Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Derbi Jatim: Kapolda Jatim Ingatkan Suporter Rivalitas di Lapangan, Bukan di Jalanan

by teguh
April 9, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Spotrs – Derbi panas Arema FC vs Persebaya Surabaya belum dimulai, tapi tensinya sudah terasa. Pertanyaannya ini soal sepak bola, atau soal ego yang sering kebablasan?

Jelang laga yang dijadwalkan 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto langsung pasang garis tegas. Rivalitas? Silakan. Tapi cukup di dalam lapangan.

“Saya tekankan kepada seluruh suporter agar menjunjung tinggi sportivitas dan tidak membawa rivalitas di luar lapangan,” ujar Nanang usai audiensi dengan Aremania dan Bonek di Mapolda Jatim, Rabu (08/04/2026).

Antusiasme Tinggi, Risiko Juga Nyata

Derbi Jatim bukan sekadar pertandingan. Ini soal identitas, kebanggaan, bahkan harga diri. Aremania dan Bonek sama-sama punya sejarah panjang dan kadang, sejarah itu tidak selalu manis.

Nanang paham betul euforia ini. Tapi dia juga tahu, euforia tanpa kontrol bisa berubah jadi chaos.

“Tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus diimbangi dengan penyelenggaraan yang profesional supaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” lanjutnya.

Artinya jelas: sepak bola bukan cuma hiburan. Ini juga soal dampak sosial dan ekonomi. Stadion penuh bisa jadi berkah atau justru bencana kalau emosi lepas kendali.

Ini Belum Selesai

Jemaah Haji Indonesia Menuju Arafah: Jutaan Langkah ke Puncak Haji

Kodam Jaya Ikut Buru Begal: Jakarta Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

Belajar dari Luka: Kanjuruhan Bukan Sekadar Kenangan

Nama Kanjuruhan masih menyimpan trauma. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, dan semua pihak sadar kesalahan yang sama tidak boleh terulang.

Karena itu, pendekatan pengamanan kali ini bukan sekadar ketat, tapi juga humanis. Preventif, bukan reaktif.

“Kita semua berharap setiap pertandingan sepak bola di Jawa Timur ke depan dapat berjalan dengan sportif dan aman,” tegas Nanang.

Kalimat ini sederhana, tapi berat maknanya. Sepak bola seharusnya jadi ruang pelarian dari penat, bukan sumber ketakutan baru.

Suporter Bicara: Dari Rival Jadi Saudara?

Menariknya, suara damai justru datang dari akar rumput para suporter itu sendiri.

Perwakilan Bonek, Rafika, menyatakan komitmen yang cukup berani “Kami sepakat tidak ada lagi rivalitas di luar lapangan.”

Sementara dari kubu Aremania, Gozali bicara dengan nada yang lebih dalam tentang bangkit dari trauma.

“Aremania ingin bangkit dari trauma. Kami berkomitmen menjaga kondusivitas dan siap mengawal perjalanan tim Persebaya menuju Malang.”

Ini bukan sekadar pernyataan. Ini sinyal perubahan. Dari yang dulu saling curiga, menuju kemungkinan saling jaga.

Sepak Bola atau Cermin Kedewasaan?

Pada akhirnya, derbi ini bukan cuma soal skor akhir. Bukan cuma soal siapa menang dan siapa kalah. Ini soal apakah kita sudah cukup dewasa untuk mencintai tim tanpa membenci yang lain.

Karena rivalitas sejati seharusnya bikin pertandingan lebih hidup bukan bikin kehidupan jadi taruhan.

Lalu, kalau suporter saja sudah mulai bicara damai, kamu masih mau bawa emosi sampai keluar stadion?. @teguh

Tags: ChaosEuforiajatimKanjuruhanPersebayaRivalitasSejarahSuporter

Kamu Melewatkan Ini

Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

by Tabooo
Mei 26, 2026

Memahami monarkisme bukan sekadar memahami raja dan istana. Ini tentang cara lama kekuasaan lahir dari darah, tradisi, simbol, agama, dan...

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? Karena realitas terus bergerak, sementara manusia terus mencoba mempertahankan sesuatu agar tetap sama. Sistem berubah,...

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

by teguh
Mei 5, 2026

Seorang aktor Indonesia berdiri tegap di sebuah frame, menggenggam celurit dengan tenang. Namun, ia tidak berada di ladang Madura. Bukan...

Next Post
Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id