Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Banjir Kiriman Lagi: Kenapa Warga Hilir Selalu Jadi Korban?

by teguh
Mei 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Pukul 01.30 WIB, sebagian warga Desa Kutorenon masih tertidur. Jalanan tampak lengang, sementara lampu rumah menyala redup di tengah malam yang terlihat biasa saja. Tidak ada suara petir besar. Bahkan hujan deras nyaris tidak terasa. Namun, air tiba-tiba datang Dan inilah banjir kiriman lagi yang berasal dari hulu.

Tabooo.id – Awalnya genangan bergerak pelan dari halaman rumah. Setelah itu, air merambat ke teras lalu masuk ke ruang tamu. Dalam waktu singkat, kepanikan menyebar lebih cepat daripada arus sungai. Kejadian banjir kiriman ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi

Warga langsung mengangkat televisi dan barang elektronik ke tempat lebih tinggi. Sebagian orang membangunkan anak-anak yang masih tidur, sedangkan keluarga lain berlari keluar rumah sambil menggigil. Di beberapa rumah, sofa mulai mengapung. Pada saat yang sama, air menenggelamkan kendaraan yang terparkir di garasi.

Banjir akhirnya masuk ke sekitar 300 rumah di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Ketinggian air bahkan mencapai 80 hingga 150 sentimeter.

Yang membuat warga bingung, langit malam itu tidak menunjukkan tanda hujan besar. Lalu, dari mana air datang?

Air Datang Saat Langit Terlihat Tenang

Dana, warga Kutorenon, masih mengingat jelas situasi malam itu. Menurutnya, wilayah mereka hanya menerima gerimis sebentar.

Ini Belum Selesai

Dwifungsi Belum Mati? Revisi UU TNI Membuka Luka Lama Indonesia

Mengapa Judi Online Begitu Mudah Memikat Anak?

“Kalau di sini tidak hujan, tadi cuma gerimis bentar, sepertinya di atas (hulu) hujan deras,” katanya, Jumat (15/05/2026).

Dugaan Dana ternyata mengarah ke sumber masalah.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa Sungai Menjangan meluap setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu di Kecamatan Senduro dan Gucialit. Selain itu, debit air yang terus meningkat memicu kerusakan bendungan hingga air meluber ke permukiman.

“Meluapnya air Sungai Menjangan karena intensitas hujan yang tinggi di daerah hulu,” ujar Isnugroho.

Artinya, ancaman malam itu tidak muncul dari hujan di atas rumah warga sendiri. Sebaliknya, air bergerak dari tempat lain.

Karena itu, warga hilir sering menghadapi ancaman yang terasa lebih menakutkan: cuaca terlihat aman, tetapi bahaya sebenarnya sudah bergerak dari wilayah atas.

Ketika Hulu Bermasalah, Hilir Menanggung Kerugian

Banjir kiriman sebenarnya bukan cerita baru. Di banyak daerah Indonesia, pola seperti ini terus berulang. Hujan deras turun di kawasan pegunungan. Setelah itu, sungai kehilangan kapasitas menahan debit air. Akibatnya, air bergerak cepat menuju permukiman di bawah. Ironisnya, warga hilir hampir tidak pernah ikut menentukan penyebab masalah.

Masyarakat tidak membuka lahan di pegunungan. Mereka juga tidak menentukan izin pembangunan kawasan resapan. Sementara itu, pemerintah memegang kendali penuh terhadap tata ruang dan pengelolaan bendungan.

Namun ketika debit air melonjak, masyarakat paling rentan justru menerima dampak paling besar.

Pengamat tata ruang dan mitigasi lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Dicky Edwin Hindarto, menjelaskan bahwa perubahan fungsi kawasan hulu mempercepat aliran air menuju hilir.

Ketika hutan berkurang dan tanah kehilangan daya serap, sungai menerima tekanan lebih besar. Akibatnya, air bergerak lebih liar dan lebih sulit dikendalikan.

Singkatnya, hujan memang turun di pegunungan. Namun warga bawah yang akhirnya membayar harga paling mahal.

Bendungan Jebol, Mitigasi Jalan atau Sekadar Formalitas?

Pernyataan BPBD soal bendungan Sungai Menjangan yang jebol memunculkan pertanyaan penting seberapa siap sistem mitigasi banjir di Lumajang?

Seharusnya bendungan menjadi pelindung pertama saat debit air meningkat tajam. Infrastruktur itu perlu menahan tekanan sebelum air masuk ke permukiman warga.

Karena itu, publik pantas bertanya.

Apakah pemerintah rutin memeriksa kondisi bendungan? Apakah petugas sudah memetakan risiko sebelum musim hujan datang? Dan yang paling penting, apakah sistem peringatan benar-benar sampai ke warga?

