Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter
Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa penasaran sekaligus penolakan di sejumlah tempat. Di tengah debat itu, satu pertanyaan lama kembali muncul: kenapa karya-karyanya hampir selalu membuat publik tak nyaman?

Tabooo.id – Nama Dandhy Laksono kembali ramai diperbincangkan setelah film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kitaviral di media sosial. Publik tidak hanya membahas isi filmnya. Penolakan pemutaran di sejumlah daerah justru membuat rasa penasaran makin besar.

Bagi pengikut jurnalisme investigatif Indonesia, situasi ini bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, sosok Dandhy Laksono dikenal lewat dokumenter yang sering mengguncang ruang diskusi publik. Karyanya kerap memicu debat, sekaligus membuat sebagian pihak merasa terusik.

Dari Lumajang ke Dunia Investigasi

Dandhy Dwi Laksono lahir di Lumajang, Jawa Timur, pada 29 Juni 1976. Ia mengambil studi Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung. Setelah itu, ia memperluas pemahaman jurnalistik lewat program internasional di Amerika Serikat dan Inggris, hingga akhirnya nama Dandhy Laksono terus tumbuh di dunia investigasi nasional.

Dandhy memulai karier jurnalistik dari media cetak. Ia pernah menulis di Tabloid Kapital dan Warta Ekonomi. Setelah itu, ia berpindah ke dunia radio melalui PAS FM, Smart FM, hingga menjadi stringer untuk ABC Australia.

Kariernya terus bergerak ke televisi. Ia sempat bekerja sebagai produser berita di Liputan 6 SCTV lalu memimpin peliputan di RCTI.

Ini Belum Selesai

Elang Mulia Lesmana: Calon Arsitek yang Menjadi Martir Reformasi

Dialektika: Cara Kerja Perubahan yang Tidak Kamu Sadari – Madilog Series #2.1

Namun, arah kariernya berubah ketika dunia dokumenter investigatif menarik perhatiannya. Di titik itu, Dandhy tidak hanya ingin melaporkan kejadian. Dalam perjalanan karier Dandhy Laksono, ia ingin memperlihatkan pola, relasi kuasa, dan sistem yang bekerja di balik sebuah peristiwa.

Watchdoc dan Dokumenter yang Mengusik

Melalui Watchdoc Documentary Maker, Dandhy mulai membangun identitas sebagai pembuat film dokumenter investigatif. Ia mengangkat isu lingkungan, politik, hingga ketimpangan sosial ke ruang publik. Di bidang ini, nama Dandhy Laksono menjadi sangat vokal dalam menyuarakan perubahan.

Salah satu karyanya yang paling ramai diperbincangkan ialah Sexy Killers pada 2019. Film itu mengupas hubungan industri batu bara dengan elite politik menjelang Pemilu.

Setelah itu, publik kembali memperhatikan namanya lewat Dirty Vote pada 2024. Dokumenter tersebut memicu diskusi panjang tentang demokrasi dan integritas pemilu.

Kini, sorotan mengarah ke Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026). Bersama Cypri Paju Dale, Dandhy merekam dampak Program Strategis Nasional (PSN) di Papua. Tidak bisa dilepaskan dari sosok Dandhy Laksono, film itu menampilkan perubahan besar pada hutan adat dan ruang hidup masyarakat di Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi.

Menariknya, perhatian publik tidak tumbuh hanya karena isi film. Penolakan pemutaran di beberapa wilayah justru memperbesar rasa ingin tahu. Pembubaran nonton bareng di Universitas Mataram pada awal Mei 2026 bahkan mempercepat penyebaran diskusi di media sosial.

Jurnalis, Aktivis, atau Keduanya?

Di titik ini, opini publik tentang Dandhy sering terbelah. Topik ini muncul terutama karena karya Dandhy Laksono yang selalu disorot.

Sebagian orang melihatnya sebagai jurnalis investigatif yang berani menyentuh isu sensitif. Sebagian lain menganggap film-filmnya terlalu politis.

Namun satu pola terus muncul dalam perjalanan kariernya: Dandhy membawa isu rumit ke ruang publik lewat medium dokumenter. Ia memakai kamera untuk mengajukan pertanyaan, bukan sekadar merekam kejadian.

Banyak akademisi media memandang dokumenter investigatif sebagai alat penting dalam demokrasi. Format ini membantu publik memahami persoalan yang sering luput dari laporan berita harian. Di sisi lain, kritik terhadap karya investigatif tetap muncul dan menjadi bagian dari perdebatan sehat, selama semua pihak bertumpu pada data dan argumen. Tidak jarang, perdebatan tersebut melibatkan pandangan tentang Dandhy Laksono sebagai jurnalis atau aktivis.

Bukan Sekadar Tentang Dandhy

Cerita Dandhy Laksono tidak berhenti pada satu tokoh atau satu film. Nama Dandhy Laksono turut menjadi ikon dalam dunia dokumenter sosial Indonesia.

Kisah ini juga berbicara tentang keberanian mengambil posisi di tengah ruang demokrasi yang makin bising. Ketika banyak orang memilih aman, sebagian orang justru memilih bertanya lebih jauh.

Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi: siapa Dandhy Laksono? @jeje

 kenapa film dokumenter yang membahas konflik sosial masih sering membuat banyak pihak merasa tidak nyaman?

Tags: Cinema IndonesiaDandhy LaksonoFilm Pesta BabiNasionalPolitik IndonesiaSineas Muda

Kamu Melewatkan Ini

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

by eko
Mei 14, 2026

Lagu “Sumbang” karya Iwan Fals bukan sekadar nostalgia musik lawas era 1980-an. Di balik liriknya, Iwan Fals menumpahkan kemarahan terhadap...

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

by teguh
Mei 14, 2026

Ruang rapat itu seharusnya bicara soal hidup anak-anak, kesehatan ibu, dan masa depan keluarga miskin. Namun perhatian publik justru tersedot...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Next Post
Perempuan Modern, Burnout, dan Semangkuk Seblak Pedas

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id