Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

by eko
April 8, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id:Talk – Pernah nonton film tua tapi merasa“Eh, ini penting banget, tapi kenapa gue baru tau sekarang?”
Sebenarnya, Darah dan Doa itu seperti itu. Film ini bukan sekadar lama; malah, dia menandai lahirnya perfilman Indonesia modern. Tapi anehnya, banyak yang lupa atau cuek sama sejarahnya sendiri.

Sinopsis Singkat

Disutradarai Usmar Ismail dan diproduksi Perfini, film ini mengangkat kisah long march Divisi Siliwangi.
Para tentara berjalan ribuan kilometer, sementara mereka menghadapi hujan, panas, dan bahaya. Mereka menanggung rindu, takut, dan konflik moral.
Bukan sekadar aksi perang, melainkan cerita tentang loyalitas, disiplin, dan identitas bangsa.

Kenapa Ini Penting?

Film ini lahir dari keberanian lokal. Artinya, Usmar Ismail memimpin produksi dari nol, menghadapi keterbatasan teknis dan finansial.
Dia membuktikan: Indonesia bisa bikin film sendiri. Tidak perlu bergantung modal asing atau tren global.

Bayangkan, generasi sekarang terlalu nyaman dengan hiburan instan: Netflix, TikTok, YouTube. Semua cepat, semua gampang.
Oleh karena itu, sedikit refleksi: kita nonton, tapi berapa banyak yang benar-benar peduli sama sejarah perfilman lokal?
Film ini seperti alarm: apakah kita menghargai perjuangan mereka, atau cuma menikmati hiburan tanpa mikir?

Insight dari Sutradara

Seperti kata Usmar Ismail:
“Film bukan sekadar hiburan. Film adalah cara bangsa ini melihat dirinya sendiri.”

Ini Belum Selesai

Rupiah Tembus Titik Rapuh: Saat Ketakutan Pasar Jadi Kenyataan

Indonesia Makin Modern, Tapi Kenapa Keadilan Masih Terasa Mahal?

Ini penting, karena menegaskan bahwa perfilman bisa jadi cermin sosial, bukan cuma pajangan di bioskop.

Dampaknya Buat Kamu

Menonton Darah dan Doa bukan sekadar nostalgia. Sebaliknya, ini bikin kamu mikir: apa artinya menghargai karya lokal?
Apakah kita bangga sama hasil karya bangsa sendiri, atau justru cuma ikut tren global?

Film ini juga ngajak refleksi soal nilai keberanian dan disiplin. Tentara di layar itu berjalan ribuan kilometer, sementara itu kita sering mengeluh karena macet atau tugas numpuk.
Beda konteks, tapi esensinya sama: yaitu, apa yang rela kita perjuangkan untuk sesuatu yang besar?

Penilaian & Refleksi

Kalau ditanya worth it atau enggak: jelas Tabooo banget.
Bukan karena efek visualnya spektakuler, melainkan karena ide, keberanian, dan konteks sosial di balik layar.

Selain itu, generasi muda, terutama Gen Z yang terbiasa dengan sensasi instan, bisa belajar banyak.
Tentang disiplin kreatif, tentang berani bersuara melalui media, dan tentang menghargai sejarah lokal.

Penutup

Kalau Darah dan Doa terasa lambat atau kuno, jangan salahkan filmnya. Malah sebaliknya, mungkin kita yang terlalu nyaman dengan hiburan instan, sampai lupa menghargai keberanian lokal yang tulus.
Film ini bukan hanya hiburan lama. Dengan kata lain, ini cermin bangsa, dan pertanyaannya: apakah kita cukup jujur untuk melihatnya?@eko

Tags: FilmSejarahTalk

Kamu Melewatkan Ini

Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

Monarkisme: Ketika Kekuasaan Lahir dari Darah, Tradisi, dan Legitimasi

by Tabooo
Mei 26, 2026

Memahami monarkisme bukan sekadar memahami raja dan istana. Ini tentang cara lama kekuasaan lahir dari darah, tradisi, simbol, agama, dan...

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

by Naysa
Mei 12, 2026

Salridan-gil memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa berubah menjadi budaya uji nyali baru di Korea. Setelah Salmokji: Whispering Water viral, anak...

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan...

Next Post
Pembacokan di Solo: Konflik Pribadi atau Pola Kekerasan yang Terulang?

Pembacokan di Solo dan Luka Sosial yang Lebih Dalam

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

Krisis Juleha: Ketika Semua Daging Kurban Harus Cepat Selesai

Mei 27, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id