Tabooo.id: Edge – Sri Susuhunan Pakubuwono XIII tutup usia, menutup satu bab penting dalam kisah panjang Keraton Surakarta. Sosok yang dikenal kalem namun teguh ini bukan sekadar raja ia adalah penjaga napas tradisi di tengah gempuran zaman digital.
Lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Suryadi pada 28 Juni 1948, PB XIII adalah putra tertua Pakubuwono XII. Masa kecilnya sempat diwarnai sakit-sakitan, hingga namanya diubah menjadi GRM Surya Partana sebuah doa agar kesehatan dan cahaya selalu menyertai.
Setelah wafatnya sang ayah pada 2004, ia resmi dinobatkan sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, penerus tahta ke-13 Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sejak itu, ia menjadi figur yang menenangkan: tak banyak bicara, tapi tindakannya jelas menjaga adat, membina sentono dalem, dan memastikan keraton tetap hidup di hati rakyat.
Selama lebih dari dua dekade, PB XIII menjadi simbol kesinambungan budaya Jawa di era serba cepat. Di tangannya, keraton bukan sekadar bangunan tua, tapi ruang hidup bagi seni, adat, dan spiritualitas. Ia rajin menghadiri upacara adat, bahkan hingga awal 2025 masih sempat memimpin Tingalan Dalem Jumenengan ke-21, momen terakhirnya sebagai raja.
Dikenal bijak dan lembut, PB XIII juga sosok keluarga. Dari beberapa pernikahan, ia dikaruniai anak-anak yang kini menjadi penerus darah biru Mataram Surakarta. Sebelum wafat, ia menegaskan arah masa depan keraton dengan menetapkan KGPH Purbaya sebagai putra mahkota pada 27 Februari 2022 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Rajaputra Narendra ing Mataram atau KGPAA Hamangkunagoro. Keputusan itu meneguhkan harapan: bahwa api budaya Jawa tak akan padam.
Kenapa ini penting buat pembaca Tabooo.id ? Karena di balik kabar duka ini, ada pesan tentang merawat akar identitas di tengah derasnya arus modernitas. PB XIII bukan hanya raja, tapi simbol bagaimana tradisi bisa tetap tegak tanpa menolak perubahan.
Kini, sang penjaga adat telah berpulang. Namun nilai yang ia tanam tentang ketenangan, kesabaran, dan cinta pada budaya masih terasa di setiap langkah gamelan dan tarian keraton.
Seberapa jauh kita rela menjaga warisan yang tak bisa diunggah ke cloud? (red)




