Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

by teguh
April 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Dulu orang datang membawa keris, pasukan, dan cap kerajaan. Kini banyak orang cukup membawa jabatan, akses, dan ego. Wajahnya berubah, tetapi hasrat menguasai orang lain tetap hidup.

Tabooo.id: Edge – Di tengah riuh media sosial dan debat soal kesetaraan, unggahan Historia.id pada Minggu (27/04/2026) kembali mengangkat nama Roro Mendut. Kisah perempuan Jawa yang menolak pejabat istana itu terasa dekat dengan situasi sekarang.

Legenda menyebut Tumenggung Wiraguna jatuh hati pada Roro Mendut. Ia datang dengan status tinggi dan keyakinan bahwa kuasa bisa membeli hati seseorang. Namun Roro Mendut menolak.

Wiraguna lalu menekan hidupnya. Ia memasang pajak tinggi dan berharap penolakan itu runtuh. Dari titik ini, cerita berubah dari kisah asmara menjadi drama kekuasaan.

Jabatan Modern, Mental Lama

Pola lama itu masih berjalan sampai sekarang. Hanya alatnya yang berganti.

Sebagian orang merasa posisi kantor bisa membeli perhatian. Sebagian lain mengira koneksi politik dapat memaksa hormat. Ada juga yang yakin gelar otomatis membuat semua orang patuh.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Saat kritik datang, mereka tersinggung. Ketika penolakan muncul, mereka marah. Begitu pujian berhenti, mereka merasa terhina.

Dulu orang memakai ancaman pajak. Sekarang orang memakai mutasi, intimidasi, pengucilan, atau permainan akses.

Saat Dominasi Dianggap Biasa

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata, “Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Ucapan itu terasa tajam untuk membaca zaman ini. Bahaya terbesar bukan hanya pelaku kuasa, melainkan budaya yang memaklumi perilaku mereka.

Atasan menggoda bawahan lalu menganggapnya candaan. Pejabat menuntut layanan ekstra lalu menyebutnya tradisi. Orang menuduh perempuan sombong karena berani menolak.

Semua itu terlihat kecil. Namun kebiasaan kecil sering menjaga ketimpangan besar.

Feodalisme Ganti Kostum

Budayawan Y.B. Mangunwijaya melalui trilogi Rara Mendut membaca tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang menjaga harga diri.

Ironisnya, masyarakat modern sering merasa maju, tetapi tetap memelihara feodalisme baru.

Hari ini orang tak butuh singgasana untuk pamer kuasa. Kursi empuk sudah cukup. Centang biru sering terasa cukup. Kartu nama mentereng kadang dianggap cukup.

Keris berubah jadi profil LinkedIn. Tahta berubah jadi title. Ancaman berubah jadi tekanan halus.

Kuasa Bisa Dipelihara Siapa Saja

Penulis feminis bell hooks pernah menulis, “Patriarki tidak punya gender.”

Maknanya jelas. Sistem timpang bisa hidup karena banyak orang menjaganya. Laki-laki bisa menjaga. Perempuan pun bisa menjaga. Siapa saja dapat ikut melestarikan struktur yang menguntungkan dirinya.

Karena itu, persoalan utamanya bukan jenis kelamin. Persoalan utamanya adalah mental merasa berhak atas pilihan hidup orang lain.

Pelajaran dari Roro Mendut

1. Penolakan Adalah Hak

Setiap orang berhak berkata tidak tanpa takut balasan.

2. Jabatan Bukan Magnet Cinta

Posisi memberi wewenang kerja, bukan kuasa atas hati orang lain.

3. Harga Diri Sering Lebih Mahal

Roro Mendut memilih jalan sulit demi kebebasan.

4. Kuasa Tanpa Etika Selalu Rakus

Mental ingin memiliki orang lain terus muncul di banyak zaman.

Tabooo Twist

Ini bukan sekadar legenda lama. Ini cermin yang berdiri di depan kita. Masih banyak Wiraguna modern berkeliaran. Mereka tidak membawa keris. Mereka membawa akses, jaringan, dan posisi.

Jabatan mungkin bisa membuat orang berdiri saat kamu datang. Namun hanya karakter yang membuat orang tetap hormat saat kamu pergi. @teguh

Tags: BudayawanjabatanJawaKritikLegendaPejabatpenulisperempuan

Kamu Melewatkan Ini

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Candu Kekuasaan: Kenapa Kritik Terasa Seperti Musuh?

Candu Kekuasaan: Kenapa Kritik Terasa Seperti Musuh?

by dimas
Agustus 11, 2026

Candu kekuasaan membuat kritik terasa seperti ancaman. Saat penguasa hanya ingin didengar, demokrasi dan kewarasan publik ikut diuji. Tabooo.id -...

Next Post
Seberapa Jauh UU PPRT Benar-Benar Melindungi Pekerja Rumah Tangga?

Seberapa Jauh UU PPRT Benar-Benar Melindungi Pekerja Rumah Tangga?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id