Belanja kebutuhan dapur sekarang terasa seperti permainan bertahan hidup. Uang Rp100 ribu masuk pasar dengan percaya diri, lalu pulang bersama rasa bingung: “Kok cepet habis?” Ketika cabai, bawang, dan minyak goreng terus naik, yang sebenarnya ikut terkuras bukan cuma dompet publik, tapi juga rasa aman mereka menjalani hidup sehari-hari.
Tabooo.id – Belanja dapur sekarang punya unsur thriller. Masuk pasar dengan uang Rp100 ribu rasanya seperti ikut permainan bertahan hidup. Deg-degan, penuh plot twist, lalu sering berakhir dengan kalimat: “Loh, kok udah habis?” Sabtu (9/5/2026), harga cabai rawit merah naik sampai Rp65.350 per kilogram. Bawang merah ikut bergerak naik. Selain itu, minyak goreng kembali merangkak.
Sementara kondisi ekonomi publik? Ya begitu-begitu saja. Ironisnya, masyarakat mulai terbiasa.
Dulu, kenaikan harga sedikit saja bisa mengubah grup WhatsApp keluarga menjadi forum ekonomi nasional. Sekarang, banyak orang cuma menghela napas, lalu lanjut memilih antara beli cabai atau beli lauk.
Ini bukan karena publik makin sabar.
Sebaliknya, publik makin lelah.
Negara Naik, Gaji Jalan Santai
Masalah terbesar dari kenaikan harga bukan cuma angka di pasar.
Masalahnya, kecepatan hidup sekarang tidak lagi seimbang.
Harga bergerak seperti dikejar deadline. Namun, penghasilan banyak orang tetap berjalan seperti loading WiFi tetangga.
Cabai naik. Minyak naik. Beras naik.
Sementara itu, yang belum naik mungkin cuma saldo rekening.
Dan seperti biasa, masyarakat kembali mendengar satu kata andalan: “adaptif”.
Kalimat paling sopan untuk menjelaskan bahwa hidup makin mahal.
Publik Sedang Belajar Jadi Manusia Survival
Sekarang orang mulai punya kemampuan baru:
Menghitung harga cabai lebih cepat daripada menghitung masa depan.
Warung makan mulai mengurangi sambal. Anak kos mulai menganggap telur sebagai investasi jangka panjang. Di sisi lain, ibu rumah tangga diam-diam mengubah daftar belanja menjadi strategi bertahan hidup.
Lucunya, masyarakat mulai menganggap semua ini normal.
Padahal, tidak ada yang normal ketika kebutuhan dasar terasa makin sulit dijangkau.
Yang Konsisten Naik
Di Indonesia, ketika kepercayaan publik, harapan hidup, dan janji politik terus naik turun, hanya satu hal yang tampaknya tetap disiplin naik:
harga kebutuhan hidup, sampai masyarakat hari ini tidak lagi panik melihat harga melonjak, mereka cuma capek. @jeje





