Mengapa banyak orang sulit menjadi kaya? Bukan sekadar soal kerja keras, tetapi sistem yang belum memberi kesempatan yang setara bagi semua.
Tabooo.id – Suatu hari, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenyataan yang tidak nyaman.
Menurutnya, rakyat Indonesia sebenarnya tidak bermimpi hidup kaya raya. Mereka hanya ingin hidup layak. Punya pekerjaan yang pantas, rumah yang nyaman, makanan bergizi, dan pendidikan yang mampu mengangkat masa depan anak-anak mereka.
Sekilas, kalimat itu terasa masuk akal. Namun jika direnungkan lebih dalam, muncul pertanyaan yang jauh lebih mengganggu.
Mengapa begitu banyak orang hanya berani bermimpi hidup layak?
Bukankah setiap manusia berhak bermimpi lebih tinggi?
Ketika Impian Diperkecil Sebelum Sempat Tumbuh
Lihatlah percakapan yang sering terjadi di banyak rumah.
Seorang anak berbicara tentang cita-cita besar. Orang tuanya lalu menjawab dengan kalimat yang sangat akrab di telinga kita.
“Cari pekerjaan yang aman.”
“Yang penting tetap dapat gaji setiap bulan.”
“Jangan terlalu tinggi bermimpinya.”
Nasihat seperti itu lahir bukan karena orang tua membenci ambisi. Mereka justru ingin melindungi anak-anaknya dari kekecewaan yang pernah mereka alami.
Puluhan tahun bekerja mengajarkan satu hal yang pahit. Kerja keras tidak selalu membawa seseorang naik kelas. Banyak orang sudah menguras tenaga seumur hidup, tetapi tetap kesulitan membeli rumah, membiayai pendidikan, atau menyiapkan masa tua.
Karena itu, sebagian keluarga memilih mengecilkan harapan sebelum kenyataan menghancurkannya.
Di titik itulah mimpi mulai kehilangan ruang hidup.
Kerja Keras Sering Kalah oleh Akses
Kita tumbuh dengan cerita yang sama.
Belajar rajin, bekerja keras, lalu sukses.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak selalu mengikuti rumus tersebut.
Ada orang yang bekerja dua belas jam sehari tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, ada lulusan terbaik yang kalah bersaing dengan mereka yang memiliki koneksi lebih kuat dan ada pekerja produktif yang menerima kenaikan upah jauh lebih lambat dibanding kenaikan biaya hidup.
Sementara itu, sebagian orang memperoleh jalan yang lebih mulus sejak awal karena lahir dalam lingkungan yang memiliki akses pendidikan, modal, jaringan, dan kesempatan lebih besar.
Situasi ini menunjukkan satu hal penting.
Kesuksesan bukan hanya soal usaha pribadi. Sistem juga menentukan seberapa jauh seseorang bisa melangkah.
Ketimpangan Tidak Hanya Menguras Dompet
Banyak orang memahami kemiskinan sebagai kekurangan uang.
Padahal dampaknya jauh lebih luas daripada saldo rekening.
Kemiskinan sering memaksa seseorang mengubur cita-citanya sebelum sempat berkembang. Kondisi itu juga membuat banyak anak muda memilih jalan paling aman karena takut gagal secara ekonomi.
Sebagian keluarga bahkan harus mengorbankan pendidikan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Lambat laun, rasa takut menggantikan keberanian.
Ketika itu terjadi, masyarakat tidak hanya kehilangan penghasilan. Mereka juga kehilangan keyakinan bahwa masa depan bisa berubah.
Mengapa Negara Perlu Membenahi Sistemnya?
Sebagai mahasiswa yang mempelajari pengembangan sumber daya manusia, saya melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda.
Manusia bukan sekadar tenaga kerja. Mereka memiliki harapan, potensi, dan aspirasi.
Karena itu, negara tidak cukup hanya menyediakan lapangan pekerjaan. Negara juga perlu membuka jalur mobilitas sosial yang adil.
Pemerintah perlu memastikan upah bergerak seiring produktivitas. Dunia pendidikan harus memberi akses yang lebih setara. Program peningkatan keterampilan mesti menjangkau kelompok yang selama ini tertinggal.
Selain itu, perlindungan sosial perlu hadir secara nyata agar masyarakat tidak terus hidup dalam ketakutan kehilangan pekerjaan atau jatuh miskin akibat satu krisis.
Langkah-langkah tersebut bukan hadiah. Itu adalah syarat dasar agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Hidup Layak Bukan Garis Finish
Barangkali inilah bagian yang paling penting.
Rakyat memang tidak harus menjadi miliarder. Tidak semua orang ingin memiliki jet pribadi atau rekening tanpa batas.
Namun hidup layak seharusnya tidak menjadi puncak pencapaian sebuah negara.
Hidup layak adalah fondasi.
Di atas fondasi itulah setiap warga bisa membangun impiannya sendiri.
Seorang anak petani harus punya peluang yang sama untuk menjadi ilmuwan. Anak buruh berhak bercita-cita menjadi pengusaha besar. Mereka yang lahir dalam kemiskinan juga pantas membayangkan masa depan yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup.
Karena persoalannya bukan apakah semua orang akan kaya.
Persoalannya adalah apakah semua orang memperoleh kesempatan yang adil untuk mencoba.
Jika kesempatan hanya beredar di lingkaran yang sama, maka ketimpangan akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kemiskinan bukan sekadar soal uang yang kurang.
Kemiskinan muncul ketika seseorang kehilangan akses, kehilangan peluang, dan kehilangan keberanian untuk bermimpi.
Maka ketika Presiden berbicara tentang hidup layak, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar angka pertumbuhan ekonomi.
Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah ini:
Apakah negara sudah menciptakan sistem yang memungkinkan anak dari keluarga paling miskin sekalipun bermimpi setinggi langit tanpa dianggap naif?
Sebab hidup layak bukan garis finish.
Hidup layak hanyalah garis start bagi masyarakat yang ingin tumbuh lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat. @dimas







