Tabooo.id: Talk – Negara bergerak cepat. Namun, ke mana arah langkah itu?
Saat pemerintah menyiapkan 25.000 motor, hanya 13.000 riset yang lolos pendanaan. Karena itu, publik mulai mempertanyakan prioritas.
Motor untuk Lapangan, Riset untuk Masa Depan
Pemerintah menyiapkan 25.000 unit motor bagi petugas SPPG. Sementara itu, sekitar 13.000 proposal penelitian dosen lolos dalam skema BIMA.
Di satu sisi, kebijakan ini logis. Sebab, pelayanan publik membutuhkan kecepatan. Selain itu, distribusi program juga memerlukan mobilitas tinggi.
Namun demikian, muncul pertanyaan penting. Apakah negara sudah memberi dukungan yang cukup pada riset sebagai fondasi kebijakan?
Ketika Kampus Dituntut Berdampak
Saat ini, pemerintah terus mendorong konsep “kampus berdampak”. Artinya, universitas tidak hanya mencetak lulusan. Sebaliknya, kampus harus menghasilkan solusi nyata.
Seorang akademisi menyampaikan, “Dampak lahir dari riset yang kuat, bukan dari slogan.”
Karena itu, dosen memegang peran strategis. Mereka meneliti berbagai isu, mulai dari kemiskinan hingga tata kelola. Dengan demikian, mereka membantu negara membaca masalah secara lebih dalam.
Riset Terbatas, Ide Tertahan
Namun, angka 13.000 proposal justru membuka pertanyaan baru. Berapa total proposal yang masuk?
Jika jumlahnya jauh lebih besar, maka banyak ide tertahan. Bukan karena kualitasnya lemah, melainkan karena kuota terbatas.
Akibatnya, potensi inovasi ikut tertunda. Padahal, teori evidence based policy menegaskan bahwa kebijakan harus berbasis riset.
Ini Bukan Konflik, Ini Soal Arah
Perbandingan motor dan riset tidak menunjukkan konflik. Sebaliknya, data ini memperlihatkan arah prioritas.
Di satu sisi, negara memperkuat instrumen operasional. Namun di sisi lain, dukungan terhadap inovasi masih terbatas.
Jadi, pertanyaannya jelas. Apakah negara ingin bergerak cepat saja, atau juga ingin bergerak tepat?
Ini Dampaknya Buat Kamu
Kondisi ini berdampak langsung, meski tidak selalu terasa hari ini. Ketika riset terbatas, kebijakan berisiko meleset.
Sebaliknya, jika riset diperkuat, manfaatnya nyata. Misalnya, petani bisa mendapatkan inovasi baru. Selain itu, regulasi daerah bisa lebih akurat.
Dengan kata lain, motor menggerakkan petugas. Namun, riset mengarahkan masa depan kamu.
Analisis: Cepat Saja Tidak Cukup
Negara memang membutuhkan kecepatan. Akan tetapi, kecepatan tanpa arah bisa menimbulkan masalah baru.
Oleh karena itu, riset harus menjadi kompas. Tanpa riset, kebijakan hanya bereaksi. Dengan riset, kebijakan bisa mengantisipasi.
Kalimat yang perlu digarisbawahi, negara bisa bergerak cepat tanpa riset, tetapi tidak bisa bergerak benar tanpa riset.
Closing
Jika pemerintah serius mendorong kampus berdampak, maka riset harus menjadi pusat.
Sekarang, pilihannya ada di depan mata.
Apakah kita ingin sekadar bergerak cepat, atau benar-benar bergerak maju?







