Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun, matanya tetap sibuk mencari penumpang.
Tabooo.id: Vibes – Di jalan yang sama, motor melesat seperti sedang dikejar waktu. Sementara itu, mobil-mobil baru memenuhi lampu merah. Orang-orang juga sibuk bicara soal kendaraan listrik, transportasi pintar, dan kota modern.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu, becak perlahan menghilang dari percakapan.
“Sekarang jarang yang naik becak. Paling orang tua atau wisatawan,” kata Slamet sambil tersenyum tipis.
Meski begitu, Slamet bukan satu-satunya. Di banyak kota Indonesia, becak masih bertahan. Mereka tidak benar-benar hilang. Hanya saja, kota perlahan membuat mereka sulit terlihat.
Modernisasi sering datang dengan satu syarat tak tertulis: yang lambat harus minggir.
Ruang Hidup yang Makin Sempit
Banyak orang melihat becak sebagai penghambat lalu lintas. Sebagian menganggapnya tidak efisien dan ketinggalan zaman. Karena itu, sejumlah daerah mulai membatasi ruang geraknya. Meski demikian, para pengayuh becak tetap bertahan di gang kecil, pasar tradisional, atau dekat stasiun tua.
Padahal bagi sebagian orang, becak bukan sekadar kendaraan.
Becak adalah cara terakhir untuk bertahan hidup.
Sebagian besar pengayuh becak merupakan lelaki lanjut usia yang sulit masuk ke dunia kerja formal. Pendidikan yang terbatas, tenaga yang tidak lagi kuat, serta pilihan kerja yang makin sempit membuat mereka terus mengayuh di tengah kerasnya kota.
Ironisnya, kota sering bangga bicara soal “pembangunan inklusif”. Namun pada saat yang sama, ruang untuk orang kecil justru terus menyusut.
Trotoar kini terlihat lebih rapi. Jalan semakin lebar. Mal tumbuh di banyak sudut kota. Selain itu, cafe modern terus bermunculan. Akan tetapi, para pengayuh becak justru makin tersingkir dari wajah kota modern.
Mereka masih ada. Hanya saja, banyak orang memilih untuk tidak melihat.
Kenangan yang Pelan-Pelan Hilang
Di sisi lain, becak menyimpan memori sosial yang tidak bisa digantikan mesin.
Banyak orang tumbuh bersama suara lonceng becak di pagi hari. Ada yang berangkat sekolah dengan becak. Ada pula yang pulang dari pasar sambil duduk di kursi sempitnya. Kenangan itu dulu terasa biasa. Namun sekarang, semuanya perlahan berubah menjadi nostalgia.
Masalahnya, kota modern terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menghormati masa lalu.
Memang, becak tidak secepat motor. Becak juga tidak secanggih aplikasi transportasi online. Namun di balik kayuhan lambat itu, ada manusia yang berusaha hidup dengan cara paling jujur yang ia punya.
Dan mungkin, itu yang mulai jarang kita lihat.
Ini bukan sekadar cerita tentang kendaraan tua. Ini tentang bagaimana kota menentukan siapa yang layak tetap terlihat.
Karena pada akhirnya, becak tidak mati.
Mereka hanya disembunyikan. @jeje





