Tabooo.id: Edge – Di zaman sekarang, jadi “hijau” itu gampang. Tinggal tanam beberapa pohon, bikin kampanye eco-friendly, lalu upload ke Instagram. Selesai. Brand naik, citra bersih.
Tapi pertanyaannya itu beneran peduli lingkungan, atau cuma peduli persepsi?
Di tengah tren “green branding” yang makin ramai, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk justru datang dengan cara yang agak beda. Gak banyak gimmick, tapi konsisten.
Selasa (07/04/2026), mereka lagi-lagi dapet Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup di TMII. Bukan yang pertama. Bukan juga yang kedua. Ini keenam kali berturut-turut sejak 2020.
Yang Satu Bangun Sistem, Yang Lain Bangun Narasi
Masalahnya, banyak perusahaan hari ini jago bikin cerita. Narasi hijau? Ada Campaign lingkungan? Ada. Video cinematic nan dramatis? Lengkap.
Tapi kata Hanif Faisol Nurofiq, realitasnya gak sesederhana itu.
“Berbagai inovasi yang dilakukan perusahaan telah berdampak langsung terhadap ketahanan lingkungan. Ini bukan sekadar penghargaan,” ujarnya, Selasa (07/04/2026).
Terjemahan bebasnya kalau dampaknya gak terasa, ya mungkin itu cuma dekorasi.
Greenwashing: Industri Baru yang Tidak Pernah Diakui
Lucunya, di era ESG, ada dua jenis perusahaan:
- Yang benar-benar mengubah sistem
- Yang cuma mengubah caption
Sido Muncul, kalau dilihat dari praktiknya, masuk kategori pertama:
- Lebih dari 90% energi dari sumber terbarukan
- Sistem zero waste, bukan sekadar jargon
- Limbah diolah, bukan disembunyikan
Sementara di luar sana? Masih banyak yang sibuk bikin laporan keberlanjutan setebal skripsi, tapi dampaknya setipis tisu.
“Ini Bukan Proyek Khusus” Katanya
Irwan Hidayat bahkan bilang ini bukan program musiman. “Menjaga lingkungan adalah bagian dari operasional kami sehari-hari. Ini bukan proyek khusus,” tegasnya, Selasa (07/04/2026).
Dan di titik ini, perbedaan mulai kelihatan jelas:
- Yang satu kerja tiap hari
- Yang satu posting tiap hari
Kelihatannya mirip. Tapi hasilnya beda jauh.
Dari Pabrik ke Desa: Antara Dampak dan Konten
Lewat program SMARTANI, mereka bahkan bawa konsep sustainability ke desa bukan buat konten, tapi buat ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Sementara di timeline kita? Masih banyak “aksi tanam pohon” yang lebih fokus ke angle kamera daripada akar tanaman.
Investor Juga Sudah Mulai Bisa Bedain
Menurut Sudharto P. Hadi, zaman sudah berubah. “Ketika ESG-nya bagus, itu menarik bagi investor. Tidak ada lagi dikotomi antara lingkungan dan ekonomi,” ujarnya.
Artinya, bahkan uang pun sekarang lebih percaya sama yang konsisten, bukan yang viral.
Jadi, Kamu Percaya yang Mana?
Di era di mana semua bisa terlihat “hijau”, yang jadi pembeda bukan warna tapi konsistensi. Karena pada akhirnya ada yang tanam pohon, ada yang tanam citra.
Kelihatannya sama-sama hijau. Tapi yang satu menyelamatkan masa depan, yang satu cuma menyelamatkan branding.Lalu, kamu masih mau percaya yang mana? @teguh







