Tabooo.id: Global – Sorak penonton yang biasanya mengiringi pertandingan sepak bola berubah menjadi jerit panik. Minggu malam di Salamanca, Meksiko tengah, sebuah arena sepak bola mendadak menjadi lokasi penembakan brutal. Kelompok bersenjata datang tanpa peringatan dan langsung melepas tembakan ke arah penonton.
Alih-alih gol dan selebrasi, malam itu berakhir dengan darah dan kepanikan.
11 Orang Tewas, Anak-anak Ikut Jadi Korban
Mengutip AFP, Senin (26/01/2026), serangan tersebut menewaskan 11 orang. Sepuluh korban meninggal di lokasi kejadian, sementara satu lainnya wafat di rumah sakit. Selain itu, 12 orang mengalami luka-luka, termasuk seorang perempuan dan seorang anak.
Para pelaku menembak secara membabi buta, pola kekerasan yang kian sering terjadi di wilayah ini. Warga yang datang untuk menonton pertandingan justru pulang dalam keadaan trauma atau tidak pulang sama sekali.
Salamanca, Kota Kecil di Tengah Badai Kekerasan
Salamanca merupakan kota berpenduduk sekitar 160 ribu jiwa di negara bagian Guanajuato. Wilayah ini dikenal sebagai pusat industri dan jalur ekonomi penting di Meksiko tengah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Guanajuato justru menjelma menjadi negara bagian paling mematikan di negara tersebut.
Wali Kota Salamanca, Cesar Prieto, secara terbuka menyebut situasi ini sebagai krisis serius. Ia meminta pemerintah nasional turun tangan lebih agresif untuk memulihkan keamanan.
“Kita sedang melewati masa genting. Ada kelompok kriminal yang mencoba menundukkan pihak berwenang,” ujar Prieto.
Teror Tak Berhenti di Satu Malam
Serangan di stadion bukan satu-satunya teror akhir pekan itu. Pada Sabtu malam, polisi menemukan empat kantong berisi sisa-sisa tubuh manusia di kota yang sama. Di dua komunitas terdekat, enam orang lainnya tewas pada hari yang sama.
Minggu sebelumnya, laporan ancaman bom di kilang minyak milik perusahaan negara Pemex juga sempat mengguncang Salamanca. Warga hidup dalam kecemasan berlapis tak hanya di jalanan, tapi juga di ruang publik yang seharusnya aman.
Perang Geng: Siapa Untung, Siapa Buntung?
Sebagian besar kekerasan di Guanajuato berakar pada konflik antara geng Santa Rosa de Lima, yang lama terlibat pencurian minyak, dan Kartel Jalisco New Generation (CJNG), salah satu kartel narkoba terkuat di Amerika Latin.
Yang diuntungkan jelas bukan warga. Masyarakat kehilangan rasa aman, ruang publik, bahkan hak untuk menikmati hiburan sederhana seperti sepak bola. Kelompok kriminal justru memperluas pengaruh lewat ketakutan, sementara pemerintah daerah dan aparat keamanan terus berada dalam posisi tertekan.
Klaim Keamanan vs Realitas di Lapangan
Di tingkat nasional, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyebut tingkat pembunuhan sepanjang 2025 turun ke level terendah dalam satu dekade berkat strategi keamanan pemerintahannya. Namun, banyak analis meragukan klaim tersebut, terutama ketika tragedi seperti Salamanca terus berulang.
Sejak 2006, kekerasan kriminal terkait narkoba telah merenggut lebih dari 480 ribu nyawa di Meksiko. Lebih dari 120 ribu orang lainnya hilang, banyak di antaranya direkrut paksa atau diculik oleh kartel.
Sepak Bola, Rakyat, dan Rasa Aman yang Hilang
Sepak bola seharusnya menjadi ruang pelepas penat, bukan panggung kematian. Ketika stadion berubah menjadi ladang peluru, masalahnya bukan lagi olahraga melainkan kegagalan negara melindungi warganya.
Pertanyaannya kini sederhana tapi menyakitkan berapa banyak tribun lagi yang harus dipenuhi ketakutan sebelum rasa aman benar-benar kembali?. @teguh







