publik bisa tumbuh lebih besar jika pemerintah gagal merespons situasi ekonomi.

Di sinilah makna sebenarnya dari ancaman tersebut.

Generasi yang tidak mengalami langsung Reformasi 1998 mulai menggunakan bahasa reformasi sebagai alat peringatan politik. Fenomena itu menunjukkan bahwa memori krisis masih hidup dalam kesadaran kolektif bangsa.

Jalanan Sedang Mengirim Pesan

Bank Indonesia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari berbagai faktor global, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Secara teknis, penjelasan itu masuk akal.

Namun politik tidak hanya berbicara tentang data.

Masyarakat juga menilai apakah mereka masih merasa aman.

Sering kali jarak antara indikator ekonomi dan perasaan publik menjadi terlalu lebar. Ketika itu terjadi, statistik kehilangan kemampuannya untuk menenangkan masyarakat.

Aksi mahasiswa di Semarang mungkin tidak melibatkan massa dalam jumlah besar.

Namun sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perubahan sering berawal dari kelompok kecil yang menolak diam.

Belum ada tanda bahwa Indonesia sedang menuju reformasi baru.

Meski begitu, satu hal tampak jelas.

Mahasiswa sebenarnya tidak sedang menguji kekuatan rupiah.

Mereka sedang menguji kemampuan negara menjaga kepercayaan publik.

Sebab dalam setiap krisis ekonomi, aset paling berharga bukan cadangan devisa ataupun angka pertumbuhan.

Aset terpenting adalah kepercayaan.

Saat kepercayaan mulai retak, jalanan biasanya menjadi tempat pertama yang menyampaikan kabar itu. @dimas

Tags: BEM SI Jatenggerakan mahasiswaKrisis KepercayaanPolitik EkonomiReformasi Jilid 2Rupiah MelemahTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Bergerak dari Kota Pahlawan Surabaya Untuk Menggugat Syahwat Kekuasaan

Bergerak dari Kota Pahlawan Surabaya Untuk Menggugat Syahwat Kekuasaan

by teguh
Juni 9, 2026

"Ketika lembaga perwakilan rakyat hanya berfungsi sebagai stempel karet bagi eksekutif, maka jalanan menjadi parlemen alternatif." Pernyataan Yudi Latif dalam...

Mahasiswa Bosan Politik Kampus, Solusinya: Hapus Pemilu

Mahasiswa Bosan Politik Kampus, Solusinya: Hapus Pemilu

by teguh
Juni 6, 2026

Selama puluhan tahun, mahasiswa berdiri di barisan depan saat mengkritik praktik politik yang mereka anggap sarat oligarki, penuh perebutan kekuasaan,...

Ketika Mahasiswa Tak Lagi Percaya Pemilu Kampus

Ketika Mahasiswa Tak Lagi Percaya Pemilu Kampus

by teguh
Juni 5, 2026

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menghadirkan peristiwa yang tidak biasa di Universitas Gadjah Mada. Di Bundaran Boulevard UGM, ruang...

Next Post
Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id