Tabooo.id: Talk – Kita tumbuh dengan cerita yang sama sejak kecil, tentang “Santet”, sebuah kekuatan tak terlihat yang bisa membunuh tanpa suara. Tidak perlu senjata, tanpa meninggalkan bukti, tidak perlu hukum. Cerita itu hidup di kepala kita, diwariskan dari bisik-bisik kampung, dari pengalaman yang tidak pernah benar-benar bisa dibuktikan, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang.
Namun ketika kita melihat dunia hari ini, sesuatu terasa janggal. Koruptor masih tersenyum di layar televisi, penjahat besar masih duduk nyaman di kursi kekuasaan, dan mereka yang jelas-jelas merugikan banyak orang justru tampak paling sulit disentuh oleh “kekuatan tak terlihat” itu.
Kalau santet itu nyata, kenapa yang tumbang justru orang biasa? Kenapa yang lemah terlihat paling mudah terkena, sementara yang kuat seperti kebal terhadap apa pun?
Dunia Gaib Tidak Pernah Sederhana
Banyak orang membayangkan santet seperti senjata jarak jauh yang bekerja instan. Kirim niat, target jatuh, selesai. Tapi realitas metafisika tidak pernah sesederhana itu.
Komisaris PT Tabooo Network Indonesia, yang juga seorang Pakar Metafisika, KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro menjelaskan bahwa santet bukan sekadar aksi menyerang, melainkan interaksi energi yang sangat kompleks dan tidak tunduk pada logika linear manusia.
“Santet itu bukan tombol pembunuh. Itu intervensi energi. Dan energi tidak bekerja seperti yang kita bayangkan,” jelasnya, saat ditemui oleh Tabooo.id, Senin (06/04/2026).
Energi mengikuti pola kesadaran, kondisi batin, dan resonansi antara pengirim dan penerima. Artinya, niat jahat saja tidak cukup. Harus ada jalur yang terbuka. Harus ada kondisi yang memungkinkan energi itu “masuk”.
Di sinilah mayoritas orang salah memahami. Mereka melihat santet sebagai kekuatan mutlak, padahal ia justru sangat bergantung pada kondisi target.
Target yang Tidak Bisa Ditembus
Kanjeng Andri, sapaan akrabnya, kemudian mengungkap sebuah kasus yang menurutnya bukan kejadian tunggal, melainkan pola yang berulang.
Seorang pengusaha besar di daerah yang dikenal memiliki praktik bisnis tidak bersih pernah menjadi target santet dari berbagai pihak. Dendam pribadi, persaingan usaha, hingga konflik internal mendorong beberapa orang mencoba “menyerang” secara metafisik.
Serangan dilakukan tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Namun hasilnya tetap sama, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada sakit misterius, tidak ada kejatuhan mendadak, bahkan tidak ada perubahan signifikan dalam hidupnya.
Yang justru terjadi adalah kebalikannya. Beberapa orang yang mencoba mengirim santet mulai mengalami gangguan yang sulit dijelaskan secara medis maupun logis. Kesehatan mereka menurun, kondisi mental mereka terganggu, dan kehidupan mereka perlahan kehilangan arah.
“Energi itu tidak hilang. Kalau tidak menemukan target, dia kembali ke sumbernya,” ujarnya dengan nada tenang.
Ini bukan soal santet tidak bekerja. Ini soal energi tidak menemukan pintu masuk.
Yang Lemah Lebih Mudah Ditembus
Dalam perspektif metafisika, kekuatan bukan tentang siapa yang paling agresif, tetapi siapa yang paling stabil secara batin. Orang yang dipenuhi ketakutan, kecemasan, konflik batin, atau rasa bersalah cenderung memiliki celah dalam dirinya.
Celah itu bukan sesuatu yang terlihat secara fisik, tetapi terasa dalam pola energi. Dan di sanalah santet bisa masuk.
Sebaliknya, orang yang merasa aman, memiliki kekuasaan, tidak merasa bersalah, dan hidup dalam sistem yang melindungi mereka sering kali memiliki kondisi batin yang tertutup. Bukan karena mereka lebih baik, tetapi karena mereka tidak membuka diri terhadap rasa takut atau keraguan.
