Lagu “Sumbang” karya Iwan Fals bukan sekadar nostalgia musik lawas era 1980-an. Di balik liriknya, Iwan Fals menumpahkan kemarahan terhadap politik yang penuh tipu daya, perebutan kuasa, dan pengkhianatan. Ironisnya, lebih dari empat dekade berlalu sejak lagu itu lahir pada 1983, kritik di dalamnya masih terasa dekat dengan situasi hari ini.
Tabooo.id – Iwan Fals merilis album ketujuhnya yang berjudul Sumbang pada 1983. Setelah tidak menulis seluruh lagu di album sebelumnya, kali ini ia kembali menciptakan semua materi lagu sendiri. Seperti karya-karyanya pada masa itu, hampir seluruh isi album membawa kritik sosial yang tajam.
Lewat lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, Iwan menyorot tragedi tenggelamnya Kapal Tampomas II. Ia juga mengkritik dunia perkeretaapian dan kepolisian lewat lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa”. Meski terdengar seperti lagu bertutur biasa, liriknya menyimpan sindiran yang tajam. Sementara lagu lain seperti “Semoga Kau Tak Tuli Tuhan”, “Jendela Kelas Satu”, dan “Sumbang” terus hidup di telinga pendengar lintas generasi.
Lagu Lama yang Tidak Pernah Kehilangan Gigitannya
Ada lagu yang selesai ketika musiknya berhenti.
Tapi ada juga lagu yang justru terasa makin hidup setiap kali keadaan negara memburuk.
“Sumbang” masuk dalam kategori kedua.
Lewat lagu ini, Iwan Fals tidak hanya membuat musik. Ia merekam keresahan sosial yang terus berulang sampai hari ini.
Sejak bait awal, Iwan langsung membawa pendengar masuk ke suasana gelap:
“Kuatnya belenggu besi
Mengikat kedua kaki…”
Lirik itu tidak hanya bicara soal rasa takut. Iwan menggambarkan sistem yang menekan manusia sampai kehilangan ruang untuk bergerak.
Politik Berganti, Tapi Polanya Tetap Sama
Masalahnya, lebih dari 40 tahun berlalu, lirik itu masih terasa relevan.
Publik terus melihat elite politik saling serang demi kekuasaan. Kasus korupsi terus muncul dengan pola serupa. Rakyat kecil juga terus menanggung dampak dari permainan kepentingan para elite.
Di titik itu, “Sumbang” terasa seperti soundtrack yang tidak pernah pensiun.
Bagian paling keras muncul dalam lirik:
“Maling teriak maling, sembunyi balik dinding…”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru kesederhanaan itu membuatnya menampar.
Iwan Fals tidak memakai istilah politik rumit. Ia memilih bahasa jalanan yang mudah dipahami rakyat biasa. Karena itu, kritiknya terasa lebih dekat dan lebih jujur.
Dan ironisnya, pola yang ia kritik masih sering muncul sampai sekarang.
Musik Pernah Menjadi Senjata Perlawanan
Hari ini, banyak orang paling keras bicara soal moral justru tersandung kasus. Sebagian tokoh mengaku membela rakyat, tapi sibuk menjaga kepentingan kelompok sendiri.
Sementara itu, publik terus menonton drama politik dengan pola lama dan pemain berbeda.
Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu protes. Lagu ini berubah menjadi cermin sosial.
Iwan Fals juga menunjukkan satu hal penting: musik Indonesia dulu berani menggigit.
Pada era 1980-an dan 1990-an, banyak musisi memakai lagu sebagai alat perlawanan budaya. Mereka tidak hanya mengejar hiburan. Mereka juga menyuarakan kemarahan rakyat lewat musik.
Dan Iwan Fals berdiri di barisan depan gerakan itu.
Kritik yang Tidak Pernah Kedaluwarsa
“Sumbang” terasa menakutkan karena kritik di dalamnya belum kehilangan relevansi.
Pertanyaan dalam lagu itu masih terasa tajam:
“Apakah selamanya politik itu kejam?”
Sampai hari ini, publik tampaknya belum menemukan jawaban yang benar-benar meyakinkan.
Setiap kali rakyat berharap keadaan berubah, pola lama kembali muncul: janji, konflik, saling tuding, lalu lupa pada manusia yang terkena dampaknya.
Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu nostalgia.
Lagu ini adalah alarm sosial yang terus berbunyi sejak 1983.
Dan selama politik masih lebih sibuk memelihara kekuasaan daripada menjaga keadilan, lagu ini akan terus terasa relevan di telinga banyak orang.@eko





