Tabooo.id: Spotrs – Derbi panas Arema FC vs Persebaya Surabaya belum dimulai, tapi tensinya sudah terasa. Pertanyaannya ini soal sepak bola, atau soal ego yang sering kebablasan?
Jelang laga yang dijadwalkan 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto langsung pasang garis tegas. Rivalitas? Silakan. Tapi cukup di dalam lapangan.
“Saya tekankan kepada seluruh suporter agar menjunjung tinggi sportivitas dan tidak membawa rivalitas di luar lapangan,” ujar Nanang usai audiensi dengan Aremania dan Bonek di Mapolda Jatim, Rabu (08/04/2026).
Antusiasme Tinggi, Risiko Juga Nyata
Derbi Jatim bukan sekadar pertandingan. Ini soal identitas, kebanggaan, bahkan harga diri. Aremania dan Bonek sama-sama punya sejarah panjang dan kadang, sejarah itu tidak selalu manis.
Nanang paham betul euforia ini. Tapi dia juga tahu, euforia tanpa kontrol bisa berubah jadi chaos.
“Tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus diimbangi dengan penyelenggaraan yang profesional supaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” lanjutnya.
Artinya jelas: sepak bola bukan cuma hiburan. Ini juga soal dampak sosial dan ekonomi. Stadion penuh bisa jadi berkah atau justru bencana kalau emosi lepas kendali.
Belajar dari Luka: Kanjuruhan Bukan Sekadar Kenangan
Nama Kanjuruhan masih menyimpan trauma. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, dan semua pihak sadar kesalahan yang sama tidak boleh terulang.
Karena itu, pendekatan pengamanan kali ini bukan sekadar ketat, tapi juga humanis. Preventif, bukan reaktif.
“Kita semua berharap setiap pertandingan sepak bola di Jawa Timur ke depan dapat berjalan dengan sportif dan aman,” tegas Nanang.
Kalimat ini sederhana, tapi berat maknanya. Sepak bola seharusnya jadi ruang pelarian dari penat, bukan sumber ketakutan baru.
Suporter Bicara: Dari Rival Jadi Saudara?
Menariknya, suara damai justru datang dari akar rumput para suporter itu sendiri.
Perwakilan Bonek, Rafika, menyatakan komitmen yang cukup berani “Kami sepakat tidak ada lagi rivalitas di luar lapangan.”
Sementara dari kubu Aremania, Gozali bicara dengan nada yang lebih dalam tentang bangkit dari trauma.
“Aremania ingin bangkit dari trauma. Kami berkomitmen menjaga kondusivitas dan siap mengawal perjalanan tim Persebaya menuju Malang.”
Ini bukan sekadar pernyataan. Ini sinyal perubahan. Dari yang dulu saling curiga, menuju kemungkinan saling jaga.
Sepak Bola atau Cermin Kedewasaan?
Pada akhirnya, derbi ini bukan cuma soal skor akhir. Bukan cuma soal siapa menang dan siapa kalah. Ini soal apakah kita sudah cukup dewasa untuk mencintai tim tanpa membenci yang lain.
Karena rivalitas sejati seharusnya bikin pertandingan lebih hidup bukan bikin kehidupan jadi taruhan.
Lalu, kalau suporter saja sudah mulai bicara damai, kamu masih mau bawa emosi sampai keluar stadion?. @teguh







