Nganglang Desa Winongo mengajarkan bahwa menjaga batas wilayah bukan sekadar tradisi, tetapi cara merawat sejarah, spiritualitas, dan identitas kampung.
Tabooo.id – Malam perlahan menyelimuti Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Kamis (9/7/2026). Ratusan warga melangkah keluar dari halaman kantor kelurahan. Mereka tidak membawa obor. mereka juga tidak menggelar pesta rakyat, mereka hanya membawa langkah, doa, dan keheningan.
Tidak ada musik yang memecah malam. Tidak ada sorak-sorai yang mengiringi perjalanan. Warga justru memilih topo bisu. Mereka berjalan tanpa percakapan, sementara lantunan wirid mengalun pelan mengikuti setiap pijakan kaki.
Di tengah zaman yang sibuk memperluas dunia digital, masyarakat Winongo memilih menyusuri batas yang paling nyata: batas kampungnya sendiri.
Masyarakat mengenal perjalanan itu sebagai Nganglang Desa, salah satu prosesi sakral dalam rangkaian Bersih Desa Winongo 2026.
Sekilas, kegiatan tersebut tampak seperti berjalan kaki mengelilingi wilayah kelurahan. Namun, warga Winongo memaknainya jauh lebih dalam. Mereka tidak sekadar mengukur jarak. Mereka sedang merawat ingatan, menghormati para leluhur, sekaligus menjaga hubungan manusia dengan ruang yang telah mereka warisi selama puluhan tahun.
Malam itu juga menjadi penutup rangkaian Bersih Desa yang sebelumnya menghadirkan kerja bakti, kirab budaya, hingga doa bersama lintas agama. Setelah merayakan keberagaman, masyarakat memilih menutup seluruh rangkaian dengan perjalanan sunyi menyusuri tapal batas kampung.
Rombongan memulai perjalanan dari Kantor Kelurahan Winongo. Mereka berjalan menuju batas-batas terluar wilayah, lalu kembali ke titik awal. Meski rutenya membentuk lingkaran, perjalanan itu sesungguhnya menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Menjaga Batas yang Tidak Selalu Tampak
Ketua Kawista Winongo, Agus Wijanarko, menjelaskan bahwa Nganglang Desa tidak hanya bertujuan mengenali batas administratif kelurahan.
Tradisi itu juga mengandung makna spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, Nganglang Desa dilakukan untuk menandai batas-batas terluar Kelurahan Winongo secara fisik. Tetapi secara nonfisik, secara esoteris, kita juga menyelaraskan energi yang ada di tempat kita dengan energi di luar Winongo. Harapannya, Winongo menjadi wilayah yang gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.
Bagi masyarakat Jawa, batas wilayah bukan sekadar garis pada peta. Batas juga menyimpan sejarah, nilai spiritual, dan identitas kolektif sebuah komunitas.
Karena itu, peserta tidak hanya berjalan mengelilingi kampung. Mereka juga berhenti di sejumlah lokasi yang dipercaya sebagai jejak para sesepuh. Di setiap titik, warga melantunkan wirid, memanjatkan doa, dan menjaga keheningan sebagai bentuk penghormatan terhadap ruang yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Agus berharap generasi muda tidak sekadar hadir sebagai peserta. Ia ingin mereka memahami alasan tradisi itu tetap dijaga.
“Harapan kami, anak-anak muda ikut berjalan dan ikut memaknai setiap prosesnya, bukan hanya mengikuti acaranya,” katanya.
Ketika Budaya Menjadi Cara Merawat Masa Depan
Ketua Umum PSHW, Agus Wiyono, memandang Nganglang Desa sebagai simpul yang menyatukan seluruh rangkaian Bersih Desa Winongo.
Menurutnya, kerja bakti, kirab budaya, doa bersama, hingga Nganglang Desa bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Seluruh rangkaian membentuk satu proses panjang untuk menjaga identitas kampung.
“Kelurahan Winongo memiliki banyak rangkaian dalam Bersih Desa tahun ini. Dimulai dari kerja bakti, kirab budaya, doa bersama, kemudian malam ini Nganglang Desa. Harapannya, generasi berikutnya mau melestarikan dan mengenal budaya yang dimiliki daerahnya,” ujarnya.
Di tengah derasnya modernisasi, pelestarian budaya sering berhenti sebagai seremoni tahunan. Banyak orang mengabadikan momen melalui kamera. Namun, hanya sedikit yang benar-benar memahami alasan tradisi itu terus bertahan.
Nganglang Desa menawarkan pengalaman yang berbeda.
Tradisi ini tidak menghadirkan panggung hiburan.
Tradisi ini juga tidak mengejar kemeriahan.
Sebaliknya, masyarakat diajak mendengar keheningan, membaca ruang, dan memahami sejarah yang hidup di sepanjang perjalanan.
Menjaga Wilayah Berarti Menjaga Identitas
Mantan Lurah Winongo, Agus Prayitna, menilai kegiatan mengelilingi batas desa telah menjadi agenda rutin setiap penyelenggaraan Bersih Desa.
Baginya, perjalanan tersebut membantu masyarakat mengenali wilayah sekaligus memahami nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Nganglang Desa menjadi bagian dari upaya mengenalkan batas wilayah Kelurahan Winongo sekaligus melestarikan rangkaian Bersih Desa. Budaya ini jangan hanya menjadi formalitas, tetapi juga harus dimaknai oleh masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.
Peta memang dapat berubah. Regulasi juga bisa berganti.
Namun, identitas sebuah kampung hanya akan bertahan jika masyarakatnya terus mengenali, merawat, dan mewariskannya.
Bukan Sekadar Mengelilingi Kampung
Teknologi membuat manusia semakin mudah menemukan lokasi melalui satelit dan aplikasi digital.
Ironisnya, banyak orang justru kehilangan hubungan dengan tempat yang mereka tinggali.
Di situlah Nganglang Desa menemukan relevansinya.
Tradisi ini bukan sekadar perjalanan mengelilingi kampung.
Tradisi ini mengajak warga membaca jejak sejarah, mengenali ruang hidup, menghormati para pendahulu, dan merawat ingatan kolektif yang membentuk identitas sebuah masyarakat.
Di Winongo, menjaga batas ternyata bukan soal membatasi manusia.
Masyarakat justru menjaga agar sejarah tidak larut dalam lupa, budaya tidak berhenti menjadi tontonan, dan identitas kampung tetap hidup ketika zaman terus bergerak ke depan.
Sebab, sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh jalan, rumah, atau batas administrasi. Kampung juga dibangun oleh orang-orang yang masih bersedia berjalan pulang untuk mengingat dari mana mereka berasal. @dimas







