Semua orang sekarang peduli lingkungan. Setidaknya di Instagram. Timeline penuh repost soal bumi panas, laut penuh plastik, sampai quote motivasi tentang “menjaga planet untuk generasi masa depan.”
Tabooo.id – Tapi lucunya, banyak orang masih bingung membedakan sampah organik dan anorganik.
Tempat sampah dua warna yang sudah tersedia pun sering berakhir dengan isi yang sama:
plastik, sisa makanan, tisu, botol kopi, semua bercampur tanpa rasa bersalah.
Setelah itu, kita masih santai bilang: “Yang penting kan peduli.”
Film Unseen, Unannounced diam-diam menampar kebiasaan itu.
Film pendek garapan Tabooo Pictures tersebut memang tidak sibuk berteriak soal krisis lingkungan. Namun lewat rutinitas kecil warga desa, film ini memperlihatkan satu ironi besar: manusia modern suka bicara soal kepedulian, tetapi malas melakukan hal paling sederhana.
Salah satunya: memilah sampah.
Peduli yang Berhenti di Caption
Hari ini, banyak orang mengubah kepedulian lingkungan menjadi identitas visual.
Sekali bawa tumbler langsung upload story. Sekali tanam pohon langsung bikin vlog. Ikut Earth Day sekali, lalu mendadak merasa jadi penyelamat bumi.
Padahal lingkungan tidak butuh feed Instagram yang rapi.
Lingkungan butuh kebiasaan kecil yang terus dilakukan setiap hari.
Dan Unseen, Unannounced memperlihatkan itu dengan cara yang sunyi.
Film ini tidak memakai ceramah panjang. Film ini juga tidak memaksa penonton merasa bersalah. Kamera hanya mengikuti aktivitas warga saat memilah sampah, membersihkan lingkungan, lalu menjalani hidup seperti biasa.
Justru karena terasa biasa, semuanya terasa jujur.
Kita Suka Menyalahkan Sistem, Tapi Malas Mulai
Kalau bicara soal sampah, netizen biasanya cepat marah.
Mereka menyalahkan pemerintah, juga mengkritik sistem pengelolaan dan juga ribut saat truk sampah terlambat datang.
Dan ya, kritik itu penting.
Namun ironisnya, sebagian orang bahkan masih malas memisahkan sampah dari rumah sendiri.
Sampah plastik bercampur dengan sisa makanan. Botol bekas dilempar begitu saja. Kantong kecil habis dipakai lalu langsung dibuang sembarangan.
Ketika sungai banjir dan TPS penuh, semua orang mendadak kaget seolah sampah muncul sendiri dari langit.
Padahal tangan kita ikut menambahnya setiap hari.
Film Unseen, Unannounced tidak mencoba tampil paling benar. Film ini hanya menunjukkan realitas yang sebenarnya sudah hidup sangat dekat dengan keseharian kita.
Dan mungkin justru itu yang bikin terasa tidak nyaman.
Kita Mau Lingkungan Bersih, Tapi Tidak Mau Ribet
Masalah terbesar manusia modern mungkin bukan kurang peduli.
Masalahnya, kita terlalu suka hal praktis.
Kita ingin lingkungan bersih, tetapi malas memilah sampah. Kita ingin kota rapi, tetapi masih membuang plastik kecil sembarangan karena merasa:
“Ah cuma satu.”
Padahal miliaran “cuma satu” itulah yang akhirnya berubah jadi masalah besar.
Ironisnya, banyak orang lebih rajin mengatur playlist Spotify dibanding mengatur sampah di rumah sendiri.
Peduli Lingkungan Memang Tidak Terlihat Keren
Mungkin itu alasan banyak orang gagal konsisten.
Karena memilah sampah tidak terlihat estetik. Aktivitas itu juga tidak viral. Tidak ada validasi sosial instan saat seseorang memisahkan botol plastik dari sisa makanan.
Padahal kebiasaan kecil seperti itulah yang paling realistis menjaga lingkungan tetap hidup.
Bukan quote motivasi, tote bag mahal dan bukan caption “healing ke alam.”
Dan Unseen, Unannounced mengingatkan satu hal penting:
lingkungan tidak butuh manusia yang terlihat peduli.
Lingkungan membutuhkan manusia yang benar-benar mau berubah, bahkan lewat kebiasaan paling kecil.
Mungkin Masalah Lingkungan Bukan Soal Sampah, Tapi Ego
Kita sering membahas bumi seolah masalahnya berada sangat jauh di luar sana.
Padahal sebagian besar masalah lingkungan hidup muncul sangat dekat:
di dapur,
di meja makan,
di kantong plastik kecil yang kita buang setiap hari.
Dan mungkin masalah terbesar bukan kurangnya kampanye.
Masalahnya, terlalu banyak orang ingin terlihat peduli tanpa mau mengubah kebiasaan sederhana.
Karena ternyata ngomong “save the planet” jauh lebih gampang daripada mulai pisahin sampah sendiri.@eko





