Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Derbi Jatim: Kapolda Jatim Ingatkan Suporter Rivalitas di Lapangan, Bukan di Jalanan

by teguh
April 9, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Spotrs – Derbi panas Arema FC vs Persebaya Surabaya belum dimulai, tapi tensinya sudah terasa. Pertanyaannya ini soal sepak bola, atau soal ego yang sering kebablasan?

Jelang laga yang dijadwalkan 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto langsung pasang garis tegas. Rivalitas? Silakan. Tapi cukup di dalam lapangan.

“Saya tekankan kepada seluruh suporter agar menjunjung tinggi sportivitas dan tidak membawa rivalitas di luar lapangan,” ujar Nanang usai audiensi dengan Aremania dan Bonek di Mapolda Jatim, Rabu (08/04/2026).

Antusiasme Tinggi, Risiko Juga Nyata

Derbi Jatim bukan sekadar pertandingan. Ini soal identitas, kebanggaan, bahkan harga diri. Aremania dan Bonek sama-sama punya sejarah panjang dan kadang, sejarah itu tidak selalu manis.

Nanang paham betul euforia ini. Tapi dia juga tahu, euforia tanpa kontrol bisa berubah jadi chaos.

“Tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus diimbangi dengan penyelenggaraan yang profesional supaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” lanjutnya.

Artinya jelas: sepak bola bukan cuma hiburan. Ini juga soal dampak sosial dan ekonomi. Stadion penuh bisa jadi berkah atau justru bencana kalau emosi lepas kendali.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Belajar dari Luka: Kanjuruhan Bukan Sekadar Kenangan

Nama Kanjuruhan masih menyimpan trauma. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, dan semua pihak sadar kesalahan yang sama tidak boleh terulang.

Karena itu, pendekatan pengamanan kali ini bukan sekadar ketat, tapi juga humanis. Preventif, bukan reaktif.

“Kita semua berharap setiap pertandingan sepak bola di Jawa Timur ke depan dapat berjalan dengan sportif dan aman,” tegas Nanang.

Kalimat ini sederhana, tapi berat maknanya. Sepak bola seharusnya jadi ruang pelarian dari penat, bukan sumber ketakutan baru.

Suporter Bicara: Dari Rival Jadi Saudara?

Menariknya, suara damai justru datang dari akar rumput para suporter itu sendiri.

Perwakilan Bonek, Rafika, menyatakan komitmen yang cukup berani “Kami sepakat tidak ada lagi rivalitas di luar lapangan.”

Sementara dari kubu Aremania, Gozali bicara dengan nada yang lebih dalam tentang bangkit dari trauma.

“Aremania ingin bangkit dari trauma. Kami berkomitmen menjaga kondusivitas dan siap mengawal perjalanan tim Persebaya menuju Malang.”

Ini bukan sekadar pernyataan. Ini sinyal perubahan. Dari yang dulu saling curiga, menuju kemungkinan saling jaga.

Sepak Bola atau Cermin Kedewasaan?

Pada akhirnya, derbi ini bukan cuma soal skor akhir. Bukan cuma soal siapa menang dan siapa kalah. Ini soal apakah kita sudah cukup dewasa untuk mencintai tim tanpa membenci yang lain.

Karena rivalitas sejati seharusnya bikin pertandingan lebih hidup bukan bikin kehidupan jadi taruhan.

Lalu, kalau suporter saja sudah mulai bicara damai, kamu masih mau bawa emosi sampai keluar stadion?. @teguh

Tags: ChaosEuforiajatimKanjuruhanPersebayaRivalitasSejarahSuporter

Kamu Melewatkan Ini

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

by dimas
Juni 21, 2026

Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan...

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id