Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kontras Idul Adha 2026: Ibadah atau Ajang Flexing?

by Waras
Mei 26, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Seekor sapi berbobot 1,1 ton dengan harga Rp115 juta kembali viral menjelang Idul Adha 2026. Di tengah ekonomi yang belum benar-benar pulih, fenomena sapi jumbo ini membuat banyak orang mulai bertanya: kurban hari ini masih soal berbagi, atau perlahan berubah jadi panggung prestise?

Tabooo.id: Setiap Idul Adha, Indonesia selalu punya dua tontonan.

Yang pertama: orang takbir keliling masjid.
Yang kedua: netizen keliling timeline melihat sapi jumbo ratusan juta rupiah.

Tahun ini, seekor sapi berbobot lebih dari 1,1 ton dengan harga sekitar Rp115 juta kembali viral. Publik terpukau. Internet bersorak. Sementara itu, banyak orang masih berdiri cukup lama di depan tukang daging sambil menghitung isi dompet.

Ironisnya, kurban yang dulu identik dengan pengorbanan kini mulai terasa seperti kompetisi siapa paling besar kemampuan ekonominya.

Saat Internet Suka yang Besar-Besar

Internet tidak pernah benar-benar tertarik pada makna.

Ini Belum Selesai

Harga Cabai Naik, Petani Sumatera Tetap Tercekik

Namanya Yakuza, Isinya Dzikir: Indonesia Memang Sulit Ditebak

Internet lebih suka sesuatu yang besar, mahal, dan bikin orang iri.

Karena itu, setiap Idul Adha datang, sapi jumbo selalu menang perhatian.

Tahun ini, sapi bernama Bruno dari Madiun ikut meramaikan jagat media sosial. Bobotnya lebih dari 1,1 ton. Harganya disebut mencapai Rp115 juta.

Netizen langsung bekerja.

Ada yang kagum. Ada yang bercanda. Dan ada juga yang langsung menghitung:

“Rp115 juta bisa buat beli berapa motor?”
“Ini sapi apa cicilan rumah?”
“Daging sekilo aja sekarang bikin mikir.”

Dan lucunya, komentar terakhir terasa paling dekat dengan realitas banyak orang.

Kurban Perlahan Jadi Arena Flexing Nasional

Dulu orang bertanya:
“Dagingnya dibagi ke mana?”

Sekarang pertanyaannya berubah:
“Berapa ton sapinya?”
“Punya siapa?”
“Harganya berapa?”

Media sosial mengubah hampir semua hal menjadi panggung performa, termasuk ibadah.

Semakin besar hewan kurban, semakin besar juga validasi sosial yang datang. Kamera menyorot sapi. Konten masuk FYP. Nama pembeli ikut naik.

Kurban perlahan berubah dari ritual spiritual menjadi simbol status yang dipertontonkan ramai-ramai.

Dan internet menyukai itu.

Rakyat Lagi Ngirit, Tapi Timeline Penuh Kemewahan

Masalahnya, realitas ekonomi hari ini tidak seindah konten viral.

Harga kebutuhan pokok masih naik turun. Banyak keluarga masih menahan pengeluaran. Sebagian orang bahkan harus berpikir dua kali hanya untuk membeli daging biasa.

Namun di saat yang sama, timeline justru penuh video sapi premium dengan harga fantastis.

Kontras itu terasa terlalu terang untuk diabaikan.

Di satu sisi, ada orang yang mampu membeli sapi seharga mobil mewah. Di sisi lain, banyak orang masih menghitung cicilan, tagihan listrik, dan harga beras sebelum tidur.

Hari raya akhirnya bukan cuma memperlihatkan kebersamaan. Hari raya juga memperlihatkan jarak sosial yang makin kelihatan jelas.

Internet Membuat Semua Hal Jadi Kompetitif

Media sosial punya satu kemampuan berbahaya: mengubah ibadah menjadi perlombaan visual.

Orang tidak lagi cukup merasa ikhlas. Orang juga ingin terlihat ikhlas.

Karena itu, sapi jumbo bukan cuma hewan kurban. Ia sudah berubah menjadi simbol citra sosial.

Semakin besar ukurannya, semakin besar juga perhatian publiknya.

Ironisnya, semangat berbagi justru kadang tenggelam di balik angka, kamera, dan kebutuhan tampil di internet.

Kita hidup di zaman ketika pengorbanan pun bisa berubah jadi konten engagement.

Fakta Hari Ini Tentang Budaya Pamer

Tidak ada yang salah dengan membeli sapi mahal. Tidak ada juga yang salah ketika peternak lokal mendapat keuntungan besar dari sapi premium.

Masalahnya muncul ketika budaya kurban mulai terasa seperti arena pembuktian status sosial.

Orang akhirnya lebih sibuk melihat nominal daripada nilai.

Lebih sibuk membahas harga sapi daripada siapa yang benar-benar membutuhkan daging kurban.

Dan mungkin, itu sebabnya banyak orang mulai merasa asing dengan makna Idul Adha hari ini.

Kurban seharusnya mengajarkan manusia cara mengalahkan ego.

Tapi internet selalu punya bakat aneh: mengubah pengorbanan menjadi pertunjukan.

Dan di negeri yang rakyatnya masih sering menghitung harga cabai sebelum belanja, sapi Rp115 juta memang terlihat terlalu nyaring untuk dianggap biasa. @waras

Tags: Ekonomi Rakyatharga sapi kurbankurban eliteprestise sosialsapi jumbo

Kamu Melewatkan Ini

Lampu Malioboro Terang, Tapi Kenapa Empati Terlihat Redup?

Lampu Malioboro Terang, Tapi Kenapa Empati Terlihat Redup?

by teguh
Mei 26, 2026

Kenapa kita justru merasa tenang saat kota mulai kosong? Apakah malam memang membawa kedamaian, atau sebenarnya kita hanya lelah menghadapi...

Idul Adha Modern: Makna Berbagi yang Dibungkus Prestise

Idul Adha Modern: Makna Berbagi yang Dibungkus Prestise

by Waras
Mei 25, 2026

Dulu, kurban terasa sederhana. Orang datang ke lapangan desa, melihat sapi diikat di bawah pohon, lalu pulang membawa daging dalam...

Malioboro Tak Pernah Tidur, Siapa yang Masih Harus Bertahan Hidup?

Malioboro Tak Pernah Tidur, Siapa yang Masih Harus Bertahan Hidup?

by teguh
Mei 21, 2026

Kalimat dari intelektual Indonesia, Soedjatmoko, terasa seperti gema yang pelan-pelan hidup di trotoar Malioboro ketika malam mulai menggulung keramaian. Sebab...

Next Post
Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id