Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

by teguh
April 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Dulu orang datang membawa keris, pasukan, dan cap kerajaan. Kini banyak orang cukup membawa jabatan, akses, dan ego. Wajahnya berubah, tetapi hasrat menguasai orang lain tetap hidup.

Tabooo.id: Edge – Di tengah riuh media sosial dan debat soal kesetaraan, unggahan Historia.id pada Minggu (27/04/2026) kembali mengangkat nama Roro Mendut. Kisah perempuan Jawa yang menolak pejabat istana itu terasa dekat dengan situasi sekarang.

Legenda menyebut Tumenggung Wiraguna jatuh hati pada Roro Mendut. Ia datang dengan status tinggi dan keyakinan bahwa kuasa bisa membeli hati seseorang. Namun Roro Mendut menolak.

Wiraguna lalu menekan hidupnya. Ia memasang pajak tinggi dan berharap penolakan itu runtuh. Dari titik ini, cerita berubah dari kisah asmara menjadi drama kekuasaan.

Jabatan Modern, Mental Lama

Pola lama itu masih berjalan sampai sekarang. Hanya alatnya yang berganti.

Sebagian orang merasa posisi kantor bisa membeli perhatian. Sebagian lain mengira koneksi politik dapat memaksa hormat. Ada juga yang yakin gelar otomatis membuat semua orang patuh.

Ini Belum Selesai

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Efek Domino Pertamax Naik: Dari SPBU Sampai ke Dapur Rakyat

Saat kritik datang, mereka tersinggung. Ketika penolakan muncul, mereka marah. Begitu pujian berhenti, mereka merasa terhina.

Dulu orang memakai ancaman pajak. Sekarang orang memakai mutasi, intimidasi, pengucilan, atau permainan akses.

Saat Dominasi Dianggap Biasa

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata, “Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Ucapan itu terasa tajam untuk membaca zaman ini. Bahaya terbesar bukan hanya pelaku kuasa, melainkan budaya yang memaklumi perilaku mereka.

Atasan menggoda bawahan lalu menganggapnya candaan. Pejabat menuntut layanan ekstra lalu menyebutnya tradisi. Orang menuduh perempuan sombong karena berani menolak.

Semua itu terlihat kecil. Namun kebiasaan kecil sering menjaga ketimpangan besar.

Feodalisme Ganti Kostum

Budayawan Y.B. Mangunwijaya melalui trilogi Rara Mendut membaca tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang menjaga harga diri.

Ironisnya, masyarakat modern sering merasa maju, tetapi tetap memelihara feodalisme baru.

Hari ini orang tak butuh singgasana untuk pamer kuasa. Kursi empuk sudah cukup. Centang biru sering terasa cukup. Kartu nama mentereng kadang dianggap cukup.

Keris berubah jadi profil LinkedIn. Tahta berubah jadi title. Ancaman berubah jadi tekanan halus.

Kuasa Bisa Dipelihara Siapa Saja

Penulis feminis bell hooks pernah menulis, “Patriarki tidak punya gender.”

Maknanya jelas. Sistem timpang bisa hidup karena banyak orang menjaganya. Laki-laki bisa menjaga. Perempuan pun bisa menjaga. Siapa saja dapat ikut melestarikan struktur yang menguntungkan dirinya.

Karena itu, persoalan utamanya bukan jenis kelamin. Persoalan utamanya adalah mental merasa berhak atas pilihan hidup orang lain.

Pelajaran dari Roro Mendut

1. Penolakan Adalah Hak

Setiap orang berhak berkata tidak tanpa takut balasan.

2. Jabatan Bukan Magnet Cinta

Posisi memberi wewenang kerja, bukan kuasa atas hati orang lain.

3. Harga Diri Sering Lebih Mahal

Roro Mendut memilih jalan sulit demi kebebasan.

4. Kuasa Tanpa Etika Selalu Rakus

Mental ingin memiliki orang lain terus muncul di banyak zaman.

Tabooo Twist

Ini bukan sekadar legenda lama. Ini cermin yang berdiri di depan kita. Masih banyak Wiraguna modern berkeliaran. Mereka tidak membawa keris. Mereka membawa akses, jaringan, dan posisi.

Jabatan mungkin bisa membuat orang berdiri saat kamu datang. Namun hanya karakter yang membuat orang tetap hormat saat kamu pergi. @teguh

Tags: BudayawanjabatanJawaKritikLegendaPejabatpenulisperempuan

Kamu Melewatkan Ini

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

by eko
Mei 16, 2026

Gowok adalah tradisi yang dulu dianggap sebagai bagian dari pendidikan kehidupan dan persiapan pernikahan, tetapi hari ini masyarakat lebih sering...

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026

Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor,...

Next Post
Seberapa Jauh UU PPRT Benar-Benar Melindungi Pekerja Rumah Tangga?

Seberapa Jauh UU PPRT Benar-Benar Melindungi Pekerja Rumah Tangga?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id