Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

LPDP Jakarta 2027: Jalan Naik Kelas atau Program Pencitraan Baru?

by teguh
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Seratus mahasiswa, dana APBD, dan janji kuliah ke luar negeri. Sekilas, rencana LPDP khusus Jakarta terdengar seperti kabar baik untuk generasi muda ibu kota. Tapi publik tetap berhak bertanya ini solusi pendidikan, atau panggung baru politik daerah?. Saat beasiswa berubah jadi simbol, warga perlu melihat siapa yang benar-benar mendapat manfaat.

Tabooo.id: Deep – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana meluncurkan program LPDP Jakarta pada 2027. Pemerintah akan memakai dana APBD untuk membiayai 100 mahasiswa kuliah ke luar negeri. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan tim Balai Kota sedang mematangkan skema bersama LPDP di bawah Kementerian Keuangan.

“Minggu ini juga ada jajaran Balai Kota merumuskan bagaimana LPDP ini bisa dilakukan dan sudah ada jalan keluar. Memang tidak bisa Jakarta secara sendiri,” ujar Pramono di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu, 20/04/2026.

Pramono menegaskan program ini akan memprioritaskan putra-putri Betawi serta pegawai BUMD dan Pemprov. Ia juga ingin membuka peluang bagi keluarga kurang mampu.

Secara politik, narasi ini terasa kuat. Ada keberpihakan lokal, ada janji mobilitas sosial, dan ada simbol modernitas sekolah ke luar negeri.

Masalahnya, simbol jauh lebih mudah dijual daripada sistem.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pendidikan atau Etalase Kekuasaan?

Indonesia sudah memiliki banyak program beasiswa. Pemerintah pusat menjalankan LPDP nasional sejak 2012. Sejumlah daerah juga menyalurkan bantuan pendidikan lewat skema masing-masing.

Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah beasiswa ini baik. Pertanyaan besarnya adalah: apa kebutuhan pendidikan Jakarta yang paling mendesak hari ini?

Jakarta masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan, biaya hidup tinggi, angka putus kuliah karena ekonomi, dan kualitas sekolah yang timpang antarwilayah. Jika pemerintah mengalokasikan APBD untuk mengirim 100 orang ke luar negeri, publik wajar menghitung berapa banyak mahasiswa lokal yang bisa kuliah dengan dana serupa.

Pakar pendidikan Prof. Arief Rachman pernah menegaskan bahwa pemerataan harus dimulai dari fondasi, bukan hanya mencetak elite baru. Menurutnya, beasiswa unggulan penting, tetapi negara tetap wajib memperkuat akses dasar.

Pesan itu relevan sekarang jangan bangun beasiswa prestise di atas ketimpangan lama.

Meritokrasi atau Privilege Baru?

Pemprov menyatakan prioritas bagi putra-putri Betawi dan pegawai BUMD atau Pemprov. Di satu sisi, publik bisa memahami afirmasi bagi warga lokal. Jakarta memang lama menekan warga asli lewat urbanisasi dan lonjakan harga tanah.

Namun kebijakan itu juga memunculkan dilema meritokrasi.

Jika pemerintah tidak membuka seleksi secara transparan, warga akan melihat program ini sebagai jalur khusus bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan. Pegawai BUMD dan birokrasi memiliki akses informasi, jaringan, serta modal sosial lebih besar daripada anak muda kampung kota yang bahkan kesulitan membayar kursus bahasa asing.

Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam B. Prasodjo, berkali-kali mengingatkan bahwa ketimpangan modern tidak hanya soal uang, tetapi juga soal akses. Mereka yang memahami sistem biasanya melaju lebih dulu.

Tanpa seleksi yang adil, beasiswa mudah berubah menjadi privilege berbalut jargon pemerataan.

Setelah Lulus, Pulang ke Mana?

Ada pertanyaan lain yang sering luput setelah kuliah di luar negeri, mereka akan pulang ke mana?

Jika Jakarta tidak menyiapkan ekosistem riset, industri kreatif, birokrasi modern, dan ruang kerja sehat, lulusan terbaik hanya membawa ijazah mahal tanpa ruang kontribusi. Banyak pemerintah bisa mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi sedikit yang siap menampung kemampuan mereka saat pulang.

Budayawan Franz Magnis-Suseno pernah mengatakan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan orang ke kampus hebat, tetapi menyiapkan manusia untuk melayani masyarakat. Artinya, ukuran sukses bukan tiket berangkat, melainkan dampak saat kembali.

Politik Suka Program yang Mudah Difoto

Mari jujur. Program beasiswa luar negeri memiliki nilai visual tinggi. Pemerintah bisa memotret pelepasan mahasiswa, menjual kisah anak kampung ke London, dan membangun narasi mimpi jadi nyata.

Sebaliknya, memperbaiki sekolah rusak, menaikkan kesejahteraan guru honorer, atau membantu ribuan mahasiswa membayar UKT jarang memberi panggung glamor.

Karena itu, publik perlu kritis. Apakah pemerintah memilih kebijakan karena paling dibutuhkan, atau karena paling mudah dipamerkan?

Ini Bukan Soal Menolak Beasiswa

Tidak ada yang salah dengan LPDP Jakarta. Yang keliru adalah jika pemerintah meluncurkan program besar tanpa peta keadilan yang jelas.

Jakarta boleh mengirim 100 anak muda ke luar negeri. Tapi ribuan lainnya masih berjuang membayar semester depan.

Kalau pendidikan hanya melahirkan poster keberhasilan, yang naik kelas mungkin citra pemerintah bukan rakyatnya. @teguh

Tags: APBDBeasiswaBudayawanguruHonorerJakartaJakarta PusatkekuasaanKesejahteraankuliahLPDPPakarPendidikanProgramSekolahSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

by dimas
Juni 3, 2026

Sekolah atau pabrik pekerja? Mengupas bagaimana pendidikan modern lebih menekankan kepatuhan daripada kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan dunia kerja....

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

by teguh
Juni 2, 2026

Di tengah badai ekonomi, ketegangan politik, dan masa depan Indonesia yang penuh ketidakpastian pada pertengahan 1960-an, Presiden Soekarno mengambil langkah...

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

by teguh
Juni 1, 2026

Jakarta memiliki banyak bangunan yang menjulang tinggi. Sebagian menjadi simbol kekuasaan. Lainnya tumbuh sebagai pusat ekonomi dan aktivitas masyarakat. Namun...

Next Post
Saat Kebaya Turun ke Jalan: Kesetaraan Perempuan Diperjuangkan Lewat Budaya?

Saat Kebaya Turun ke Jalan: Kesetaraan Perempuan Diperjuangkan Lewat Budaya?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id