Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tembak Begal di Tempat: Saat Negara Mulai Mengadili di Jalanan

by dimas
Mei 25, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Perintah tembak begal di tempat memicu perdebatan soal keamanan, HAM, dan masa depan negara hukum di Indonesia.

Tabooo.id – Di bawah lampu jalan yang reduup dan sirene yang terus meraung, rasa aman terasa semakin mahal. Bandar Lampung tegang. Jakarta ikut gelisah. Publik marah setelah seorang polisi tewas saat menggagalkan pencurian motor. Tidak lama kemudian, muncul satu kalimat yang langsung membelah opini warga: “tembak di tempat”.

Sebagian masyarakat mendukung penuh. Mereka lelah kehilangan kendaraan. Mereka takut pulang malam. Selain itu, mereka juga muak melihat pelaku begal semakin nekat membawa senjata tajam hingga pistol rakitan. Karena itu, banyak warga menganggap tindakan keras sebagai jawaban paling masuk akal.

Namun, kritik juga datang dari banyak pihak. Sejumlah pegiat HAM menilai perintah itu berbahaya. Mereka khawatir negara mulai mengutamakan peluru dibanding proses hukum.

Ketika Kemarahan Publik Bertemu Peluru

Perintah tembak di tempat muncul setelah Brigadir Kepala (Anumerta) Arya Supena tewas ditembak pelaku curanmor di Bandar Lampung. Saat itu, Arya berusaha menggagalkan pencurian motor di depan sebuah toko kue di kawasan Kedaton.

Setelah kejadian itu, Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Helfi Assegaf memerintahkan jajarannya menindak tegas pelaku begal dan curanmor. Pernyataan itu langsung menyebar luas di media sosial. Selain itu, banyak warganet memuji sikap tegas aparat karena aksi begal dinilai semakin brutal.

Ini Belum Selesai

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

Berkas Lengkap, Kebenaran Belum Tentu: Lubang Verifikasi Ijazah Capres

Tidak lama kemudian, polisi memburu para pelaku. Polisi akhirnya menembak mati Bahroni alias Roni, tersangka penembakan Arya. Polisi menyebut Roni melawan petugas dan mengarahkan senjata api rakitan saat penangkapan berlangsung. Sementara itu, polisi juga menembak kaki satu tersangka lain karena dianggap membahayakan aparat.

Di Jakarta, situasi serupa juga terjadi. Satgas pemburu begal Polda Metro Jaya menangkap sejumlah pelaku jambret dan curanmor. Polisi menembak kaki dua tersangka karena keduanya membawa senjata api.

Karena itu, sebagian warga merasa aparat akhirnya benar-benar hadir di tengah ketakutan masyarakat.

Negara Hukum Tidak Boleh Bergerak karena Amarah

Masalahnya, rasa takut sering membuat publik menerima tindakan ekstrem tanpa banyak pertanyaan. Ketika kejahatan meningkat, banyak orang mulai menganggap prosedur hukum terlalu lambat. Akibatnya, tindakan keras terlihat lebih efektif dibanding proses pengadilan.

Padahal, negara hukum justru diuji saat emosi publik memuncak.

Direktur Eksekutif LBH Bandar Lampung, Prabowo Pamungkas, mengingatkan bahwa perintah tembak di tempat berpotensi melanggar prinsip due process of law. Selain itu, Amnesty International Indonesia juga menegaskan bahwa penggunaan senjata api hanya boleh menjadi pilihan terakhir untuk melumpuhkan pelaku, bukan menghilangkan nyawa.

Karena itu, aparat wajib menjaga batas hukum dengan sangat hati-hati.

Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, juga menegaskan bahwa aparat tidak memiliki kewenangan menembak mati pelaku tanpa proses hukum, kecuali dalam kondisi mempertahankan diri dari ancaman langsung.

Saat Militer Mulai Masuk ke Jalanan

Kekhawatiran publik semakin besar setelah Kodam Jaya ikut mengerahkan batalyon tempur memburu begal di Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah menyebut pengerahan itu sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keamanan wilayah.

Namun, langkah itu memunculkan pertanyaan baru.

Banyak pihak khawatir pelibatan militer dalam penegakan hukum sipil bisa membuka ruang pelanggaran HAM. Selain itu, sejumlah pengamat juga menilai pengerahan pasukan tempur berisiko mengaburkan batas tugas TNI dan kepolisian.

Situasi ini memperlihatkan satu pola penting. Negara sering memilih pendekatan keras saat tekanan publik meningkat. Padahal, pendekatan keamanan yang terlalu agresif bisa melahirkan masalah baru di masa depan.

Ini Dampaknya untuk Kamu

Hari ini, publik mungkin merasa lega ketika polisi menembak pelaku begal. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih besar dari sekadar operasi keamanan.

Seberapa jauh negara boleh menggunakan kekerasan atas nama ketertiban?

Jika masyarakat mulai terbiasa melihat peluru sebagai solusi cepat, batas antara penegakan hukum dan penyalahgunaan kekuasaan bisa semakin tipis. Selain itu, situasi seperti ini juga bisa membuat aparat bertindak lebih agresif tanpa pengawasan yang kuat.

Keamanan memang hak semua warga. Namun, keadilan dan hak hidup juga fondasi utama negara demokrasi.

Karena itu, negara tidak boleh bergerak hanya berdasarkan kemarahan publik. Negara harus tetap berdiri di atas hukum, bahkan ketika situasi terasa paling kacau.

Sebab ketika hukum mulai kalah oleh rasa takut, yang hilang bukan cuma keamanan. Yang hilang adalah kepercayaan bahwa keadilan masih bekerja untuk semua orang. @dimas

Tags: Begal LampungHak Asasi ManusiaKeamanan PublikPenegakan HukumTembak di Tempat

Kamu Melewatkan Ini

Jaga Warga di Malioboro: Menjaga Ketertiban atau Melampaui Batas?

Jaga Warga di Malioboro: Menjaga Ketertiban atau Melampaui Batas?

by dimas
Oktober 30, 2026

Jaga Warga di Malioboro menjadi sorotan usai kericuhan. Sejauh mana batas peran, kewenangan, dan pengawasan kelompok penjaga keamanan masyarakat? Tabooo.id...

Terorisme Lingkungan: Api Membakar Hutan, Siapa yang Menikmati Keuntungannya?

Terorisme Lingkungan: Api Membakar Hutan, Siapa yang Menikmati Keuntungannya?

by teguh
Oktober 27, 2026

Ada yang kehilangan rumah ketika api melahap hutan. Ada pula warga yang harus menghirup asap, menghadapi gangguan pernapasan, dan menjalani...

Asap Belum Hilang, Sawit Sudah Tumbuh: Siapa di Baliknya?

Asap Belum Hilang, Sawit Sudah Tumbuh: Siapa di Baliknya?

by dimas
Oktober 24, 2026

Asap kebakaran belum hilang, bibit sawit mulai tumbuh di sejumlah lahan. Siapa yang menguasai kawasan dan menikmati keuntungan di baliknya?...

Next Post
Pangan Bukan Sekadar Makan: Ini Mesin Pemerataan yang Lama Dilupakan

Pangan Bukan Sekadar Makan: Ini Mesin Pemerataan yang Lama Dilupakan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id