Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gunungan Jaler dan Estri: Simbol Kehidupan yang Masih Dijaga

by dimas
Mei 27, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Gunungan Jaler dan Estri menjadi simbol keseimbangan hidup, syukur dan harapan dalam tradisi Garebeg Besar yang terus dijaga Karaton Surakarta.

Tabooo.id – Langit siang menggantung pelan di atas Alun-alun Utara Surakarta. Matahari menyentuh pucuk tombak para prajurit keraton yang berdiri rapi di depan Masjid Agung. Di tengah kerumunan warga, suara gamelan mengalun lirih. Ribuan mata menunggu dua gunungan keluar dari dalam Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Bukan sekadar tumpukan makanan.

Bukan pula hanya ritual tahunan.

Di tangan para abdi dalem, gunungan berubah menjadi simbol tentang hidup, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Rabu (27/5/2026), Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar dalam rangka Idul Adha 1447 Hijriah. Tradisi ini menjadi bagian penting dari perayaan 10 Dzulhijah atau Hari Raya Kurban.

Ini Belum Selesai

Dakon: Permainan Kecil dengan Filosofi Besar

Kota yang Kehilangan Jiwa: Saat Sejarah Tinggal Pajangan

Ratusan warga, kerabat keraton, hingga wisatawan memadati kawasan Masjid Agung Solo untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.

Dua Gunungan dan Filosofi Kehidupan

Karaton mengarak dua gunungan utama, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri, dari dalam keraton menuju halaman Masjid Agung untuk didoakan para ulama.

Gunungan Jaler melambangkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Para abdi dalem menghiasi gunungan ini dengan hasil bumi mentah seperti cabai merah, kacang panjang, sayuran, telur asin, hingga polo kependem atau umbi-umbian.

Sementara itu, Gunungan Estri melambangkan perempuan sebagai pengelola kehidupan rumah tangga. Gunungan ini berisi makanan matang dan jajanan pasar seperti rengginang, wajik, serta aneka pangan siap saji yang menggambarkan ketekunan dan kebijaksanaan perempuan dalam mengatur hasil kehidupan.

Karaton tidak sekadar menghadirkan simbol laki-laki dan perempuan. Tradisi ini juga menyampaikan pesan tentang keseimbangan hidup.

Dalam filosofi Jawa, manusia tidak bisa hidup hanya dengan satu kekuatan. Kehidupan membutuhkan harmoni antara kerja keras dan kasih sayang, antara tenaga dan ketelatenan, antara dunia luar dan rumah yang menjaga kehidupan tetap utuh.

Sedekah Raja untuk Rakyat

Garebeg Besar juga menjadi simbol rasa syukur raja atas berkah Tuhan Yang Maha Esa. Melalui tradisi ini, keraton membagikan sedekah kepada rakyatnya.

Prosesi sakral itu bergerak perlahan menuju Masjid Agung Solo. Para prajurit keraton berjalan mengelilingi gunungan sambil menjaga jalannya arak-arakan. Setelah ulama memanjatkan doa, warga langsung memperebutkan isi gunungan.

Masyarakat percaya makanan dan hasil bumi dari gunungan membawa berkah, keselamatan, dan rezeki.

Namun di balik keramaian itu, ada makna yang jauh lebih dalam.

Yang diperebutkan warga mungkin bukan hanya sayuran atau makanan.

Mereka juga memperebutkan harapan.

Tradisi yang Melawan Zaman

Di luar pagar keraton, dunia bergerak semakin cepat. Anak muda sibuk menggulir layar ponsel. Kota tumbuh dengan baliho digital dan budaya instan. Banyak tradisi berubah menjadi sekadar latar foto media sosial.

Tetapi Garebeg Besar tetap bertahan.

Tradisi ini seperti sedang melawan lupa.

Banyak orang datang untuk mengambil gambar dan membuat video pendek. Namun tidak semua benar-benar memahami pesan yang tersimpan di balik gunungan itu.

Padahal setiap rengginang, telur asin, dan kacang panjang membawa filosofi tentang hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

Karaton Surakarta memang tidak lagi memegang kuasa politik seperti masa lalu. Meski begitu, keraton masih menjaga satu hal penting: ingatan kolektif tentang akar budaya Jawa.

Tradisi ini mengingatkan masyarakat bahwa hidup bukan hanya tentang modernitas dan teknologi. Manusia juga membutuhkan nilai, simbol, dan akar budaya agar tidak kehilangan arah.

Ketika Gunungan Menjadi Simbol Harapan

Saat warga mulai berebut isi gunungan, suasana mendadak riuh. Tangan-tangan saling menjangkau hasil bumi yang jatuh ke tanah. Sebagian warga tersenyum lega setelah membawa pulang beberapa bagian gunungan.

Di tengah keramaian itu, Garebeg Besar menunjukkan satu kenyataan sederhana manusia selalu membutuhkan harapan untuk bertahan hidup.

Dan kadang, di tengah dunia yang terlalu bising, tradisi menjadi cara terakhir manusia mendengar dirinya sendiri.erlalu bising, tradisi adalah cara terakhir manusia mendengar dirinya sendiri. @dimas

Tags: Budaya JawaGarebeg BesarGunungan EstriGunungan Jaleridul adha 2026Karaton SurakartaTradisi Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Sapi Kurban Rp100 Miliar: Sedekah Negara atau Panggung Politik?

Sapi Kurban Rp100 Miliar: Sedekah Negara atau Panggung Politik?

by dimas
Mei 27, 2026

Prabowo membagikan 1.098 sapi kurban dari APBN senilai Rp100 miliar. Program ini memunculkan debat tentang simbol politik dan citra kekuasaan....

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

by dimas
Mei 27, 2026

Tradisi Garebeg Besar Karaton Surakarta 2026 dipadati ratusan warga. Kirab gunungan jadi simbol keikhlasan, budaya, dan harapan untuk negeri. Tabooo.id:...

Saat Idul Adha 2026 Jadi Momentum Persatuan Umat Muslim

Saat Idul Adha 2026 Jadi Momentum Persatuan Umat Muslim

by Waras
Mei 25, 2026

Pemerintah dan Muhammadiyah akhirnya menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di tanggal yang sama: Rabu, 27 Mei 2026. Setelah...

Next Post
Bersih Desa: Tradisi Lama yang Masih Menyelamatkan Rasa Peduli

Bersih Desa: Tradisi Lama yang Masih Menyelamatkan Rasa Peduli

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Kedua, Sinyal Keras ke Iran Soal Kesepakatan Nuklir

Februari 14, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id