Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

by dimas
Mei 27, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Tradisi Garebeg Besar Karaton Surakarta 2026 dipadati ratusan warga. Kirab gunungan jadi simbol keikhlasan, budaya, dan harapan untuk negeri.

Tabooo.id: Surakarta – Ratusan warga memadati kawasan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat hingga Masjid Ageng Karaton Surakarta, Rabu (27/5/2026) siang. Mereka datang sejak pagi untuk menyaksikan Hajad Dalem Pareden Garebeg Besar Dal 1959 dalam rangka Idul Adha 1447 Hijriah.

Suara gamelan menggema dari dalam karaton. Prajurit berkostum tradisional berdiri rapi di halaman utama. Di sisi lain, masyarakat terus berdesakan di sepanjang jalur kirab sambil menunggu gunungan keluar dari kompleks karaton.

Tradisi tahunan itu kembali menunjukkan satu hal penting. Masyarakat Jawa masih menjaga simbol budaya dan spiritual di tengah zaman yang makin gaduh.

Kirab Gunungan Padati Solo

Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, SISKS Pakoe Boewono XIV, memimpin prosesi awal di Plataran Karaton. Setelah upacara selesai, para abdi dalem membawa dua gunungan keluar dari area karaton.

Gunungan laki-laki dan gunungan perempuan lalu bergerak menuju Masjid Ageng Karaton Surakarta. Warga langsung memenuhi sisi jalan. Banyak pengunjung mengangkat ponsel untuk merekam momen sakral tersebut.

Ini Belum Selesai

Jemaah Haji Indonesia Menuju Arafah: Jutaan Langkah ke Puncak Haji

Kodam Jaya Ikut Buru Begal: Jakarta Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

Namun sebagian warga tidak sekadar datang untuk menonton. Mereka menunggu rebutan gunungan karena percaya hasil bumi itu membawa berkah dan harapan hidup.

Setibanya di Masjid Ageng, Penghulu Tafsir Anom memimpin doa bersama. Setelah doa selesai, warga langsung berebut gunungan laki-laki di halaman masjid.

Sementara itu, para abdi dalem kembali mengarak gunungan perempuan menuju Kamandungan Karaton Surakarta. Warga di kawasan tersebut kemudian ikut memperebutkan isi gunungan.

Tradisi Lama yang Tetap Hidup

Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menegaskan bahwa Garebeg Besar memadukan budaya Islam dengan budaya Jawa.

“Tradisi Garebeg telah ada sejak era Kerajaan Demak dan masih tetap dilaksanakan sampai sekarang. Dan merupakan salah satu dari 21 tradisi Karaton Surakarta yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dalam skala nasional,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Garebeg Besar mengingatkan masyarakat pada kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan keikhlasan saat menerima perintah berkurban.

“Acara Garebeg Besar merupakan budaya Islam dan budaya Jawa sehingga pada hari ini digelar Hajad Dalem Garebeg Besar yang mana merupakan campuran dari dua kebudayaan Islam dan Jawa,” ungkapnya.

Simbol Harapan di Tengah Zaman yang Ribut

Di tengah tekanan ekonomi dan suasana sosial yang sering panas, ribuan warga justru berkumpul untuk memperebutkan hasil bumi sederhana dari gunungan.

Pemandangan itu terasa simbolis. Banyak orang mengejar kekuasaan dan keuntungan. Namun masyarakat kecil tetap mencari berkah lewat tradisi dan doa.

Pakoe Boewono XIV juga memanjatkan doa untuk Indonesia. Ia berharap bangsa ini tetap hidup dalam suasana ayem dan tentrem.

“Beliau juga menyampaikan doa dan harapan agar bangsa ini bisa ayem, tentrem, damai bukan hanya bangsanya, bukan hanya pemimpinnya, tapi masyarakatnya, alamnya,” kata Dipokusumo.

Tradisi Garebeg Besar tahun ini berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun suasananya tetap membawa pesan kuat tentang identitas, kebersamaan, dan ingatan budaya.

Ini bukan sekadar kirab gunungan. Tradisi ini menjadi cara masyarakat menjaga akar budaya di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Dan di Solo, ribuan orang masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. @dimas

Tags: Budaya Jawa IslamGarebeg Besar Surakartaidul adha 2026Karaton Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Saat Idul Adha 2026 Jadi Momentum Persatuan Umat Muslim

Saat Idul Adha 2026 Jadi Momentum Persatuan Umat Muslim

by Waras
Mei 25, 2026

Pemerintah dan Muhammadiyah akhirnya menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di tanggal yang sama: Rabu, 27 Mei 2026. Setelah...

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Dewan Pers Desak Diplomsi Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Kedua, Sinyal Keras ke Iran Soal Kesepakatan Nuklir

Februari 14, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id