Sabtu, April 11, 2026
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

OTT Kepala Daerah Lagi, Kapan RUU Perampasan Aset Disahkan?

April 11, 2026
in Deep
A A
OTT Kepala Daerah Lagi, Kapan RUU Perampasan Aset Disahkan?

Ilustrasi Bupati Tulungagung yang terjaring OTT KPK pada Jumat (10/4/2026), menegaskan korupsi kepala daerah terus berulang tanpa efek jera. (Foto ilustrasi Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kasus korupsi kepala daerah kembali muncul. Lagi, dan lagi.
Penangkapan seolah bukan akhir, melainkan bagian dari siklus yang terus berulang.

Lalu, kenapa mereka tidak jera?

OTT yang Menambah Daftar Panjang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menangkap Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, dalam operasi tangkap tangan pada Jumat malam (10/4/2026).

Sehari setelahnya, Gatut langsung tiba di Gedung Merah Putih KPK untuk menjalani pemeriksaan intensif. Hingga kini, penyidik belum mengungkap detail perkara yang menjeratnya.

Meski begitu, satu hal sudah terlihat jelas: kasus ini bukan yang pertama.

BacaJuga

Indonesia Aman Saat PD III atau Ini Sekadar Narasi yang Kita Percaya?

Parkir Berbayar Tapi Tak Aman: Siapa Harus Bertanggung Jawab?

Dalam enam bulan terakhir, setidaknya tiga kepala daerah di Jawa Timur tersandung korupsi. Sebelumnya, KPK lebih dulu menangkap Wali Kota Madiun Maidi pada Januari 2026. Tak lama berselang, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko juga terjerat kasus serupa pada November 2025.

Karena itu, pola ini sulit lagi dianggap kebetulan.

Akar Masalah: Biaya Politik yang Mahal

Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Universitas Brawijaya, Prija Djatmika, menilai korupsi lahir dari keserakahan yang difasilitasi sistem, bukan sekadar kebutuhan ekonomi.

“Kalau bupati korupsi, kebanyakan karena biaya politik untuk pencalonan tinggi sehingga mereka harus mengembalikan,” ujarnya.

Saat seseorang mengeluarkan biaya besar untuk meraih jabatan, orientasi kekuasaan pun bergeser. Alih-alih melayani publik, jabatan justru berubah menjadi alat untuk mengembalikan modal.

Akibatnya, korupsi tidak lagi dianggap penyimpangan. Ia muncul sebagai konsekuensi dari sistem yang mahal.

Ini Bukan Soal Individu, Ini Soal Sistem

Banyak orang melihat penangkapan sebagai bukti hukum berjalan. Namun, di sisi lain, fakta berulang justru menunjukkan sistem belum benar-benar bekerja.

Selama biaya politik tetap tinggi dan jabatan masih bisa “dibeli”, praktik korupsi hanya akan berganti pelaku.

Jadi, persoalannya bukan sekadar siapa yang tertangkap. Persoalan utamanya adalah mengapa praktik yang sama terus terjadi.

Solusi yang Mendesak: Perampasan Aset

Prija menegaskan, hukuman penjara saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera.

“Pemidanaan tidak akan efektif tanpa perampasan aset. Cara paling efektif adalah pemiskinan,” katanya.

Karena itu, pengesahan RUU Perampasan Aset menjadi langkah penting. Melalui aturan tersebut, negara bisa menyita kekayaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan lewat mekanisme perdata.

Logikanya sederhana: jika korupsi bertujuan mencari uang, maka negara harus mengambil kembali uang itu.

Tanpa langkah tersebut, penjara hanya menjadi jeda sementara, bukan solusi akhir.

Dampaknya Buat Kamu

Korupsi kepala daerah bukan sekadar isu hukum di atas kertas. Dampaknya langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan rusak tak kunjung diperbaiki. Fasilitas kesehatan tetap minim. Sementara itu, pajak yang kamu bayar tidak kembali dalam bentuk layanan yang layak.

Dengan kata lain, korupsi mungkin terlihat jauh. Namun, dampaknya selalu dekat.

Analisis Tabooo

Selama ini, publik cenderung fokus pada penindakan. Setiap OTT dianggap kemenangan.

Namun, pertanyaan penting justru sering terlewat kenapa OTT terus terjadi?

Masalahnya bukan sekadar pada lemahnya hukuman. Masalahnya ada pada sistem yang masih memberi ruang bagi korupsi untuk tetap menguntungkan.

Selama keuntungan itu ada, praktik ini akan terus berulang.

Closing

Satu orang tertangkap, tetapi sistem tetap berjalan.

Sekarang pilihannya jelas, kita ingin terus menangkap pelaku, atau mulai membongkar akar masalahnya? @dimas

Tags: biayaIndonesiaKepala DaerahkorupsikpkottPerampasan AsetPolitikRUUSistemTulungagung

REKOMENDASI TABOOO

Prabowo Mundur dari IPSI: Pengabdian 34 Tahun atau Misi yang Belum Selesai?

Prabowo Mundur dari IPSI: Pengabdian 34 Tahun atau Misi yang Belum Selesai?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Nasional - Setiap perpisahan selalu meninggalkan jejak.Namun kali ini, yang terasa bukan hanya kehilangan, melainkan juga kegagalan yang belum...

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Check - Angka sering terlihat meyakinkan. Terlebih lagi saat infografis rapi menyertakan nama lembaga dunia. Namun, di balik itu,...

Ketidakadilan Terasa Wajar. Siapa yang Sedang Mengatur Ceritanya?

Ketidakadilan Terasa Wajar. Siapa yang Sedang Mengatur Ceritanya?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Talk - Kita merasa dunia berjalan normal.Namun, perasaan itu belum tentu datang dari realita. Bisa jadi, narasi yang terus...

Next Post
Ketika HP Jadi Pelarian, Siapa yang Benar-Benar Kita Hindari?

Ketika HP Jadi Pelarian, Siapa yang Benar-Benar Kita Hindari?

Recommended

Timbal Kuno Kapal Romawi: Barang Rongsok Apa Kunci Rahasia Alam Semesta?

Timbal Kuno Kapal Romawi: Barang Rongsok Apa Kunci Rahasia Alam Semesta?

April 5, 2026
Suhu Kawah Gunung Slamet Memanas: Radius Aman 3 Km Ditetapkan

Suhu Kawah Gunung Slamet Memanas, Ini Radius Amannya

April 5, 2026

Popular

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

April 10, 2026

Polling: Buku Apa Lagi yang Perlu Dibongkar?

April 11, 2026

Siapa Ibu Sebenarnya? Teror Psikologis di Balik Legenda Malin Kundang

April 2, 2026

Kenapa Tan Malaka Menolak Dunia Gaib? – Madilog Series #1.1

April 11, 2026

Hompimpa: Permainan Anak atau Filosofi Hidup yang Kita Abaikan?

April 11, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.