Rakyat desa memang tidak memakai dollar. Namun, pelemahan rupiah tetap masuk ke dapur rakyat lewat harga BBM, pupuk, dan kebutuhan pokok.
Tabooo.id – Presiden Prabowo Subianto benar ketika mengatakan rakyat desa tidak memakai dollar AS dalam transaksi sehari-hari. Di pasar kampung, orang membeli cabai, beras, dan telur dengan rupiah. Petani juga tidak membawa dollar saat membeli pupuk atau bibit.
Namun, ekonomi tidak bekerja sesederhana pidato politik.
Meski rakyat desa tidak memegang dollar secara langsung, dampaknya tetap menyusup ke kehidupan sehari-hari. Nilai tukar rupiah yang melemah ikut memengaruhi harga BBM, pupuk, logistik, hingga bahan pangan impor. Akibatnya, rakyat kecil tetap membayar efek gejolak global meski tidak pernah menukar uang di money changer.
Masalahnya, publik sering disuguhi narasi yang terdengar menenangkan, tetapi terlalu menyederhanakan realitas.
Padahal, bagi masyarakat kecil, ekonomi bukan soal grafik di layar bursa. Mereka menilai kondisi negara lewat isi dapur, harga sembako, dan ongkos hidup yang terus merangkak naik.
Dollar Memang Tidak Dipakai, Tapi Dampaknya Tetap Dibayar
Petani di desa mungkin tidak memantau kurs rupiah setiap pagi. Akan tetapi, mereka langsung sadar ketika harga pupuk naik. Nelayan juga mungkin tidak membaca laporan Bloomberg. Namun, mereka tahu solar, oli, dan suku cadang perahu semakin mahal.
Sementara itu, pedagang kecil merasakan perubahan lewat harga distributor yang terus bergerak. Di sisi lain, ibu rumah tangga mulai mengurangi belanja karena uang yang sama membawa pulang barang lebih sedikit.
Ironisnya, rakyat kecil selalu menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan ekonomi. Mereka tidak menikmati keuntungan besar dari perdagangan global. Namun, ketika rupiah melemah, merekalah yang pertama kali terkena imbasnya.
BPS mencatat impor Indonesia pada Januari hingga Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dollar AS. Angka itu naik lebih dari 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, impor bahan baku dan energi masih mendominasi kebutuhan industri nasional. Dampaknya kemudian merembet ke berbagai sektor kehidupan rakyat.
Karena itu, pelemahan rupiah tidak berhenti di ruang rapat ekonom atau pasar saham. Efeknya berjalan pelan melalui rantai distribusi. Hari ini importir menghitung ulang biaya produksi. Setelah itu, distributor menaikkan harga. Lalu, pedagang pasar mulai menyesuaikan harga eceran.
Ujungnya tetap sama: rakyat membeli barang yang sama dengan harga lebih mahal.
Negara Bicara Stabilitas, Rakyat Bicara Bertahan Hidup
Pemerintah memang perlu menjaga optimisme publik. Dalam situasi global yang tidak menentu, kepanikan bisa memperburuk keadaan. Meski begitu, optimisme tanpa kejujuran justru terasa seperti penghiburan kosong.
Sebab, rakyat tidak membutuhkan slogan yang terlalu ringan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa harga pangan tetap terkendali dan kebutuhan dasar tetap terjangkau.
Di sinilah jarak antara pidato dan kenyataan mulai terlihat.
Negara sering mengukur ekonomi lewat angka pertumbuhan, cadangan devisa, dan stabilitas pasar. Sebaliknya, masyarakat mengukur ekonomi dari hal yang jauh lebih sederhana: apakah beras masih terbeli, apakah ongkos transportasi masih masuk akal, dan apakah uang belanja cukup sampai akhir bulan.
Selain itu, wilayah terpencil menghadapi tekanan yang lebih berat. Ongkos distribusi membuat harga barang di daerah kepulauan dan pegunungan jauh lebih mahal. Semakin panjang rantai logistik, semakin besar biaya yang akhirnya dibebankan kepada masyarakat.
Lucunya, rakyat yang paling jauh dari pusat ekonomi justru sering membayar paling mahal.
Ini Bukan Sekadar Kurs Rupiah, Tapi Pola Lama Ekonomi Rapuh
Masalah utama sebenarnya bukan hanya dollar yang menguat. Persoalan yang lebih besar adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku, energi, dan logistik.
Akibatnya, setiap rupiah melemah, harga kebutuhan hidup ikut goyah. Situasi ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih rentan terhadap tekanan global.
Di titik itu, kritik publik menjadi masuk akal.
Kalimat “rakyat desa tidak pakai dollar” mungkin terdengar sederhana dan menenangkan. Akan tetapi, kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Dollar memang tidak hadir sebagai uang kertas di tangan rakyat desa. Namun, ia muncul dalam harga BBM, pupuk, kedelai, gandum, hingga ongkos angkut barang ke kampung-kampung.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa berhenti pada narasi simbolik semata.
Yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar pidato optimistis. Mereka ingin bukti nyata bahwa negara mampu menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah juga perlu memastikan subsidi tepat sasaran, distribusi pangan terkendali, dan produksi dalam negeri semakin kuat.
Sebab, bagi rakyat kecil, stabilitas ekonomi bukan soal kurs di layar televisi.
Stabilitas ekonomi berarti harga beras masih masuk akal, solar tetap terbeli, pupuk tersedia, dan uang belanja tidak habis sebelum waktunya.
Jadi, benar rakyat desa tidak memakai dollar. Namun, ketika rupiah melemah dan harga terus naik, rakyat desa tetap ikut membayar akibatnya. @dimas