Pakar hidrologi dari Universitas Brawijaya, Prof. Ery Suhartanto, menilai pengawasan rutin menjadi bagian penting dalam pengendalian banjir.

Menurutnya, kerusakan kecil sering berkembang menjadi ancaman besar ketika pengelola mengabaikannya terlalu lama.

Sayangnya, banyak daerah masih memakai pola lama. Bencana datang lebih dulu. Setelah itu, evaluasi baru muncul.

Padahal logikanya harus terbalik. Pemerintah seharusnya mencegah risiko sebelum air masuk ke rumah warga.

Air memang bergerak cepat. Namun lambatnya antisipasi sering mengubah hujan menjadi bencana.

Tinggal Dekat Sungai, Pilihan atau Keterpaksaan?

Setiap banjir datang, publik hampir selalu melontarkan pertanyaan yang sama kenapa warga tetap tinggal dekat sungai?

Meski terdengar logis, jawaban atas pertanyaan itu tidak sesederhana pindah rumah.

Bagi banyak keluarga, lokasi dekat sungai berarti dekat sawah, dekat pekerjaan, dan dekat sumber penghasilan. Di sisi lain, harga tanah di kawasan aman sering melampaui kemampuan ekonomi mereka.

Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Imam Prasodjo, pernah menjelaskan bahwa kelompok ekonomi rentan paling sering hidup berdampingan dengan risiko lingkungan.

Mereka sebenarnya memahami ancaman banjir. Akan tetapi, kondisi ekonomi membatasi pilihan hidup mereka.

Karena itu, persoalan banjir tidak hanya berbicara soal hujan.

Masalah ini juga menyentuh ketimpangan ekonomi, tata ruang, dan perlindungan negara terhadap kelompok rentan.

Air Surut, Tetapi Luka Tinggal Lebih Lama

BPBD memastikan banjir ini tidak merenggut korban jiwa. Meski begitu, petugas membawa empat warga ke Puskesmas Sukodono karena tubuh mereka menggigil akibat suhu dingin. Sementara itu, dinas terkait masih menghitung kerusakan sektor pertanian. Sayangnya, masalah tidak berhenti saat air mulai turun.

Warga masih harus membersihkan lumpur dari rumah mereka. Perabot rusak menumpuk. Kendaraan mogok. Selain itu, ancaman gagal panen mulai menghantui keluarga petani.

Trauma juga sering bertahan lebih lama. Banyak anak terbangun dini hari dalam keadaan panik. Karena pengalaman itu, sebagian dari mereka merasa takut setiap kali hujan kembali turun.

Ekonom pembangunan dari Universitas Airlangga, Dr. Suyanto, menilai bencana berulang dapat memperpanjang lingkar kemiskinan keluarga.

“Satu bencana besar bisa menghapus tabungan bertahun-tahun,” ujarnya.

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Pola.

Cerita Lumajang terasa terlalu familiar. Hujan deras turun di hulu. Setelah itu, debit sungai melonjak. Infrastruktur gagal menahan tekanan. Akhirnya, air kembali masuk ke rumah warga.

Sesudahnya, bantuan datang. Air perlahan surut. Aktivitas warga kembali berjalan. Namun beberapa bulan kemudian, pola yang sama sering muncul lagi.

Kita terlalu sering menyebut semua ini sebagai musibah alam. Padahal, sebagian persoalan mungkin lahir dari keputusan manusia.

Tata kelola sungai masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Selain itu, mitigasi sering bergerak lambat, sementara sistem peringatan belum sepenuhnya terasa dekat dengan warga.

Kalau masyarakat hilir terus menerima dampak terbesar setiap musim hujan, mungkin pertanyaan besarnya bukan lagi kenapa banjir datang?

Melainkan kenapa pola lama ini terus kita biarkan berulang?. @teguh

Tags: Banjir KirimanBanjir LumajangBencana AlamBPBD LumajangDASJawa TimurKab.LumajangMitigasi BencanaRegional NewsSungai MenjanganTata Ruang

Kamu Melewatkan Ini

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

by teguh
Mei 15, 2026

Saat sebagian besar warga masih tertidur lelap, air tiba-tiba masuk ke rumah-rumah di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa...

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

by Waras
Mei 11, 2026

Hujan turun seperti tidak ingin berhenti. Selama tiga hari, Kendari berubah dari kota pesisir menjadi cekungan air raksasa. Rumah tenggelam,...

Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki: Kebetulan atau Risiko yang Diabaikan?

Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki: Kebetulan atau Risiko yang Diabaikan?

by dimas
Mei 8, 2026

Erupsi Gunung Dukono yang menelan korban jiwa, termasuk dua warga negara Singapura, kembali membuka pertanyaan lama tentang kesiapsiagaan manusia dalam...

Next Post
Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi KIP Kuliah: Bantuan atau Dana Hedon?

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi KIP Kuliah: Bantuan atau Dana Hedon?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id