Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

LPDP Jakarta 2027: Jalan Naik Kelas atau Program Pencitraan Baru?

by teguh
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Seratus mahasiswa, dana APBD, dan janji kuliah ke luar negeri. Sekilas, rencana LPDP khusus Jakarta terdengar seperti kabar baik untuk generasi muda ibu kota. Tapi publik tetap berhak bertanya ini solusi pendidikan, atau panggung baru politik daerah?. Saat beasiswa berubah jadi simbol, warga perlu melihat siapa yang benar-benar mendapat manfaat.

Tabooo.id: Deep – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana meluncurkan program LPDP Jakarta pada 2027. Pemerintah akan memakai dana APBD untuk membiayai 100 mahasiswa kuliah ke luar negeri. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan tim Balai Kota sedang mematangkan skema bersama LPDP di bawah Kementerian Keuangan.

“Minggu ini juga ada jajaran Balai Kota merumuskan bagaimana LPDP ini bisa dilakukan dan sudah ada jalan keluar. Memang tidak bisa Jakarta secara sendiri,” ujar Pramono di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu, 20/04/2026.

Pramono menegaskan program ini akan memprioritaskan putra-putri Betawi serta pegawai BUMD dan Pemprov. Ia juga ingin membuka peluang bagi keluarga kurang mampu.

Secara politik, narasi ini terasa kuat. Ada keberpihakan lokal, ada janji mobilitas sosial, dan ada simbol modernitas sekolah ke luar negeri.

Masalahnya, simbol jauh lebih mudah dijual daripada sistem.

Ini Belum Selesai

Banjir Aceh Barat: 12 Desa Terendam, Infrastruktur Terkikis, Mitigasi Kembali Diuji

Dua Korporasi Tersangka Karhutla, Ancaman Kerusakan Hutan Berlanjut

Pendidikan atau Etalase Kekuasaan?

Indonesia sudah memiliki banyak program beasiswa. Pemerintah pusat menjalankan LPDP nasional sejak 2012. Sejumlah daerah juga menyalurkan bantuan pendidikan lewat skema masing-masing.

Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah beasiswa ini baik. Pertanyaan besarnya adalah: apa kebutuhan pendidikan Jakarta yang paling mendesak hari ini?

Jakarta masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan, biaya hidup tinggi, angka putus kuliah karena ekonomi, dan kualitas sekolah yang timpang antarwilayah. Jika pemerintah mengalokasikan APBD untuk mengirim 100 orang ke luar negeri, publik wajar menghitung berapa banyak mahasiswa lokal yang bisa kuliah dengan dana serupa.

Pakar pendidikan Prof. Arief Rachman pernah menegaskan bahwa pemerataan harus dimulai dari fondasi, bukan hanya mencetak elite baru. Menurutnya, beasiswa unggulan penting, tetapi negara tetap wajib memperkuat akses dasar.

Pesan itu relevan sekarang jangan bangun beasiswa prestise di atas ketimpangan lama.

Meritokrasi atau Privilege Baru?

Pemprov menyatakan prioritas bagi putra-putri Betawi dan pegawai BUMD atau Pemprov. Di satu sisi, publik bisa memahami afirmasi bagi warga lokal. Jakarta memang lama menekan warga asli lewat urbanisasi dan lonjakan harga tanah.

Namun kebijakan itu juga memunculkan dilema meritokrasi.

Jika pemerintah tidak membuka seleksi secara transparan, warga akan melihat program ini sebagai jalur khusus bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan. Pegawai BUMD dan birokrasi memiliki akses informasi, jaringan, serta modal sosial lebih besar daripada anak muda kampung kota yang bahkan kesulitan membayar kursus bahasa asing.

Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam B. Prasodjo, berkali-kali mengingatkan bahwa ketimpangan modern tidak hanya soal uang, tetapi juga soal akses. Mereka yang memahami sistem biasanya melaju lebih dulu.

Tanpa seleksi yang adil, beasiswa mudah berubah menjadi privilege berbalut jargon pemerataan.

Setelah Lulus, Pulang ke Mana?

Ada pertanyaan lain yang sering luput setelah kuliah di luar negeri, mereka akan pulang ke mana?

Jika Jakarta tidak menyiapkan ekosistem riset, industri kreatif, birokrasi modern, dan ruang kerja sehat, lulusan terbaik hanya membawa ijazah mahal tanpa ruang kontribusi. Banyak pemerintah bisa mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi sedikit yang siap menampung kemampuan mereka saat pulang.

Budayawan Franz Magnis-Suseno pernah mengatakan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan orang ke kampus hebat, tetapi menyiapkan manusia untuk melayani masyarakat. Artinya, ukuran sukses bukan tiket berangkat, melainkan dampak saat kembali.

Politik Suka Program yang Mudah Difoto

Mari jujur. Program beasiswa luar negeri memiliki nilai visual tinggi. Pemerintah bisa memotret pelepasan mahasiswa, menjual kisah anak kampung ke London, dan membangun narasi mimpi jadi nyata.

Sebaliknya, memperbaiki sekolah rusak, menaikkan kesejahteraan guru honorer, atau membantu ribuan mahasiswa membayar UKT jarang memberi panggung glamor.

Karena itu, publik perlu kritis. Apakah pemerintah memilih kebijakan karena paling dibutuhkan, atau karena paling mudah dipamerkan?

Ini Bukan Soal Menolak Beasiswa

Tidak ada yang salah dengan LPDP Jakarta. Yang keliru adalah jika pemerintah meluncurkan program besar tanpa peta keadilan yang jelas.

Jakarta boleh mengirim 100 anak muda ke luar negeri. Tapi ribuan lainnya masih berjuang membayar semester depan.

Kalau pendidikan hanya melahirkan poster keberhasilan, yang naik kelas mungkin citra pemerintah bukan rakyatnya. @teguh

Tags: APBDBeasiswaBudayawanguruHonorerJakartaJakarta PusatkekuasaanKesejahteraankuliahLPDPPakarPendidikanProgramSekolahSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Trotoar Jadi Parkir Liar Saat Demo, Hak Pejalan Kaki Tersingkir

Trotoar Jadi Parkir Liar Saat Demo, Hak Pejalan Kaki Tersingkir

by teguh
Oktober 29, 2026

Trotoar jadi parkir di Jalan Tanjung Karang, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menghadapi persoalan klasik kendaraan bermotor mengambil ruang...

Dua Tahun Prabowo–Gibran, 9.505 Personel Disiagakan: Hak Aspirasi Tetap Prioritas?

Dua Tahun Prabowo–Gibran, 9.505 Personel Disiagakan: Hak Aspirasi Tetap Prioritas?

by teguh
Oktober 20, 2026

Polda Metro Jaya bersama TNI menyiapkan ribuan personel untuk mengawal demonstrasi peringatan dua Tahun Prabowo-Gibran dan aktivitas publik di Jakarta....

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

by teguh
Oktober 5, 2026

Sekolah sepi bukan berarti hak pendidikan boleh ikut sepi. Di Mentarang Hulu, Kalimantan Utara, sebuah sekolah dasar hanya memiliki tiga...

Next Post
Saat Kebaya Turun ke Jalan: Kesetaraan Perempuan Diperjuangkan Lewat Budaya?

Saat Kebaya Turun ke Jalan: Kesetaraan Perempuan Diperjuangkan Lewat Budaya?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id