Prabowo membagikan 1.098 sapi kurban dari APBN senilai Rp100 miliar. Program ini memunculkan debat tentang simbol politik dan citra kekuasaan.
Tabooo.id – Di kandang-kandang peternak lokal, sapi-sapi berbobot hampir satu ton itu dirawat seperti aset berharga. Peternak memandikan sapi dua kali sehari. Dokter hewan juga rutin memeriksa kondisi ternak sebelum pengiriman.
Beberapa peternak bahkan memilih tidur di dekat kandang. Mereka menjaga sapi tetap sehat sampai hari distribusi tiba.
Namun ketika Presiden Prabowo Subianto membagikan 1.098 sapi kurban ke seluruh Indonesia pada Idul Adha 2026, cerita ini berubah menjadi lebih besar dari sekadar ibadah.
Negara ikut masuk ke dalam kandang.
APBN Masuk ke Arena Kurban
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro memastikan pemerintah membeli seluruh sapi menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah memakai skema Bantuan Kemasyarakatan Presiden untuk mendanai program tersebut.
Total anggaran yang keluar mencapai sekitar Rp100 miliar.
Angka itu langsung memancing perhatian publik. Di tengah harga pangan yang masih naik turun dan daya beli masyarakat yang belum stabil, banyak orang melihat program ini lebih dari sekadar bantuan keagamaan.
Publik mulai membaca pesan simbolik di balik distribusi sapi kurban berskala nasional itu.
Sapi Premium dan Simbol Kekuasaan
Pemerintah membeli sapi jenis premium seperti Simental, Limousin, Brahman, Belgian Blue, hingga sapi Bali. Bobot rata-rata sapi mencapai lebih dari 800 kilogram.
Pemerintah kemudian mengirim sapi-sapi itu ke provinsi, kabupaten, kota, pondok pesantren, lembaga sosial, dan tokoh masyarakat.
Di atas kertas, program ini terlihat sebagai bantuan sosial keagamaan. Namun di ruang publik digital, diskusi berkembang lebih jauh.
Mengapa negara perlu tampil sebesar ini dalam momentum kurban?
Pertanyaan itu terus muncul karena politik modern tidak hanya bergerak lewat kebijakan. Politik juga bekerja lewat citra, simbol, dan emosi publik.
Dan kurban presiden menghadirkan semuanya sekaligus.
Ada sapi raksasa, ada distribusi nasional, ada angka fantastis dan ada pesan bahwa presiden hadir langsung untuk rakyat.
Politik yang Datang Lewat Simbol
Pemimpin politik sering memakai momentum keagamaan untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Cara itu bukan hal baru.
Kurban menjadi simbol yang sangat efektif karena masyarakat langsung melihat bentuk bantuannya. Orang bisa menyentuhnya, memotretnya, bahkan membicarakannya di media sosial.
Masalahnya bukan pada ibadah kurbannya.
Masalahnya terletak pada pesan politik yang ikut berjalan bersama distribusi itu.
Negara memahami bahwa Idul Adha membawa makna pengorbanan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Karena itu, simbol kurban punya daya emosional yang kuat di tengah masyarakat.
Di era politik visual seperti sekarang, citra sering bergerak lebih cepat daripada kebijakan.
Peternak Untung, Publik Tetap Bertanya
Program ini juga memberi keuntungan besar bagi peternak lokal. Pemerintah membeli ribuan sapi langsung dari daerah. Perputaran ekonomi ikut bergerak. Harga sapi premium pun terdorong naik.
Banyak peternak menganggap program ini sebagai berkah besar menjelang Idul Adha.
Namun ironi tetap muncul.
Ketika negara mampu menggelontorkan sekitar Rp100 miliar untuk sapi kurban premium, sebagian masyarakat masih mempertanyakan lambatnya bantuan sosial rutin dan mahalnya harga kebutuhan pokok.
Di titik itu, kurban presiden berubah menjadi lebih dari ritual keagamaan.
Kurban menjadi panggung tentang bagaimana negara ingin dilihat publik.
Ini Bukan Sekadar Sapi
Program kurban nasional ini memperlihatkan satu hal penting. Kekuasaan tidak selalu hadir lewat pidato panjang atau debat parlemen.
Kadang, kekuasaan hadir lewat simbol yang terasa dekat, religius, dan emosional.
Dan di Indonesia, simbol seperti itu sering bekerja sangat efektif.
Karena itu, sapi kurban berbobot satu ton di halaman masjid kota kecil bukan hanya tentang daging yang dibagikan kepada warga.
Ia juga membawa pesan tentang cara negara membangun kedekatan dengan rakyatnya.
“Di negeri yang penuh simbol, seekor sapi bisa berbicara lebih keras daripada pidato politik.” @dimas





