Tabooo.id: Nasional – Indonesia mulai serius pindah jalur energi. Pemerintah mendorong pembangunan 100 gigawatt listrik tenaga surya (PLTS) untuk menggantikan PLTD yang mahal dan boros. Ini bukan lagi rencana di atas kertas ini mulai bergerak. Tapi, seberapa siap kita?
Kampus Turun Tangan: Energi Jadi Urusan Bersama
Pemerintah tidak jalan sendiri. Perguruan tinggi kini ikut menyusun peta besar transisi energi nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyebut para ahli kampus sudah terlibat langsung dalam perencanaan proyek ini.
“Kemarin beberapa ahli-ahli kita dari perguruan tinggi terlibat dalam merumuskan pelaksanaan instalasi 100 Gigawatt untuk solar cell,” ujar Brian Yuliarto di Gedung Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Rabu (08/04/2026).
Ia menilai PLTS bisa menekan beban biaya listrik yang selama ini masih bergantung pada diesel.
“Untuk tahap pertama itu diharapkan bisa menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel yang memang memiliki ketergantungan masih pada solar, kemudian juga memiliki harga biaya pokok produksi (BPP) yang masih lebih tinggi,” lanjutnya.
Artinya jelas pemerintah ingin memangkas biaya mahal sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Geotermal: Kaya Sumber, Minim Pemanfaatan
Di tengah dorongan energi surya, Indonesia sebenarnya menyimpan “senjata” lain panas bumi.
Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie, menegaskan posisi Indonesia sebagai raksasa geotermal dunia.
“Indonesia mempunyai reserve geotermal nomor 2 terbesar di dunia. Bahkan menurut beberapa data itu terbesar di dunia. Sekitar 40 persen dari geotermal itu ada di Indonesia,” kata Stella. Ia juga menekankan keunggulan geotermal dibanding energi lain.
“Geotermal ini adalah sumber energi terbarukan yang paling konsisten. Kalau solar dan wind power itu tergantung dari cuacanya,” jelasnya.
Namun, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 10 persen dari total potensinya. Angka ini menunjukkan satu hal kita kaya, tapi belum maksimal memakainya.
Harga Jadi Penghalang: Energi Bersih Belum Ramah Kantong
Masalah utama bukan teknologi, tapi biaya. Stella membandingkan harga listrik dari batu bara dengan geotermal, dan selisihnya cukup jauh.
“Listrik fossil fuel dari batu bara itu sekitar 7-8 sen per kilowatt hours. Sementara geotermal itu masih sekitar 18 sen per kilowatt hours di Indonesia,” ungkapnya.
Perbedaan ini membuat energi bersih kalah cepat bersaing. Padahal, dunia mulai bergerak ke arah energi yang lebih stabil dan ramah lingkungan.
Ia juga menyoroti lonjakan kebutuhan listrik global, terutama dari data center.
“Data center di seluruh dunia membutuhkan energi listrik yang sangat besar, yang bersih dan tidak tergantung dari perubahan cuaca,” tambah Stella.
Closing: Transisi Energi Butuh Keberanian, Bukan Sekadar Rencana
Indonesia punya dua jalur mempercepat PLTS sebagai solusi cepat, dan mengembangkan geotermal sebagai kekuatan jangka panjang.
Pemerintah sudah mulai bergerak. Kampus sudah ikut terlibat. Data sudah jelas.
Sekarang tinggal satu pertanyaan kita mau benar-benar beralih, atau terus bertahan di energi lama yang mahal dan rapuh?
Karena ini bukan sekadar soal listrik ini soal masa depan yang sedang kita tentukan hari ini. @teguh







