Selama ini, kematian identik dengan dua pilihan membakar atau mengubur. Kini teknologi menghadirkan jalur ketiga yang mulai dilirik banyak orang mengubah jasad manusia menjadi tanah subur dengan jejak karbon jauh lebih rendah. Saat dunia sibuk bicara mobil listrik dan energi hijau, industri pemakaman diam-diam ikut berubah.
Tabooo.id: Teknologi – Metode itu dikenal sebagai human composting atau pengomposan jasad manusia. Sistem ini mempercepat proses alami tubuh kembali ke tanah.
Petugas membungkus jenazah dengan kain kafan ramah lingkungan. Mereka lalu menempatkan tubuh ke kapsul logam berisi serpihan kayu, mulsa, dan bunga liar. Mesin mengalirkan oksigen secara berkala agar mikroba bekerja maksimal.
Dalam sekitar 45 hari, proses itu menghasilkan sekitar 136 kilogram tanah kaya nutrisi.
“Apa yang kami lakukan adalah mempercepat proses yang sepenuhnya alami,” kata Tom Harries, CEO Earth Funeral, dikutip CNN, dalam laporan 2026.
Kalimat itu sederhana, tetapi pesannya tajam teknologi tak selalu hadir dalam bentuk chip dan robot. Kadang, teknologi datang untuk mengubah cara manusia berpamitan.
Industri Duka Punya Jejak Karbon
Banyak orang tak sadar bahwa pemakaman juga meninggalkan beban ekologis.
Kremasi membutuhkan gas alam besar untuk menyalakan tungku bersuhu tinggi. Sementara pemakaman konvensional sering memakai formaldehida saat pembalseman. Zat kimia itu lama menuai kritik karena berdampak pada lingkungan.
Menurut Cremation Association of North America, kremasi kini mencakup sekitar 60 persen pilihan pemakaman di Amerika Serikat.
Artinya, jutaan kematian tiap tahun ikut menghasilkan emisi. Masalahnya, orang sering menghitung karbon saat hidup, tetapi lupa menghitungnya saat pergi.
Ketika Kenangan Tumbuh Jadi Bunga
Teknologi ini bukan hanya bicara angka karbon. Metode ini juga menyentuh sisi emosional keluarga.
Laura Muckenhoupt, ibu dari Miles yang meninggal di usia 22 tahun, memilih cara ini untuk putranya. Tanah hasil proses itu kini hadir di berbagai tempat.
Sebagian tanah menumbuhkan pohon markisa di Portugal. Sebagian lain menumbuhkan pakis di Hawaii. Di rumah Laura, tanah itu membantu semak mawar tumbuh subur.
“Setiap kali semak mawar itu mekar, rasanya seperti sebuah hadiah, kunjungan kecil darinya,” katanya.
Duka yang biasanya dingin, kini hadir dalam bentuk bunga.
Legal, Tapi Tetap Memicu Debat
Saat ini, praktik pengomposan jasad sudah legal di 12 negara bagian Amerika Serikat. Delapan negara bagian lain masih membahas rancangan aturan serupa.
Sebagian pihak memuji inovasi ini sebagai masa depan pemakaman hijau. Namun pihak lain mempertanyakan aspek etika, budaya, dan agama.
Wajar. Setiap teknologi baru selalu menguji tradisi lama.
Ini Bukan Soal Mati, Tapi Cara Kita Hidup
Human composting membawa pertanyaan besar jika hidup modern mengejar keberlanjutan, mengapa kematian tertinggal?
Dulu, teknologi fokus memperpanjang umur. Kini teknologi mulai membantu manusia menutup perjalanan dengan cara berbeda.
Dan mungkin, masa depan bukan hanya soal hidup lebih lama tetapi pergi dengan jejak yang lebih ringan. @teguh





