Tabooo.id: Edge – Dulu, menelepon bukan hal sepele. Untuk berbicara dengan orang jauh, seseorang harus datang ke wartel dan menunggu giliran. Karena itu, menunggu menjadi hal yang wajar.
Sebelum smartphone ada di tangan semua orang, wartel menjadi tempat penting. Orang datang membawa nomor telepon di kertas kecil, lalu duduk dengan sabar. Sementara itu, jam dinding menjadi satu-satunya teman saat menunggu.
Tidak ada layar untuk mengisi waktu. Selain itu, tidak ada media sosial untuk mengusir bosan. Hanya antrean sederhana yang mengajarkan arti kesabaran.
Saat masuk ke bilik telepon, suasana terasa tegang. Waktu berjalan cepat, sehingga setiap detik terasa mahal. Karena alasan itu, orang belajar bicara dengan jelas dan singkat.
Ketika Segalanya Jadi Instan
Sekarang, keadaan berubah sangat cepat. Hampir semua orang memiliki ponsel pribadi, sehingga menelepon terasa sangat mudah.
Mengirim pesan hanya butuh beberapa detik. Akibatnya, antrean hampir tidak pernah ada lagi. Bahkan, banyak orang tidak pernah merasakan giliran menunggu.
Semua terasa cepat dan praktis. Namun di balik kemudahan itu, ada kebiasaan yang perlahan hilang. Bukan benda yang lenyap, melainkan rasa sabar yang makin jarang digunakan.
Kita Mulai Sulit Menunggu
Pada masa lalu, menunggu adalah bagian hidup yang biasa. Orang memahami bahwa tidak semua hal bisa terjadi dengan cepat. Karena itu, mereka terbiasa menerima proses.
Sekarang, banyak orang merasa gelisah saat harus menunggu. Misalnya, pesan yang tidak dibalas cepat sering memicu rasa kesal. Selain itu, panggilan yang tidak diangkat segera bisa menimbulkan kecurigaan.
Teknologi memang membuat hidup lebih mudah. Meski begitu, teknologi juga membuat banyak orang terbiasa ingin serba cepat. Akibatnya, keinginan untuk instan menjadi kebiasaan baru.
Kita ingin jawaban cepat dan hasil cepat. Sementara itu, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Kesabaran Tidak Bisa Diganti Teknologi
Dalam kehidupan nyata, banyak hal membutuhkan waktu. Hubungan memerlukan proses, dan kepercayaan tumbuh secara perlahan. Selain itu, kesuksesan juga tidak datang dalam satu malam.
Tidak ada aplikasi yang mampu mengganti proses itu. Bahkan teknologi tercanggih pun tidak bisa mempercepat semua hal.
Yang hilang bukan cuma wartel. Yang hilang adalah kemampuan untuk sabar.
Kemajuan teknologi memang penting. Namun demikian, kemudahan tidak berarti semua harus berlangsung cepat. Jika kesabaran hilang, manusia akan mudah marah dan cepat merasa lelah.
Pada masa lalu, wartel secara tidak langsung mengajarkan orang untuk menunggu. Sekarang, pelajaran itu hampir tidak lagi ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, masalah baru mulai muncul.
Saat Wartel Hilang, Apa Lagi yang Ikut Hilang?
Suatu hari, wartel mungkin benar-benar hilang dari jalanan. Tidak ada lagi papan sederhana yang mengingatkan masa lalu.
Namun pertanyaan yang tersisa jauh lebih penting dari sekadar bangunan.
Jika kita tidak lagi terbiasa menunggu, lalu bagaimana kita belajar menghargai sesuatu?@eko