Ironisnya, kondisi inilah yang justru menjadi benteng. Bukan benteng gaib dalam arti mistis, tetapi benteng kesadaran yang membuat mereka sulit ditembus.
Akibatnya, yang paling rentan justru bukan yang paling jahat, melainkan yang paling lemah secara mental dan emosional.
Energi Bisa Berbalik Arah
Santet sering dipahami sebagai serangan satu arah, dari pengirim ke target. Namun dalam praktiknya, ia lebih mirip pantulan energi yang mengikuti jalur kesadaran.
Kanjeng Andri menceritakan contoh lain tentang seorang pria yang diliputi dendam setelah merasa dikhianati oleh rekannya. Ia mencoba mengirim santet dengan keyakinan bahwa targetnya akan hancur.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Targetnya tetap hidup normal, bahkan terlihat semakin stabil. Sementara pengirim mulai mengalami gangguan yang perlahan menggerogoti dirinya dari dalam.
Ia mulai mengalami mimpi buruk berulang, emosinya tidak stabil, dan ketakutan muncul tanpa sebab yang jelas. Kondisinya memburuk bukan karena serangan balik yang disengaja, tetapi karena energi yang ia ciptakan sendiri.
“Energi mengikuti pikiran. Kalau pikiranmu dipenuhi kebencian, yang pertama kali dihancurkan oleh energi itu adalah kamu sendiri,” jelas pendiri Indonesian Center for Esoterics and Metaphysical Studies (ICEMS) itu.
Artinya, sebelum santet itu mencapai target, ia sudah lebih dulu bekerja di dalam diri pengirim.
Dampaknya Buat Kamu
Kepercayaan terhadap santet sering memberi rasa lega yang semu. Banyak orang merasa tenang dengan berpikir bahwa keadilan akan datang dengan sendirinya melalui cara-cara gaib.
Mereka berkata, “Nanti juga kena,” atau “Ada balasannya.” Kalimat-kalimat itu terdengar menenangkan, tapi diam-diam membuat kita berhenti bertindak.
Ketika kita menggantungkan keadilan pada sesuatu yang tidak terlihat, kita perlahan kehilangan dorongan untuk memperjuangkan keadilan di dunia nyata. Kita menjadi penonton, bukan pelaku.
Dan di situlah masalah sebenarnya muncul. Sistem yang rusak tidak membutuhkan perlindungan tambahan jika masyarakatnya sudah menyerah secara mental.
Ilusi Kekuatan Kolektif
Santet, dalam banyak kasus, menjadi simbol harapan tersembunyi. Harapan bahwa ada kekuatan di luar sistem yang bisa mengoreksi ketidakadilan tanpa kita harus terlibat.
Namun menurut Kanjeng Andri, ini adalah bentuk ilusi kolektif yang berbahaya.
“Manusia ingin merasa punya kontrol. Ketika mereka tidak punya, mereka menciptakan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang bisa menggantikannya,” terang Sentana Dalem Kraton Surakarta tersebut.
Masalahnya bukan pada percaya atau tidak percaya. Masalahnya adalah ketika kepercayaan itu berubah menjadi pelarian dari kenyataan.
Karena selama kita menunggu sesuatu yang tidak terlihat untuk menyelesaikan masalah, kita tidak pernah benar-benar menghadapi akar masalah itu sendiri.
Kebenaran yang Tidak Nyaman
Kalau santet tidak menghentikan korupsi, kalau energi negatif tidak menyentuh mereka yang berkuasa, mungkin ini bukan soal santet. Melainkan tentang kenyataan yang lebih pahit. Bahwa keadilan tidak akan datang dari kegelapan, dan perubahan tidak terjadi hanya karena harapan.
Jadi pertanyaannya bukan lagi kenapa mereka tidak disantet. Tapi mesti diubah menjadi kenapa kita masih menunggu sesuatu yang tidak pernah kita perjuangkan sendiri?
“Yang paling berbahaya bukan santet. Tapi keyakinan… bahwa kita tidak perlu berbuat apa-apa,” pungkas Kanjeng Andri tegas. @yudi






