Tabooo.id: Regional – Pagi di Halmahera Utara tak lagi sekadar rutinitas biasa. Saat sebagian warga memulai aktivitas, Gunung Dukono justru kembali “berbicara” lewat erupsi.
Letusan ini bukan yang pertama. Dan mungkin, bukan yang terakhir.
Gunung Dukono di Maluku Utara kembali mengalami erupsi pada Jumat (10/4/2026) pagi sekitar pukul 08.09 WIT. Kolom abu vulkanik terpantau menjulang hingga 1.200 meter di atas puncak gunung.
Kolom Abu Tebal Mengarah ke Timur Laut
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, Bambang Sugiono, memastikan erupsi terlihat jelas dari pos pemantauan.
“Erupsi tadi sekitar pukul 08.09 WIT dengan tinggi kolom abu teramati hingga 1.200 meter di atas puncak,” ujar Bambang.
Kolom abu berwarna putih hingga kelabu tampak cukup tebal dan bergerak condong ke arah timur laut. Data seismogram mencatat amplitudo maksimum mencapai 15 mm dengan durasi erupsi sekitar 68 detik.
Artinya, aktivitas ini bukan sekadar letusan kecil yang bisa diabaikan.
Aktivitas Menurun, Tapi Ancaman Belum Hilang
Menariknya, secara umum aktivitas vulkanik Dukono disebut mulai menurun. Namun, frekuensi letusan masih tergolong tinggi.
Status gunung setinggi 1.087 meter di atas permukaan laut itu masih berada di Level II atau Waspada.
Ini yang sering luput menurun bukan berarti aman.
Warga Diminta Tetap Waspada
Pihak berwenang mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang.
Abu vulkanik yang keluar secara periodik bisa berubah arah sewaktu-waktu, tergantung kondisi angin.
“Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap,” jelas Bambang.
Warga juga diminta menyiapkan masker guna menghindari gangguan pernapasan akibat paparan abu.
Ini Bukan Sekadar Letusan
Kalau dipikir-pikir, Dukono bukan gunung yang “tiba-tiba” aktif. Ia justru dikenal sebagai salah satu gunung paling konsisten meletus di Indonesia.
Ini bukan kejadian langka. Ini pola.
Pertanyaannya kenapa kita sering memperlakukan kejadian seperti ini sebagai sesuatu yang biasa saja?
Dampaknya Buat Kamu
Kalau kamu tinggal di sekitar wilayah rawan, ini bukan sekadar berita. Ini soal keselamatan.
Abu vulkanik bisa masuk ke paru-paru, mengganggu aktivitas, bahkan merusak pertanian. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada ekonomi lokal.
Dan yang lebih penting rasa “terbiasa” justru bisa jadi bahaya terbesar.
Analisis Ringan
Ada kecenderungan publik mulai kebal dengan berita erupsi, terutama dari gunung yang sering aktif seperti Dukono.
Padahal, justru di situlah risikonya. Ketika sesuatu terlalu sering terjadi, kita berhenti menganggapnya serius.
Ini bukan soal panik. Tapi soal kesadaran.
Penutup
Gunung Dukono sudah memberi sinyal. Lagi.
Pertanyaannya sekarang: kita benar-benar mendengarkan, atau cuma menganggapnya suara latar yang lewat begitu saja? @dimas






