Tabooo.id: Regional – Bioskop biasanya jadi tempat hiburan. Tapi di Solo, film ini justru membuka luka lama.
Penonton datang untuk menonton, tapi pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Antusiasme Penonton di Dua Lokasi
Cinema visit film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? berlangsung meriah di dua titik di Kota Solo. Acara digelar di XXI Transmart dan XXI Solo Square, Surakarta, pada Senin (12/4/2026) sore.
Sejak awal pemutaran, penonton memadati studio. Mereka penasaran dengan film adaptasi dari novel best seller karya Khoirul Trian.
Kehadiran langsung sang penulis membuat suasana semakin hidup. Penonton tidak hanya menonton, tetapi juga berdialog langsung tentang makna di balik cerita.
Cerita Personal yang Jadi Kekuatan Film
Khoirul Trian mengungkapkan, cerita ini lahir dari pengalaman pribadinya. Ia tumbuh tanpa kehadiran emosional sosok ayah.
“Sebenernya karena aku juga fatherless dan orang-orang di sekitarku juga merasakan hal yang sama. Ada luka yang turun-temurun dalam keluarga. Kalau tidak disembuhkan, kita akan mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Ia menegaskan ingin memutus rantai tersebut. Menurutnya, banyak ayah hadir secara fisik, tetapi gagal hadir secara emosional.
“Kadang ayah nggak tahu caranya bilang kangen sama anaknya. Kalau ini nggak diputus, jarak itu akan terus ada,” lanjutnya.
Potret Dira dan Realita Keluarga
Film ini mengangkat kisah Dira, seorang anak perempuan yang hidup dalam keluarga yang terlihat utuh. Namun, di dalamnya ada kekosongan yang tidak terlihat.
Ayah hadir, tetapi tidak benar-benar ada.
Akibatnya, Dira tumbuh dengan kebingungan arah hidup, terutama saat keluarganya menghadapi krisis.
Cerita ini juga menyoroti bagaimana anak dipaksa dewasa terlalu cepat. Dira harus menghadapi tekanan hidup saat fondasi keluarganya mulai runtuh.
Reaksi Emosional Penonton
Sepanjang pemutaran, emosi penonton terlihat jelas. Banyak yang menangis, bahkan hingga film berakhir.
Salah satu penonton, Rina (19), mengaku sangat tersentuh.
“Aku terbawa suasana banget, sampai nangis. Filmnya relate sama kehidupan. Aku jadi makin sayang sama ayah,” ujarnya.
Respons ini menunjukkan bahwa cerita dalam film tidak terasa jauh. Justru terasa terlalu dekat.
Ini Luka yang Diulang
Ini bukan hanya soal film keluarga. Ini tentang pola yang terus berulang.
Fatherless bukan selalu berarti tanpa ayah.
Kadang, ayah ada tapi hubungan itu kosong.
Dan mungkin, tanpa sadar, banyak keluarga sedang menjalani hal yang sama.
Bukan Cerita Orang Lain
Ini dampaknya buat kamu, Film ini memaksa kita melihat ulang hubungan dengan orang tua.
Apakah selama ini kita benar-benar dekat?
Atau hanya terlihat dekat dari luar?
Ada yang Salah di Keluarga Kita
Film seperti ini jarang muncul tanpa alasan. Ada keresahan yang nyata di masyarakat.
Minimnya komunikasi emosional dalam keluarga bukan hal baru. Tapi selama ini, banyak yang memilih diam.
Dan ketika cerita ini muncul di layar lebar, reaksi publik langsung kuat. Kenapa? Karena ini bukan cerita orang lain.
Ini cerita kita.
Sampai Kapan Dibiarkan?
Kalau satu film saja bisa membuat satu ruangan menangis,
mungkin masalahnya bukan di filmnya.
Tapi di realita yang selama ini kita abaikan. @dimas







