Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun, matanya tetap sibuk mencari penumpang.

Tabooo.id: Vibes – Di jalan yang sama, motor melesat seperti sedang dikejar waktu. Sementara itu, mobil-mobil baru memenuhi lampu merah. Orang-orang juga sibuk bicara soal kendaraan listrik, transportasi pintar, dan kota modern.

Namun di tengah hiruk-pikuk itu, becak perlahan menghilang dari percakapan.

“Sekarang jarang yang naik becak. Paling orang tua atau wisatawan,” kata Slamet sambil tersenyum tipis.

Meski begitu, Slamet bukan satu-satunya. Di banyak kota Indonesia, becak masih bertahan. Mereka tidak benar-benar hilang. Hanya saja, kota perlahan membuat mereka sulit terlihat.

Modernisasi sering datang dengan satu syarat tak tertulis: yang lambat harus minggir.

Ini Belum Selesai

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Kenaikan Yesus Kristus: Ketika Langit Jadi Pengingat, Bumi Diminta Berubah

Ruang Hidup yang Makin Sempit

Banyak orang melihat becak sebagai penghambat lalu lintas. Sebagian menganggapnya tidak efisien dan ketinggalan zaman. Karena itu, sejumlah daerah mulai membatasi ruang geraknya. Meski demikian, para pengayuh becak tetap bertahan di gang kecil, pasar tradisional, atau dekat stasiun tua.

Padahal bagi sebagian orang, becak bukan sekadar kendaraan.

Becak adalah cara terakhir untuk bertahan hidup.

Sebagian besar pengayuh becak merupakan lelaki lanjut usia yang sulit masuk ke dunia kerja formal. Pendidikan yang terbatas, tenaga yang tidak lagi kuat, serta pilihan kerja yang makin sempit membuat mereka terus mengayuh di tengah kerasnya kota.

Ironisnya, kota sering bangga bicara soal “pembangunan inklusif”. Namun pada saat yang sama, ruang untuk orang kecil justru terus menyusut.

Trotoar kini terlihat lebih rapi. Jalan semakin lebar. Mal tumbuh di banyak sudut kota. Selain itu, cafe modern terus bermunculan. Akan tetapi, para pengayuh becak justru makin tersingkir dari wajah kota modern.

Mereka masih ada. Hanya saja, banyak orang memilih untuk tidak melihat.

Kenangan yang Pelan-Pelan Hilang

Di sisi lain, becak menyimpan memori sosial yang tidak bisa digantikan mesin.

Banyak orang tumbuh bersama suara lonceng becak di pagi hari. Ada yang berangkat sekolah dengan becak. Ada pula yang pulang dari pasar sambil duduk di kursi sempitnya. Kenangan itu dulu terasa biasa. Namun sekarang, semuanya perlahan berubah menjadi nostalgia.

Masalahnya, kota modern terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menghormati masa lalu.

Memang, becak tidak secepat motor. Becak juga tidak secanggih aplikasi transportasi online. Namun di balik kayuhan lambat itu, ada manusia yang berusaha hidup dengan cara paling jujur yang ia punya.

Dan mungkin, itu yang mulai jarang kita lihat.

Ini bukan sekadar cerita tentang kendaraan tua. Ini tentang bagaimana kota menentukan siapa yang layak tetap terlihat.

Karena pada akhirnya, becak tidak mati.

Mereka hanya disembunyikan. @jeje

Tags: Jawa TengahKota SoloNasionalSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Bicara Cara Bertahan

Saat Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Belum Selesai Bertahan

by jeje
Mei 9, 2026

Di tengah harga pangan yang terus naik, pedagang kecil mulai menghadapi dilema paling melelahkan: menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan,...

Indonesia Sudah Konsisten: Kenaikan Harga Menjadi Rutinitas

Indonesia Sudah Konsisten: Kenaikan Harga Menjadi Rutinitas

by jeje
Mei 9, 2026

Belanja kebutuhan dapur sekarang terasa seperti permainan bertahan hidup. Uang Rp100 ribu masuk pasar dengan percaya diri, lalu pulang bersama...

Next Post
Larangan Guru Non-ASN 2027: Penataan Sistem atau Cara Halus Menyingkirkan Guru?

Larangan Guru Non-ASN 2027: Penataan Sistem atau Cara Halus Menyingkirkan Guru?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id