Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

by eko
April 8, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id:Talk – Pernah nonton film tua tapi merasa“Eh, ini penting banget, tapi kenapa gue baru tau sekarang?”
Sebenarnya, Darah dan Doa itu seperti itu. Film ini bukan sekadar lama; malah, dia menandai lahirnya perfilman Indonesia modern. Tapi anehnya, banyak yang lupa atau cuek sama sejarahnya sendiri.

Sinopsis Singkat

Disutradarai Usmar Ismail dan diproduksi Perfini, film ini mengangkat kisah long march Divisi Siliwangi.
Para tentara berjalan ribuan kilometer, sementara mereka menghadapi hujan, panas, dan bahaya. Mereka menanggung rindu, takut, dan konflik moral.
Bukan sekadar aksi perang, melainkan cerita tentang loyalitas, disiplin, dan identitas bangsa.

Kenapa Ini Penting?

Film ini lahir dari keberanian lokal. Artinya, Usmar Ismail memimpin produksi dari nol, menghadapi keterbatasan teknis dan finansial.
Dia membuktikan: Indonesia bisa bikin film sendiri. Tidak perlu bergantung modal asing atau tren global.

Bayangkan, generasi sekarang terlalu nyaman dengan hiburan instan: Netflix, TikTok, YouTube. Semua cepat, semua gampang.
Oleh karena itu, sedikit refleksi: kita nonton, tapi berapa banyak yang benar-benar peduli sama sejarah perfilman lokal?
Film ini seperti alarm: apakah kita menghargai perjuangan mereka, atau cuma menikmati hiburan tanpa mikir?

Insight dari Sutradara

Seperti kata Usmar Ismail:
“Film bukan sekadar hiburan. Film adalah cara bangsa ini melihat dirinya sendiri.”

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Ini penting, karena menegaskan bahwa perfilman bisa jadi cermin sosial, bukan cuma pajangan di bioskop.

Dampaknya Buat Kamu

Menonton Darah dan Doa bukan sekadar nostalgia. Sebaliknya, ini bikin kamu mikir: apa artinya menghargai karya lokal?
Apakah kita bangga sama hasil karya bangsa sendiri, atau justru cuma ikut tren global?

Film ini juga ngajak refleksi soal nilai keberanian dan disiplin. Tentara di layar itu berjalan ribuan kilometer, sementara itu kita sering mengeluh karena macet atau tugas numpuk.
Beda konteks, tapi esensinya sama: yaitu, apa yang rela kita perjuangkan untuk sesuatu yang besar?

Penilaian & Refleksi

Kalau ditanya worth it atau enggak: jelas Tabooo banget.
Bukan karena efek visualnya spektakuler, melainkan karena ide, keberanian, dan konteks sosial di balik layar.

Selain itu, generasi muda, terutama Gen Z yang terbiasa dengan sensasi instan, bisa belajar banyak.
Tentang disiplin kreatif, tentang berani bersuara melalui media, dan tentang menghargai sejarah lokal.

Penutup

Kalau Darah dan Doa terasa lambat atau kuno, jangan salahkan filmnya. Malah sebaliknya, mungkin kita yang terlalu nyaman dengan hiburan instan, sampai lupa menghargai keberanian lokal yang tulus.
Film ini bukan hanya hiburan lama. Dengan kata lain, ini cermin bangsa, dan pertanyaannya: apakah kita cukup jujur untuk melihatnya?@eko

Tags: FilmSejarahTalk

Kamu Melewatkan Ini

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

by eko
Juli 13, 2026

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di layar lebar, bahasa membentuk identitas, emosi, sekaligus cara penonton mengenal sebuah budaya. Kehadiran FOUFO...

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

by eko
Juli 11, 2026

402 Rumah Sakit Angker Korea mengadaptasi Gonjiam: Haunted Asylum dengan cerita baru, misteri ruang 402, dan sentuhan horor Korea yang...

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Next Post
Pembacokan di Solo: Konflik Pribadi atau Pola Kekerasan yang Terulang?

Pembacokan di Solo dan Luka Sosial yang Lebih Dalam

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id