Gunungan Jaler dan Estri menjadi simbol keseimbangan hidup, syukur dan harapan dalam tradisi Garebeg Besar yang terus dijaga Karaton Surakarta.
Tabooo.id – Langit siang menggantung pelan di atas Alun-alun Utara Surakarta. Matahari menyentuh pucuk tombak para prajurit keraton yang berdiri rapi di depan Masjid Agung. Di tengah kerumunan warga, suara gamelan mengalun lirih. Ribuan mata menunggu dua gunungan keluar dari dalam Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Bukan sekadar tumpukan makanan.
Bukan pula hanya ritual tahunan.
Di tangan para abdi dalem, gunungan berubah menjadi simbol tentang hidup, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Rabu (27/5/2026), Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar dalam rangka Idul Adha 1447 Hijriah. Tradisi ini menjadi bagian penting dari perayaan 10 Dzulhijah atau Hari Raya Kurban.
Ratusan warga, kerabat keraton, hingga wisatawan memadati kawasan Masjid Agung Solo untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.
Dua Gunungan dan Filosofi Kehidupan
Karaton mengarak dua gunungan utama, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri, dari dalam keraton menuju halaman Masjid Agung untuk didoakan para ulama.
Gunungan Jaler melambangkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Para abdi dalem menghiasi gunungan ini dengan hasil bumi mentah seperti cabai merah, kacang panjang, sayuran, telur asin, hingga polo kependem atau umbi-umbian.
Sementara itu, Gunungan Estri melambangkan perempuan sebagai pengelola kehidupan rumah tangga. Gunungan ini berisi makanan matang dan jajanan pasar seperti rengginang, wajik, serta aneka pangan siap saji yang menggambarkan ketekunan dan kebijaksanaan perempuan dalam mengatur hasil kehidupan.
Karaton tidak sekadar menghadirkan simbol laki-laki dan perempuan. Tradisi ini juga menyampaikan pesan tentang keseimbangan hidup.
Dalam filosofi Jawa, manusia tidak bisa hidup hanya dengan satu kekuatan. Kehidupan membutuhkan harmoni antara kerja keras dan kasih sayang, antara tenaga dan ketelatenan, antara dunia luar dan rumah yang menjaga kehidupan tetap utuh.
Sedekah Raja untuk Rakyat
Garebeg Besar juga menjadi simbol rasa syukur raja atas berkah Tuhan Yang Maha Esa. Melalui tradisi ini, keraton membagikan sedekah kepada rakyatnya.
Prosesi sakral itu bergerak perlahan menuju Masjid Agung Solo. Para prajurit keraton berjalan mengelilingi gunungan sambil menjaga jalannya arak-arakan. Setelah ulama memanjatkan doa, warga langsung memperebutkan isi gunungan.
Masyarakat percaya makanan dan hasil bumi dari gunungan membawa berkah, keselamatan, dan rezeki.
Namun di balik keramaian itu, ada makna yang jauh lebih dalam.
Yang diperebutkan warga mungkin bukan hanya sayuran atau makanan.
Mereka juga memperebutkan harapan.
Tradisi yang Melawan Zaman
Di luar pagar keraton, dunia bergerak semakin cepat. Anak muda sibuk menggulir layar ponsel. Kota tumbuh dengan baliho digital dan budaya instan. Banyak tradisi berubah menjadi sekadar latar foto media sosial.
Tetapi Garebeg Besar tetap bertahan.
Tradisi ini seperti sedang melawan lupa.
Banyak orang datang untuk mengambil gambar dan membuat video pendek. Namun tidak semua benar-benar memahami pesan yang tersimpan di balik gunungan itu.
Padahal setiap rengginang, telur asin, dan kacang panjang membawa filosofi tentang hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.
Karaton Surakarta memang tidak lagi memegang kuasa politik seperti masa lalu. Meski begitu, keraton masih menjaga satu hal penting: ingatan kolektif tentang akar budaya Jawa.
Tradisi ini mengingatkan masyarakat bahwa hidup bukan hanya tentang modernitas dan teknologi. Manusia juga membutuhkan nilai, simbol, dan akar budaya agar tidak kehilangan arah.
Ketika Gunungan Menjadi Simbol Harapan
Saat warga mulai berebut isi gunungan, suasana mendadak riuh. Tangan-tangan saling menjangkau hasil bumi yang jatuh ke tanah. Sebagian warga tersenyum lega setelah membawa pulang beberapa bagian gunungan.
Di tengah keramaian itu, Garebeg Besar menunjukkan satu kenyataan sederhana manusia selalu membutuhkan harapan untuk bertahan hidup.
Dan kadang, di tengah dunia yang terlalu bising, tradisi menjadi cara terakhir manusia mendengar dirinya sendiri.erlalu bising, tradisi adalah cara terakhir manusia mendengar dirinya sendiri. @dimas





