Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

by eko
Mei 14, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Lagu “Sumbang” karya Iwan Fals bukan sekadar nostalgia musik lawas era 1980-an. Di balik liriknya, Iwan Fals menumpahkan kemarahan terhadap politik yang penuh tipu daya, perebutan kuasa, dan pengkhianatan. Ironisnya, lebih dari empat dekade berlalu sejak lagu itu lahir pada 1983, kritik di dalamnya masih terasa dekat dengan situasi hari ini.

Tabooo.id – Iwan Fals merilis album ketujuhnya yang berjudul Sumbang pada 1983. Setelah tidak menulis seluruh lagu di album sebelumnya, kali ini ia kembali menciptakan semua materi lagu sendiri. Seperti karya-karyanya pada masa itu, hampir seluruh isi album membawa kritik sosial yang tajam.

Lewat lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, Iwan menyorot tragedi tenggelamnya Kapal Tampomas II. Ia juga mengkritik dunia perkeretaapian dan kepolisian lewat lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa”. Meski terdengar seperti lagu bertutur biasa, liriknya menyimpan sindiran yang tajam. Sementara lagu lain seperti “Semoga Kau Tak Tuli Tuhan”, “Jendela Kelas Satu”, dan “Sumbang” terus hidup di telinga pendengar lintas generasi.

Lagu Lama yang Tidak Pernah Kehilangan Gigitannya

Ada lagu yang selesai ketika musiknya berhenti.
Tapi ada juga lagu yang justru terasa makin hidup setiap kali keadaan negara memburuk.

“Sumbang” masuk dalam kategori kedua.

Lewat lagu ini, Iwan Fals tidak hanya membuat musik. Ia merekam keresahan sosial yang terus berulang sampai hari ini.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Sejak bait awal, Iwan langsung membawa pendengar masuk ke suasana gelap:

“Kuatnya belenggu besi
Mengikat kedua kaki…”

Lirik itu tidak hanya bicara soal rasa takut. Iwan menggambarkan sistem yang menekan manusia sampai kehilangan ruang untuk bergerak.

Politik Berganti, Tapi Polanya Tetap Sama

Masalahnya, lebih dari 40 tahun berlalu, lirik itu masih terasa relevan.

Publik terus melihat elite politik saling serang demi kekuasaan. Kasus korupsi terus muncul dengan pola serupa. Rakyat kecil juga terus menanggung dampak dari permainan kepentingan para elite.

Di titik itu, “Sumbang” terasa seperti soundtrack yang tidak pernah pensiun.

Bagian paling keras muncul dalam lirik:

“Maling teriak maling, sembunyi balik dinding…”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru kesederhanaan itu membuatnya menampar.

Iwan Fals tidak memakai istilah politik rumit. Ia memilih bahasa jalanan yang mudah dipahami rakyat biasa. Karena itu, kritiknya terasa lebih dekat dan lebih jujur.

Dan ironisnya, pola yang ia kritik masih sering muncul sampai sekarang.

Musik Pernah Menjadi Senjata Perlawanan

Hari ini, banyak orang paling keras bicara soal moral justru tersandung kasus. Sebagian tokoh mengaku membela rakyat, tapi sibuk menjaga kepentingan kelompok sendiri.

Sementara itu, publik terus menonton drama politik dengan pola lama dan pemain berbeda.

Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu protes. Lagu ini berubah menjadi cermin sosial.

Iwan Fals juga menunjukkan satu hal penting: musik Indonesia dulu berani menggigit.

Pada era 1980-an dan 1990-an, banyak musisi memakai lagu sebagai alat perlawanan budaya. Mereka tidak hanya mengejar hiburan. Mereka juga menyuarakan kemarahan rakyat lewat musik.

Dan Iwan Fals berdiri di barisan depan gerakan itu.

Kritik yang Tidak Pernah Kedaluwarsa

“Sumbang” terasa menakutkan karena kritik di dalamnya belum kehilangan relevansi.

Pertanyaan dalam lagu itu masih terasa tajam:

“Apakah selamanya politik itu kejam?”

Sampai hari ini, publik tampaknya belum menemukan jawaban yang benar-benar meyakinkan.

Setiap kali rakyat berharap keadaan berubah, pola lama kembali muncul: janji, konflik, saling tuding, lalu lupa pada manusia yang terkena dampaknya.

Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu nostalgia.

Lagu ini adalah alarm sosial yang terus berbunyi sejak 1983.

Dan selama politik masih lebih sibuk memelihara kekuasaan daripada menjaga keadilan, lagu ini akan terus terasa relevan di telinga banyak orang.@eko

Tags: CultureEmpatiIwan Falsmusik indonesiaPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

by teguh
Mei 14, 2026

Ruang rapat itu seharusnya bicara soal hidup anak-anak, kesehatan ibu, dan masa depan keluarga miskin. Namun perhatian publik justru tersedot...

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

by teguh
Mei 13, 2026

Saat stunting, campak, hingga angka kematian ibu dan bayi masih menghantui banyak keluarga, sebuah video dari ruang rapat DPRD Jember...

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

by jeje
Mei 13, 2026

Amir Syarifuddin bukan tokoh yang mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Ia pernah menjadi Perdana Menteri kedua Republik Indonesia, memimpin perlawanan...

Next Post
Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id