Sebuah video kamar narapidana yang terlihat “terlalu nyaman” di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon, Banten, mendadak memancing sorotan publik. Dalam video itu, terlihat kasur empuk, pendingin ruangan (AC), kipas angin, akuarium, wastafel, hingga akses ponsel di dalam kamar. Ini Lapas atau Hotel?.
Tabooo.id: Akibatnya, publik langsung bertanya kalau semua warga binaan mendapat perlakuan yang sama, kenapa isu kamar VIP di penjara selalu terasa masuk akal?. Jika benar ini terjadi pertanyaan yang ada dibenak publik ini Lapas atau Hotel?.
Video tersebut ramai di akun X @Naandaa27 pada Kamis, 14 Mei 2026. Rekaman itu memperlihatkan seorang narapidana tertidur di atas kasur di ruangan bercat putih abu-abu. Selain itu, penghuni kamar terlihat leluasa memakai ponsel dari dalam sel.
“Beredar foto dan video yang memperlihatkan fasilitas mewah di dalam kamar narapidana kasus narkoba yang diduga berasal dari Lapas Cilegon,” tulis akun tersebut.
Lapas: Video Itu Sudah Lama
Namun, pihak Lapas Kelas IIA Cilegon langsung memberi respons. Humas Lapas, Christian, memastikan fasilitas seperti dalam video sudah tidak ada.
Menurut Christian, video itu berasal dari kejadian lebih dari satu tahun lalu. Karena itu, ia meminta publik tidak menyamakan kondisi lama dengan situasi sekarang.
“Mengenai video yang beredar, itu ternyata terjadi sejak sudah lama, sudah lebih dari setahun yang lalu. Jadi saat ini, tidak ada lagi perlakuan istimewa kepada WBP mana pun,” kata Christian dalam keterangan tertulis, Kamis (14/05/2026).
Setelah video kembali viral, petugas langsung memeriksa seluruh kamar hunian dan fasilitas lapas. Selain melakukan monitoring, petugas juga memperketat pengawasan untuk memastikan kondisi tetap terkendali.
Christian mengeklaim pemeriksaan tidak menemukan kamar maupun fasilitas seperti yang muncul di media sosial.
“Seluruh warga binaan diperlakukan sama selama menjalani masa pidana dan dipersiapkan untuk kembali diterima di tengah masyarakat setelah selesai menjalani pembinaan,” ujarnya.
Selain itu, Christian menegaskan bahwa petugas rutin menggelar pemeriksaan bersama TNI, Polri, Pemerintah Daerah, dan BNNK Cilegon. Langkah itu bertujuan mencegah peredaran barang terlarang sekaligus menekan potensi pelanggaran di dalam lapas.
“Kami membuka ruang pengawasan serta masukan dari masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan sistem pemasyarakatan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pembinaan,” tandasnya.

Kenapa Publik Cepat Curiga?
Namun, persoalannya mungkin bukan sekadar soal video lama.
Publik membawa ingatan panjang tentang kasus serupa. Sebelumnya, masyarakat berkali-kali melihat dugaan sel mewah, fasilitas pribadi, hingga perlakuan khusus untuk narapidana tertentu di berbagai lapas Indonesia. Karena itu, rasa curiga muncul lebih cepat dibanding rasa percaya.
Pengamat pemasyarakatan dari Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menilai persepsi publik terbentuk dari pengalaman kolektif tersebut.
“Ketika publik berulang kali melihat ketimpangan di lapas, kepercayaan ikut turun. Karena itu, klarifikasi resmi sering belum cukup meredam pertanyaan,” ujarnya dalam sejumlah kajian pemasyarakatan.
Sementara itu, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Hempri Suyatna, melihat viralitas seperti ini lahir dari krisis kepercayaan terhadap institusi publik.
“Publik tidak hanya melihat fakta hari ini. Mereka juga mengingat pengalaman sebelumnya. Karena itu, respons emosional cepat muncul,” katanya.
Ini Bukan Sekadar Video Viral
Masalahnya, publik tidak hanya memperdebatkan isi kamar. Mereka juga mempertanyakan apakah sistem pengawasan benar-benar bekerja tanpa celah.
Di sisi lain, pihak lapas menyebut video itu sudah lama. Namun, di sisi berbeda, masyarakat masih menyimpan trauma kasus serupa yang terus berulang.
Karena itu, polemik ini terasa lebih besar daripada sekadar video viral. Publik sebenarnya sedang menguji satu hal sederhana apakah hukum benar-benar terasa sama untuk semua orang?. @teguh





