Kamis, Juni 11, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Cum Laude Massal: Ketika Nilai Tinggi Kehilangan Harga Diri

by dimas
Mei 15, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Cum laude kini tak lagi menjamin masa depan. Inflasi IPK membuat nilai akademik kehilangan makna, sementara dunia kerja menuntut kemampuan nyata.

Tabooo – Ruang wisuda itu penuh senyum. Orang tua sibuk memotret. Kamera ponsel menyala dari segala arah. Nama mahasiswa dipanggil satu per satu, lalu tepuk tangan menggema hampir tanpa jeda.

Di tengah ruangan itu, predikat cum laude terdengar berkali-kali.

Terlalu sering.

Sampai kehilangan efek kejutnya.

Dulu, predikat cum laude terasa istimewa. Mahasiswa dengan IPK di atas 3,5 dianggap sosok langka. Mereka rela begadang, menolak liburan, bahkan mengorbankan kehidupan sosial demi nilai sempurna.

Ini Belum Selesai

Vonis Kasus Andrie Yunus: Keadilan atau Sekadar Formalitas?

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Sekarang situasinya berbeda.

Satu baris kursi wisuda kadang dipenuhi lulusan cum laude. Kampus membagikan predikat itu seperti bonus tahunan. Sementara itu, dunia kerja mulai memandangnya dengan cara berbeda.

Ironisnya, semakin banyak mahasiswa menyandang predikat unggul, semakin banyak perusahaan justru meragukan arti keunggulan itu.

Karena ketika semua orang terlihat hebat, kata “hebat” perlahan kehilangan bobotnya.

Inflasi Nilai dan Kampus yang Sibuk Menjual Prestise

Fenomena ini bukan sekadar rasa pesimistis generasi muda. Data Kemendiktisaintek menunjukkan rata-rata IPK mahasiswa Indonesia terus meningkat setelah pandemi Covid-19. Pada 2021, rata-rata IPK sarjana berada di angka 3,18. Dua tahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 3,39.

Beberapa kampus ternama mencatat angka lebih tinggi. Universitas Gadjah Mada mencapai rata-rata IPK 3,59 pada 2024. Sementara itu, Universitas Padjadjaran mencatat rata-rata 3,62 sejak 2023.

Artinya sederhana standar yang dulu terasa luar biasa kini berubah menjadi hal biasa.

Masalah muncul ketika kampus lebih sibuk mengejar citra daripada menjaga kualitas makna nilai itu sendiri.

Transkrip mulai berubah menjadi etalase prestasi. Nilai naik hampir di semua jurusan. Predikat cum laude muncul di mana-mana. Brosur kampus pun tampak semakin cantik karena dipenuhi statistik lulusan berprestasi.

“Lihat, kampus kami menghasilkan mahasiswa unggul.”

Kalimat itu terdengar membanggakan. Namun, pertanyaannya tetap sama, unggul untuk siapa?

Sebab di luar pagar kampus, dunia nyata memakai ukuran berbeda.

Dunia Kerja Tidak Lagi Terkesan oleh Angka

Perusahaan kini jarang terpukau hanya karena IPK tinggi. Mereka lebih sering mencari kemampuan komunikasi, pengalaman organisasi, literasi digital, serta kemampuan menyelesaikan masalah nyata.

Karena itu, banyak fresh graduate mengalami benturan keras dengan realitas.

Mereka membawa transkrip nyaris sempurna. Namun, sebagian masih gugup saat presentasi pertama. Sebagian lain bingung menyusun ide sederhana. Ada pula yang kesulitan bekerja dalam tim karena terlalu lama hidup dalam budaya kompetisi individual.

Di titik itu, banyak lulusan mulai sadar, IPK tinggi ternyata tidak otomatis membuat hidup lebih mudah.

Lebih menyakitkan lagi, sebagian mahasiswa menggantungkan harga dirinya pada angka akademik. Selama bertahun-tahun mereka terus mendengar kalimat yang sama:
nilai tinggi berarti masa depan aman.

Padahal hidup tidak sesederhana tabel indeks prestasi.

Kampus memang mengajarkan teori. Namun, kehidupan menuntut hal lain. Dunia kerja meminta mental tahan banting, keberanian menghadapi tekanan, dan kemampuan beradaptasi saat keadaan berubah mendadak.

