El Salvador terlihat lebih aman hari ini. Jalanan lebih tenang. Angka pembunuhan turun tajam. Tapi satu pertanyaan belum hilang: ini kemenangan nyata, atau ilusi yang dibangun dari rasa takut?
Tabooo.id: Deep – Sejak Maret 2022, Presiden El Savador, Nayib Bukele memilih jalur ekstrem. Ia tidak menegosiasikan. Ia menyerang.
Negara datang dengan tangan besi yang bergerak cepat. Aparat menangkap puluhan ribu orang dalam waktu singkat. Penjara langsung penuh. Bahkan pemerintah menggelar sidang massal untuk ratusan tersangka sekaligus.
Target utamanya jelas yaitu MS-13.
Hasilnya langsung terlihat. Statistik kriminal turun drastis. Dunia mulai melirik El Salvador sebagai model baru perang melawan geng. Tapi angka tidak pernah bercerita lengkap.
Keamanan yang Datang dengan Harga Mahal
Pemerintah memperluas kekuasaan lewat status darurat. Sehingga aparat bisa menangkap siapa saja tanpa proses panjang.
Kelompok HAM langsung bereaksi. Mereka menemukan banyak kasus penahanan tanpa bukti kuat. Sementara itu, warga sipil ikut terseret.
Masalahnya sederhana tapi berbahaya yaitu kalau negara bisa menangkap siapa saja, siapa yang melindungi orang yang tidak bersalah?
Di titik ini, negara tidak hanya melawan kejahatan. Tapi mulai menguji batas kebebasan.
Akar Masalah yang Sengaja Dilupakan
Orang sering melihat MS-13 sebagai monster. Tapi jarang yang bertanya: siapa yang menciptakan mereka?
Jawabannya tidak sederhana. Tapi jejaknya jelas.
Pada 1980-an, warga El Salvador melarikan diri dari perang. Mereka datang ke Los Angeles untuk mencari hidup baru. Di sana, mereka tidak menemukan perlindungan, akan tetapi menemukan kekerasan. Anak-anak muda membentuk geng untuk bertahan hidup. Dari situ, MS-13 lahir. Kecil. Lokal. Dan terbatas.
Lalu datang kebijakan yang mengubah segalanya.
Deportasi yang Menyebarkan Api
Pada 1990-an, pemerintah Amerika Serikat mulai mendeportasi pelaku kriminal, termasuk anggota geng. Ribuan orang dikirim kembali ke El Salvador, Honduras, dan Guatemala.
Mereka tidak pulang sebagai warga biasa tetapi sebagai anggota geng. Dimana mereka membawa jaringan, membawa pengalaman dan kekerasan.
Negara-negara itu tidak siap. Institusi lemah. Ekonomi rapuh. Penegakan hukum terbatas.
Geng tidak hanya bertahan, tapi malah berkembang.
Ketika Negara Kalah dari Sistem Bayangan
MS-13 tumbuh cepat. Mereka merekrut anak muda dari lingkungan miskin. Menguasai wilayah dan menciptakan sistem kekuasaan sendiri.
Di beberapa tempat, mereka bahkan menggantikan negara. Mereka memberi “perlindungan”, menyediakan uang dan memberi identitas bagi yang tidak punya pilihan.
Negara kehilangan kontrol. Dan masyarakat membayar harganya.
Ini bukan sekadar cerita geng. Tapi cerita tentang siklus kebijakan.
Satu negara menciptakan masalah. Negara lain menerima dampaknya. Lalu negara mencoba menyelesaikannya dengan cara cepat.
Dan cara cepat hampir selalu meninggalkan luka baru.
Hidup di Antara Aman dan Takut
Hari ini, warga El Salvador memang merasa lebih aman. Mereka bisa berjalan tanpa ancaman geng di setiap sudut.
Tapi rasa takut tidak hilang. Rasa takut yang hanya berubah bentuk.
Orang takut salah bicara, takut berada di tempat yang salah, dan takut dianggap bersalah tanpa bukti.
Keamanan hadir. Tapi rasa aman belum tentu ikut datang.
Nayib Bukele mungkin sedang menang. Statistik mendukungnya. Dunia memujinya. Tapi kemenangan ini masih berada di permukaan.
Selama kemiskinan tetap ada, sistem sosial tetap rapuh, dan selama negara hanya fokus pada hukuman tanpa perbaikan, masalah yang sama bisa muncul kembali.
Geng bisa hilang hari ini. Tapi sistem yang melahirkannya masih ada.
Dan selama sistem itu hidup, siklus ini tidak akan benar-benar selesai.
Kalau satu kebijakan bisa menciptakan geng, dan kebijakan lain bisa menciptakan ketakutan baru, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang.
Melainkan, berapa banyak yang harus dikorbankan, sebelum kita benar-benar menyebutnya “keamanan”?. @waras





