Nilai TKA jeblok menjadi alarm keras bagi pendidikan Indonesia. Nilai Matematika SD-SMP masih rendah, sementara literasi dan numerasi belum membaik.
Tabooo.id: Reality – Angka sering kali berbicara lebih jujur daripada pidato panjang. Kali ini, angka-angka itu membawa kabar yang tidak nyaman.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi murid Indonesia masih tertinggal. Nilai rata-rata Matematika jenjang SD hanya mencapai 42,41. Di tingkat SMP, nilainya bahkan turun menjadi 40,34.
Sementara itu, rata-rata nilai Bahasa Indonesia berada di angka 60,14 untuk SD dan 60,83 untuk SMP.
Data ini tidak sekadar menggambarkan hasil ujian. Data ini memperlihatkan kondisi pendidikan nasional yang masih menghadapi persoalan mendasar.
Angka Rendah yang Sulit Dibantah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengumumkan hasil TKA pada 26 Mei 2026. Pemerintah merancang tes ini untuk memetakan kemampuan akademik murid secara nasional.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menegaskan bahwa TKA bukan alat untuk memberi label kepada sekolah, daerah, ataupun murid.
Menurutnya, TKA berfungsi sebagai instrumen evaluasi yang membantu pemerintah melihat capaian pendidikan secara lebih utuh.
Namun, hasil yang muncul justru memperlihatkan tantangan besar.
Hanya 9,67 persen murid SMP yang berhasil masuk kategori baik pada mata pelajaran Matematika. Artinya, lebih dari 90 persen peserta belum mencapai kemampuan yang diharapkan.
Mereka masih kesulitan menerapkan strategi penyelesaian masalah dalam berbagai konteks, terutama untuk persoalan yang kompleks dan tidak terstruktur.
Persoalannya Bukan Sekadar Murid
Banyak orang langsung menyalahkan murid ketika melihat nilai rendah. Padahal persoalannya jauh lebih rumit.
Kualitas pembelajaran masih berbeda antarwilayah. Banyak sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana belajar. Sebagian sekolah bahkan belum memiliki jumlah komputer yang memadai untuk melaksanakan asesmen berbasis digital.
Akibatnya, beberapa sekolah harus menggelar TKA hingga empat gelombang. Guru dan orang tua pun terpaksa meminjamkan laptop pribadi agar murid tetap bisa mengikuti ujian.
Di sejumlah daerah terpencil, tantangannya bahkan lebih berat.
Ada murid yang harus menyeberangi lautan menuju sekolah lain hanya untuk mengikuti tes. Mereka berjuang mendapatkan akses pendidikan dasar yang seharusnya tersedia tanpa hambatan.
Ketika Integritas Ikut Diuji
TKA 2026 juga membuka masalah lain yang tidak kalah serius.
Panitia menemukan siaran langsung pengerjaan soal, kebocoran soal melalui media sosial, penjualan soal, penggunaan gawai ilegal, hingga penyebaran dasbor pengawas.
Beberapa peserta menerima teguran. Sebagian lainnya langsung menerima nilai nol karena melanggar aturan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya menghadapi persoalan kompetensi akademik.
Pendidikan juga menghadapi tantangan integritas.
Ketika sebagian orang lebih mengejar angka daripada proses belajar, sekolah kehilangan salah satu fungsi utamanya, yaitu membentuk karakter.
Guru dan Fasilitas Masih Menjadi Kunci
Pengamat pendidikan dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jejen Musfah, menilai banyak faktor memengaruhi rendahnya hasil TKA.
Ia menyoroti kualitas pembelajaran, kompetensi guru, fasilitas belajar, serta dukungan keluarga sebagai faktor yang saling berkaitan.
Karena itu, Jejen mendorong pemerintah memfokuskan anggaran pendidikan pada peningkatan fasilitas belajar dan perekrutan guru berkualitas.
Pandangan tersebut mengingatkan kita pada satu hal penting.
Selama bertahun-tahun Indonesia terus membicarakan reformasi pendidikan. Pemerintah mengganti kurikulum, memperluas digitalisasi sekolah, dan meluncurkan berbagai program pembelajaran.
Namun hasil TKA menunjukkan bahwa perubahan besar belum sepenuhnya terasa di ruang kelas.
TKA Menjadi Cermin Mutu Pendidikan Nasional
TKA sebenarnya bukan sekadar alat ukur akademik, TKA berfungsi sebagai cermin yang memperlihatkan kualitas sumber daya manusia yang sedang dipersiapkan Indonesia.
Di tengah persaingan global, kemampuan membaca, memahami informasi, dan memecahkan masalah matematika menjadi keterampilan dasar yang menentukan masa depan generasi muda.
Karena itu, rendahnya nilai TKA tidak boleh berhenti sebagai statistik tahunan.
Pemerintah perlu menjadikannya sebagai alarm kebijakan. Sekolah perlu menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Orang tua perlu menjadikannya sebagai refleksi bersama.
Ini Bukan Sekadar Nilai, Ini Soal Masa Depan
Hasil TKA 2026 tidak sedang bercerita tentang angka semata.
Hasil itu bercerita tentang jutaan anak yang akan memasuki dunia kerja, membangun ekonomi, dan menentukan arah bangsa pada masa depan.
Ketika rata-rata nilai Matematika bahkan belum menembus angka 45, persoalannya bukan lagi soal rapor.
Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan mampu membekali generasi muda dengan kemampuan yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang semakin kompetitif.
Karena pada akhirnya, angka-angka itu tidak sedang mengukur kecerdasan anak-anak Indonesia.
Angka-angka itu sedang mengukur seberapa serius negara mempersiapkan masa depan mereka.ngun.
Karena pada akhirnya, angka-angka itu tidak sedang bercerita tentang anak-anak Indonesia.
Angka-angka itu sedang bercerita tentang seberapa serius negara mendidik mereka. @dimas