Sayangnya, banyak mahasiswa justru tumbuh dalam ketakutan terhadap kegagalan.

Mereka takut nilai jelek.
Sebagian memilih menghindari risiko.
Banyak pula yang takut terlihat biasa.

Akibatnya, pendidikan berubah menjadi perlombaan validasi.

Pendidikan yang Sibuk Memproduksi Simbol

Masalah terbesar sebenarnya bukan berada pada mahasiswa cum laude. Banyak dari mereka bekerja keras dan layak mendapat apresiasi.

Masalah utama justru muncul dari sistem yang perlahan mengubah pendidikan menjadi industri simbol keberhasilan.

IPK mengalami inflasi.

Fenomena itu mirip uang yang dicetak terlalu banyak. Jumlahnya naik, tetapi nilainya perlahan turun.

Dulu, IPK 3,8 membuat seseorang tampak menonjol. Sekarang HRD mungkin menerima ratusan CV dengan angka serupa hanya dalam satu minggu.

Karena itu, perusahaan mulai mencari sesuatu yang tidak tercetak di transkrip, cara berpikir, kemampuan berbicara, serta kematangan menghadapi tekanan hidup.

Namun, media sosial justru memperparah ilusi kesempurnaan akademik.

LinkedIn dipenuhi cerita produktivitas. Instagram menampilkan foto toga dan caption perjuangan. TikTok ramai dengan tutorial “cara lulus cum laude.”

Semuanya tampak rapi.
Semuanya tampak berhasil.

Padahal setelah wisuda selesai, banyak lulusan masuk ke fase paling sunyi dalam hidupnya.

Sebagian mengirim puluhan lamaran tanpa balasan. Banyak yang merasa kosong setelah tidak lagi mengejar nilai. Ada juga yang mulai sadar bahwa dunia nyata tidak memberi penghargaan hanya karena seseorang pernah ranking kelas.

Di situlah ironi pendidikan modern terlihat jelas, kita terlalu sibuk mengejar pengakuan akademik sampai lupa belajar menghadapi kehidupan nyata.

Ketika Angka Lebih Dipuja daripada Manusia

Budaya pendidikan hari ini membuat masyarakat semakin memuja simbol.

Orang lebih bangga memamerkan IPK daripada kemampuan mendengar orang lain. Banyak mahasiswa mengejar sertifikat tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri.

Sementara itu, kampus ikut menikmati situasi tersebut.

Semakin tinggi rata-rata IPK lulusan, semakin bagus citra institusi.

Namun, kehidupan tidak pernah bertanya:
“Berapa IPK Anda?”

Hidup justru mengajukan pertanyaan yang jauh lebih kejam:
“Kalau semuanya runtuh, apakah kamu mampu berdiri lagi?”

Dan mungkin di situlah letak masalah terbesar pendidikan hari ini.

Kita berhasil mencetak banyak lulusan berprestasi.
Namun, kita belum tentu berhasil membentuk manusia yang siap menghadapi kenyataan. @dimas

Tags: Cum Laude MassalDunia Kerja IndonesiaInflasi IPKKrisis PendidikanMahasiswa Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Mahasiswa Tak Lagi Percaya Pemilu Kampus

Ketika Mahasiswa Tak Lagi Percaya Pemilu Kampus

by teguh
Juni 5, 2026

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menghadirkan peristiwa yang tidak biasa di Universitas Gadjah Mada. Di Bundaran Boulevard UGM, ruang...

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

by dimas
Juni 3, 2026

Sekolah atau pabrik pekerja? Mengupas bagaimana pendidikan modern lebih menekankan kepatuhan daripada kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan dunia kerja....

Nilai TKA Jeblok, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekolah Indonesia?

Nilai TKA Jeblok, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekolah Indonesia?

by dimas
Mei 30, 2026

Nilai TKA jeblok menjadi alarm keras bagi pendidikan Indonesia. Nilai Matematika SD-SMP masih rendah, sementara literasi dan numerasi belum membaik....

Next Post
Pemutihan Sejarah: Ketika Luka Korban Dikalahkan Politik Kekuasaan

Pemutihan Sejarah: Ketika Luka Korban Dikalahkan Politik Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id