Tradisi Garebeg Besar Karaton Surakarta 2026 dipadati ratusan warga. Kirab gunungan jadi simbol keikhlasan, budaya, dan harapan untuk negeri.
Tabooo.id: Surakarta – Ratusan warga memadati kawasan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat hingga Masjid Ageng Karaton Surakarta, Rabu (27/5/2026) siang. Mereka datang sejak pagi untuk menyaksikan Hajad Dalem Pareden Garebeg Besar Dal 1959 dalam rangka Idul Adha 1447 Hijriah.
Suara gamelan menggema dari dalam karaton. Prajurit berkostum tradisional berdiri rapi di halaman utama. Di sisi lain, masyarakat terus berdesakan di sepanjang jalur kirab sambil menunggu gunungan keluar dari kompleks karaton.
Tradisi tahunan itu kembali menunjukkan satu hal penting. Masyarakat Jawa masih menjaga simbol budaya dan spiritual di tengah zaman yang makin gaduh.
Kirab Gunungan Padati Solo
Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, SISKS Pakoe Boewono XIV, memimpin prosesi awal di Plataran Karaton. Setelah upacara selesai, para abdi dalem membawa dua gunungan keluar dari area karaton.
Gunungan laki-laki dan gunungan perempuan lalu bergerak menuju Masjid Ageng Karaton Surakarta. Warga langsung memenuhi sisi jalan. Banyak pengunjung mengangkat ponsel untuk merekam momen sakral tersebut.
Namun sebagian warga tidak sekadar datang untuk menonton. Mereka menunggu rebutan gunungan karena percaya hasil bumi itu membawa berkah dan harapan hidup.
Setibanya di Masjid Ageng, Penghulu Tafsir Anom memimpin doa bersama. Setelah doa selesai, warga langsung berebut gunungan laki-laki di halaman masjid.
Sementara itu, para abdi dalem kembali mengarak gunungan perempuan menuju Kamandungan Karaton Surakarta. Warga di kawasan tersebut kemudian ikut memperebutkan isi gunungan.
Tradisi Lama yang Tetap Hidup
Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menegaskan bahwa Garebeg Besar memadukan budaya Islam dengan budaya Jawa.
“Tradisi Garebeg telah ada sejak era Kerajaan Demak dan masih tetap dilaksanakan sampai sekarang. Dan merupakan salah satu dari 21 tradisi Karaton Surakarta yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dalam skala nasional,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Garebeg Besar mengingatkan masyarakat pada kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan keikhlasan saat menerima perintah berkurban.
“Acara Garebeg Besar merupakan budaya Islam dan budaya Jawa sehingga pada hari ini digelar Hajad Dalem Garebeg Besar yang mana merupakan campuran dari dua kebudayaan Islam dan Jawa,” ungkapnya.
Simbol Harapan di Tengah Zaman yang Ribut
Di tengah tekanan ekonomi dan suasana sosial yang sering panas, ribuan warga justru berkumpul untuk memperebutkan hasil bumi sederhana dari gunungan.
Pemandangan itu terasa simbolis. Banyak orang mengejar kekuasaan dan keuntungan. Namun masyarakat kecil tetap mencari berkah lewat tradisi dan doa.
Pakoe Boewono XIV juga memanjatkan doa untuk Indonesia. Ia berharap bangsa ini tetap hidup dalam suasana ayem dan tentrem.
“Beliau juga menyampaikan doa dan harapan agar bangsa ini bisa ayem, tentrem, damai bukan hanya bangsanya, bukan hanya pemimpinnya, tapi masyarakatnya, alamnya,” kata Dipokusumo.
Tradisi Garebeg Besar tahun ini berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun suasananya tetap membawa pesan kuat tentang identitas, kebersamaan, dan ingatan budaya.
Ini bukan sekadar kirab gunungan. Tradisi ini menjadi cara masyarakat menjaga akar budaya di tengah dunia yang terus bergerak cepat.
Dan di Solo, ribuan orang masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. @dimas


