Bahasa Prancis masuk sekolah Indonesia. Di balik ambisi global itu, muncul pertanyaan tentang arah dan kesiapan pendidikan nasional.
Tabooo.id: Reality – Sebuah pernyataan di Istana Élysée, Paris, membuka perdebatan baru tentang masa depan pendidikan Indonesia. Saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya untuk memperluas pembelajaran Bahasa Prancis di Indonesia. Bahkan, ia menyebut seluruh jenjang sekolah perlu mempelajari bahasa tersebut sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua negara.
Bagi sebagian orang, langkah ini menunjukkan visi global yang ambisius. Namun bagi sebagian yang lain, pernyataan itu memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Indonesia sedang membangun strategi pendidikan jangka panjang, atau sedang mengikuti arah diplomasi yang berubah dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya?
Pertanyaan itu penting karena kebijakan bahasa tidak hanya menentukan apa yang dipelajari siswa hari ini. Kebijakan itu juga menentukan peluang, orientasi, dan daya saing generasi mendatang.
Bahasa dan Perebutan Pengaruh Global
Prabowo menempatkan Bahasa Prancis sebagai bagian dari kerja sama strategis Indonesia-Prancis di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pertukaran sumber daya manusia. Menurutnya, penguasaan bahasa asing dapat membuka lebih banyak peluang akademik dan profesional bagi generasi muda Indonesia.
Logika tersebut cukup masuk akal.
Prancis masih memegang pengaruh besar dalam diplomasi internasional. Banyak organisasi global menggunakan Bahasa Prancis sebagai bahasa resmi. Selain itu, universitas-universitas Prancis juga terus menarik mahasiswa dari berbagai negara melalui program beasiswa dan kerja sama pendidikan.
Dalam konteks itu, kemampuan berbahasa Prancis tentu dapat menjadi nilai tambah bagi pelajar Indonesia.
Namun pendidikan nasional tidak hanya berbicara tentang peluang. Pendidikan juga berbicara tentang prioritas.
Dari Portugis ke Prancis
Di sinilah perdebatan mulai mengeras.
Publik masih mengingat pernyataan Prabowo pada Oktober 2025 ketika ia menyebut Bahasa Portugis sebagai salah satu bahasa prioritas pendidikan Indonesia saat menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Jakarta. Saat itu, Prabowo bahkan menempatkan Bahasa Portugis sejajar dengan sejumlah bahasa asing lain yang telah lebih dulu hadir dalam sistem pendidikan nasional.
Namun hingga sekarang, masyarakat belum melihat langkah konkret yang menunjukkan implementasi kebijakan tersebut.
Belum ada perluasan besar dalam kurikulum, belum ada program nasional yang masif dan belum ada penjelasan rinci mengenai target maupun tahapan pelaksanaannya.
Karena itu, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: jika wacana Bahasa Portugis belum menemukan bentuknya, mengapa kini muncul prioritas baru bernama Bahasa Prancis?
Pendidikan Membutuhkan Peta Jalan
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, langsung meminta penjelasan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait rencana tersebut. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan kesiapan kurikulum, tenaga pendidik, regulasi, hingga arah kebijakan secara menyeluruh.
Kekhawatiran itu cukup beralasan.
Pemerintah tidak bisa memasukkan bahasa baru ke ruang kelas hanya dengan instruksi politik, pemerintah harus menyiapkan guru, pemerintah harus menyusun kurikulum dan pemerintah juga harus menyediakan buku ajar, pelatihan, sistem evaluasi, dan anggaran yang memadai.
Tanpa persiapan itu, kebijakan hanya akan berhenti sebagai wacana.
Masalahnya, dunia pendidikan Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Banyak sekolah masih kekurangan tenaga pengajar. Sebagian daerah masih berjuang meningkatkan literasi dasar. Di saat yang sama, sekolah juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang bergerak sangat cepat.
Karena itu, setiap kebijakan baru akan selalu berhadapan dengan pertanyaan sederhana: apakah ini kebutuhan paling mendesak?
Ini Bukan Sekadar Pelajaran Bahasa
Perdebatan mengenai Bahasa Prancis sebenarnya menyentuh isu yang lebih luas.
Ini bukan sekadar soal kosakata, tata bahasa, atau pelafalan.
Ini adalah soal arah pembangunan manusia Indonesia.
Setiap negara memilih bahasa asing berdasarkan kepentingan strategisnya. Bahasa Inggris membuka akses ke ekonomi global, bahasa Mandarin menghubungkan pelajar dengan salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, dan bahasa Jepang dan Korea membuka peluang pendidikan serta industri yang terus berkembang.
Karena itu, keputusan untuk menambah bahasa prioritas harus lahir dari kebutuhan nasional yang jelas, bukan hanya dari momentum diplomasi sesaat.
Jika negara memiliki peta jalan yang matang, publik akan memahami alasan di balik setiap keputusan. Namun jika arah kebijakan terus berubah, sekolah dan siswa akan kesulitan mengikuti ritme perubahan tersebut.
Masa Depan Sedang Diputuskan Hari Ini
Pertemuan antara Prabowo dan Macron memang membahas hubungan bilateral yang semakin erat. Namun dampaknya bisa menjangkau jutaan ruang kelas di Indonesia.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah jembatan menuju pengetahuan, budaya, dan kesempatan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan apakah Bahasa Prancis penting atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia sudah memiliki strategi bahasa asing nasional yang konsisten, terukur, dan realistis.
Sebab ketika negara menentukan bahasa yang harus dipelajari anak-anaknya, negara sebenarnya sedang menentukan pintu dunia mana yang ingin dibuka untuk generasi berikutnya.liki strategi bahasa asing nasional yang jelas untuk 20 tahun ke depan, atau masih bergerak mengikuti arah pertemuan para pemimpin dunia?
Karena ketika bahasa dijadikan kebijakan nasional, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan antarnegara, tetapi juga masa depan jutaan pelajar Indonesia. @dimas







