Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Tengah Operasi Keamanan Papua, Dua Nyawa Jadi Korban

by dimas
Juli 17, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Komnas HAM menemukan dugaan pelanggaran HAM dalam kematian dua warga sipil di tengah operasi keamanan Papua. Investigasi transparan dan evaluasi pendekatan keamanan pun didesak.

Tabooo.id – Kematian seorang petani dan seorang ibu hamil di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, kembali mengingatkan publik bahwa konflik bersenjata masih membawa dampak besar bagi warga sipil. Di tengah baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata, masyarakat kembali menjadi korban. Hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pun memperkuat kekhawatiran tersebut.

Komnas HAM menemukan dugaan kuat pelanggaran hak asasi manusia dalam dua peristiwa yang menewaskan Okto Tigau, seorang petani, dan Melkina Sondegau, seorang ibu hamil. Temuan itu tidak hanya menyoroti dugaan pelanggaran hukum, tetapi juga memunculkan kembali pertanyaan mengenai efektivitas pendekatan keamanan di Papua dalam melindungi warga sipil.

Komnas HAM Soroti Pelanggaran Hak Dasar

Komnas HAM menyelidiki dua kasus kematian yang terjadi di Intan Jaya. Hasil penyelidikan menunjukkan dugaan pelanggaran terhadap sejumlah hak dasar yang konstitusi dan instrumen hak asasi manusia lindungi.

Lembaga tersebut mengidentifikasi empat hak yang kemungkinan besar para pelaku langgar selama konflik berlangsung. Keempat hak itu meliputi hak untuk hidup, hak bebas dari penyiksaan, hak memperoleh proses hukum yang adil, serta hak atas rasa aman.

Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di Papua tidak hanya mempertemukan aparat dengan kelompok bersenjata, tetapi juga terus mengancam keselamatan masyarakat sipil.

Ini Belum Selesai

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kasus Okto Tigau Memicu Desakan Transparansi

Komnas HAM mengungkap bahwa aparat TNI sempat mengamankan Okto Tigau sebelum peristiwa nahas itu terjadi. Beberapa waktu kemudian, warga menemukan Okto dalam kondisi meninggal dunia dengan luka tembak serta sejumlah tanda kekerasan di tubuhnya.

Rangkaian peristiwa itu memunculkan pertanyaan mengenai prosedur penanganan terhadap warga sipil selama operasi keamanan berlangsung. Karena itu, Komnas HAM meminta aparat membuka proses penyelidikan secara transparan agar publik dapat mengetahui seluruh fakta secara objektif.

Transparansi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan aparat menegakkan hukum tanpa intervensi.

Melkina Sondegau Tewas Saat Berlindung

Melkina Sondegau meninggal ketika berada di dalam honai saat kontak senjata pecah di wilayah tersebut. Peristiwa itu menunjukkan bahwa konflik bersenjata terus mempersempit ruang aman bagi warga sipil.

Kematian perempuan yang sedang mengandung tersebut menambah daftar panjang korban sipil di Papua. Peristiwa itu juga memperkuat desakan agar seluruh pihak mengutamakan perlindungan warga dalam setiap operasi keamanan.

Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi

Konflik yang terus berulang tidak hanya merenggut korban jiwa. Komnas HAM mencatat sekitar 3.000 warga harus meninggalkan rumah mereka karena situasi keamanan terus memburuk.

Gelombang pengungsian itu memicu berbagai persoalan kemanusiaan. Banyak keluarga kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, dan kebutuhan pangan.

Karena itu, Komnas HAM meminta pemerintah segera menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada seluruh warga yang mengungsi serta memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.

Komnas HAM Desak Evaluasi Pendekatan Keamanan

Selain meminta penyelidikan yang transparan, Komnas HAM juga mendesak pemerintah mengevaluasi pendekatan keamanan di Papua. Lembaga tersebut menilai perlindungan hak asasi manusia harus menjadi bagian utama dalam setiap kebijakan penanganan konflik.

Pemerintah perlu segera mengevaluasi strategi keamanan agar operasi di lapangan tidak meningkatkan risiko jatuhnya korban sipil. Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu memperkuat dialog, penegakan hukum, dan pendekatan kemanusiaan sebagai bagian dari penyelesaian konflik.

TNI Sampaikan Penjelasan

TNI menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Institusi tersebut juga menjelaskan bahwa prajurit telah berupaya menghindari jatuhnya korban sipil dengan tidak membalas tembakan pada situasi tertentu.

Selain itu, TNI menyebut aktivitas kelompok bersenjata menjadi faktor yang memperumit situasi keamanan di wilayah konflik. Namun, perbedaan keterangan antara hasil investigasi Komnas HAM dan penjelasan aparat menunjukkan pentingnya penyelidikan yang independen, transparan, dan akuntabel.

Perlindungan Warga Sipil Menjadi Ujian Negara

Kasus di Intan Jaya kembali menunjukkan bahwa konflik Papua tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan. Konflik tersebut juga menyangkut perlindungan hak hidup, rasa aman, dan martabat setiap warga negara.

Setiap korban sipil mendorong negara untuk mencari penyelesaian yang tidak hanya mengandalkan operasi bersenjata. Negara juga perlu memperkuat transparansi, akuntabilitas, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta dialog yang berkelanjutan agar Papua tidak terus menghadirkan luka baru bagi masyarakat sipil. @dimas

Tags: Hak Asasi ManusiaKomnas HAMOperasi KeamananpapuaPelanggaran HAMWarga Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

by dimas
Juli 17, 2026

Aksi Kamisan memanfaatkan Hari Keadilan Internasional untuk kembali menagih janji negara dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat dan mengakhiri impunitas di...

Hari Kepercayaan Sudah Ada, Mengapa Hak Penghayat Belum Setara?

Hari Kepercayaan Sudah Ada, Mengapa Hak Penghayat Belum Setara?

by dimas
Juli 15, 2026

Pengakuan negara terhadap penghayat kepercayaan terus menguat, tetapi diskriminasi dan ketimpangan hak kewargaan masih membayangi kehidupan mereka. Tabooo.id - Ada...

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

by dimas
Juli 13, 2026

Legislator tidak cukup menjadi pembuat norma. Hukum membutuhkan arsitek kemanusiaan agar setiap undang-undang benar-benar melindungi rakyat, bukan sekadar melayani kekuasaan....

Next Post
Rujak Cingur: Warisan Budaya yang Kehilangan Filosofi

Rujak Cingur: Warisan Budaya yang Kehilangan Filosofi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id